Jogja Darurat “Ledek Munyuk”

543
Aksi simpatik Hari Satwa "Tolak Topeng Monyet" di kantor Gubernur DIY, Selasa (30/01/2018). (yvesta putu sastro soendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Pertunjukan topeng monyet atau ledek munyuk semakin marak di Yogyakarta. Berdasarkan investigasi dari Animal Friends Jogja (AFJ), keberadaan topeng monyet semakin bertambah sejak 2014 silam di kota ini pasca diberlakukannya larangan pertunjukan topeng monyet di DKI Jakarta dan Jawa Barat (jabar) menyusul pada 2015 lalu.

Pada 2014, AFJ menemukan 16 kasus pertunjukan topeng monyet di Yogyakarta. Jumlah ini meningkat dua kali lipat jadi 30 kasus pada 2015.

“Sedangkan 2017 kami temukan 70 kasus pertunjukan topeng monyet di kota jogja, sleman dan bantul. Ini sangat memprihatikankan karena jogja dapat limpahan topeng monyet dari jakarta dan jawa barat yang sudah terang-terangan melarang pertunjukan topeng monyet sejak 2014 lalu,” ungkap Angelina Pane, Program Manager AFJ disela aksi simpatik Hari Satwa di kantor Gubernur DIY, Selasa (30/01/2018).

Dalam aksi itu, mereka juga menyerahkaan data laporan masyarakat mengenai aktivitas topeng monyet di DIY dan fakta-fakta terkait monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dalam praktek kekejaman topeng monyet di Indonesia kepada Gubernur DIY dan Kepala Dinas Pertanian DIY.

Tanpa adanya tindakan dari pemangku kebijakan, maka hijrah topeng monyet itu bisa membahayakan kesehatan masyarakat. Sebab selain melanggar kaidah kesejahteraan satwa, monyet ekor panjang dalam pertunjukan topeng monyet merupakan satwa liar dan Hewan Penular Rabies (HPR) yang membahayakan kesehatan masyarakat dengan penularan penyakit zoonosis.

Aktivitas topeng monyet ini juga melanggar lima prinsip kesejahteraan hewan. Dari hasil investigasi tim tersebut, monyet dilatih untuk menjadi topeng monyet selama tiga hingga enam bulan dengan kejam.

Tahap pertama, monyet harus bisa berdiri tegak karena mereka merupakan hewan yang tidak dapat berdiri tegak. Monyet-monyet tersebut dipaksa dilatih untuk dapat berdiri tegak selama tiga minggu. Leher monyet biasanya diikat dengan rantai dengan posisi berdiri tegak dan mereka digantung dalam posisi seperti ini selama 6-8 jam per harinya.

Setelahitu tahap pengenalan alat selama 2 minggu hingga 1 bulan. Monyet sering dipukul dan diikat dengan rantai sebagai isyarat atau tanda untuk mengikuti instruksi pawang topeg monyet. Berikutny tahap salto atau lompat dengan tujuan agar monyet dapat melompat atau melompati lingkaran.

Pada tahap ini leher monyet akan diikat dengan rantai, kemudian kedua tangannya diikat dan digantung di tembok. Pada tahap ini memakan waktu sekitar 10 hari-3 bulan. Hingga saat pertunjukan topeng monyet di jalanan, para pelaku topeng monyet biasa berada di area lampu merah atau berkeliling di kampung-kampung mulai dari pukul 09.00 sampai 21.00 tanpa mengenal cuaca.

“Mereka akan terus bekerja dengan membawa monyet mereka di cuaca panas, hujan, bahkan di tempat yang penuh asap knalpot dan bising,” tandasnya.

Angelina menambahkan, pertunjukan tersebut melanggar sejumlah aturan. Diantaranya KUHP Pasal 302, UU RI No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal 66 Ayat 2, UU RI No. 41 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU RI No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan Pasal 66A, Peraturan Kementan No. 95 tahun 2012 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan Pasal 83 Ayat 2 dan UU RI No. 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan pasal 6 dan 9.

“Karena itu kami berharap pengambil keputusan di provinsi DIY menghentikan aktivitas Topeng Monyet di wilayah ini,” ungkapnya.

Sementara Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko mengungkapkan akan melakukan tindakan preventif. Hal itu dilakukan agar tidak ada hewan rawan rabies dan zoonosis yang masuk ke kota yang sudah bebas rabies ini.

“Hewan yang masuk ke jogja selalu ter-record kesehatannya. Selama ini kami melarang hewan dari luar kota yang belum bebas rabies. Karena itu kami akan menindaklanjuti laporan ini,” imbuhnya.(yve)