Jogja Kekurangan Pohon Perindang, Kenapa Ditebang ?

327
Pengurus Ipkindo DIY menyampaikan paparannya Wisma Yosoputro, Kalasan, Sleman, Selasa (17/10/2017). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Beberapa waktu terakhir, pemerintah DIY melakukan penebangan pohon-pohon perindang di sejumlah kawasan. Kebijakan ini disayangkan karena DIY hingga saat ini masih kekurangan kawasan hijau.

“Tidak hanya bermanfaat dari sisi estetika, keberadaan pohon perindang di berbagai kawasan juga memberi manfaat kesehatan masyarakat,” ungkap Wakil Ketua Ikatan Penyuluh Kehutanan Indonesia (Ipkindo) DIY, Felix Tri Yuwono di Wisma Yosoputro, Kalasan, Sleman, Selasa (17/10/2017).

Menurut Felix, idealnya satu daerah memiliki sekitar 30 persen kawasan hutan dari seluruh luas daratan. Namun di DIY baru memiliki sekitar 17 persen kawasan hutan dari total daratan.

Dari jumlah itu, 5 persennya merupakan hutan milik negara dan 12 persen hutan rakyat. Untuk perluasan hutan mencapai 30 persen semakin sulit dilakukan karena banyaknya pemukiman warga.

“Pengembangan hutan negara sudah tidak bisa dilakukan, satu-satunya cara dengan menambah kawasan hutan rakya dengan penghijauan. Namun keberadaan pepohonan belum sepenuhnya disadari sebagian besar masyarakat memiliki manfaat yang besar,” tandasnya.

Baca Juga :  Reumatik Bisa Sebabkan Jari Keriting

Pensiunan Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung Kementrian Lingkungan Hidup pun menyayangkan penebangan pohon di pinggir jalan. Padahal pohon-pohon tersebut mempunyai fungsi vital bagi masyarakat.

Sebut saja sebagai fungsi pelestarian karena dapat menyegarkan udara sebagai paru-paru kota. Proses fotosintesis tanaman akan menyerap CO2 atau karbondioksida terutama dari gas buang yang dikeluarkan kendaraan bermotor.

Keberadaan pohon perindang juga menurunkan suhu kota dan menngkatkan kelembapan kota. Bahkan menjadi pemandangan alami perkotaan dan mengurangi polusi udara. Adanya pohon akan menyerap partikel timah hitam yang dikandung dari keluarnya asap knalpot sangat berbahaya, yang dapat berpengaruh pada kesehatan kerusakan fungsi otak, kanker pernafasan.

“Kalau ada perindang jalan pohon bisa menyerap butiran debu yang mengandung unsur kimia,” ungkapnya.

Namun karena penebangan pohon sudah banyak dilakukan, Felix menawarkan beberapa solusi agar masalah tersebut bisa diatasi. Diantaranya dengan penanaman sejumlah pohon yang cocok ditanam di pinggir jalan.

Baca Juga :  Pasar Tegalgondo Siap Dibangun

Pemerintah DIY maupun kabupaten/kota bisa menanam pohon Johar, Asam Belanda, Asam Jawa, Mahoni daun lebar, Kiara Payung, Angsana dan Pala. Selain itu agar akar pohon tidak merusak jalan maka proses tanam tidak dilakukan dengan sistem cangkok atau stek.

Bila hal itu dilakukan maka penanaman pohon menghasilkan akar tunggang yang bisa lurus ke bawah ke dalam tanah. Penanaman bibit pohon juga menggunakan base beton yang tidak tembus akar.

“Dengan demikian saat pohon semakin besar, akarnya tidak akan keluar namun turun menghujam ke bawah,” jelasnya.

Sementara Pegiat Kehutanan dari Ipkindo lainnya, Suharsono mengungkapkan, Bantul dan Sleman menjadi dua kabupaten di DIY yang paling banyak melakuka pemotongan pohon perindang di pinggir jalan. Seharusnya sebelum menghabiskan pohon perlu dilakukan peremajaan agar keberadaan perindang tetap ada.

“Bila tidak, ya sebaiknya dipangkas guna mengurangi dahan saja tidak perlu dipotong sampai habis. Kami kira pemerintah perlu tegas soal ini,” imbuhnya.(yve)