Jogja Menginspirasi Pengelola Desa Wisata Kebumen

164
Sarasehan desa wisata yang diselenggarakan Panitia Hari Pers Nasional (HPN) Kebumen dan Bagian Humas Pemkab  Kebumen, Selasa (13/02/2018). (nanang w hartono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Gelaran sarasehan pengembangan desa wisata yang diselenggarakan Panitia Hari Pers Nasional (HPN) Kabupaten Kebumen tahun 2018 dan Bagian Humas Pemkab  Kebumen, Selasa (13/02/2018), sangat berarti bagi pelaku desa wisata di kabupaten  ini.

Banyak inspirasi diperoleh dari  sarasehan tersebut, mulai dari angan-angan mengembangkan dan mengelola desa wisata  hingga keberlanjutan desa wisata.

Adapun  narasumber Sotya Sasongko. Dia adalah peneliti pada Pusat Studi  Pariwisata (Puspar) Universitas Gadjah Mada (UGM) serta Purwoharsono atau Ipung Kaki Langit, pengelola  Desa Wisata Kaki Langit Mangunan Bantul.

Keduanya banyak memberi inspirasi bagi pengelola desa wisata di Kebumen. Mereka menyampaikan materi yang berhubungan dengan upaya mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pengembangan desa wisata.

Sotya Sasongko yang biasa dipanggil Koko, mengungkapkan,  trend desa wisata yang berkembang akhir-akhir ini berupa tempat foto selfie.

Baca Juga :  Jumlah Keluarga Miskin Cenderung Turun

Pengelola desa wisata pun beramai-ramai membangun tempat selfie. Trend ini sangat menguntungkan pengelola desa wisata, di tengah meningkatnya  pengguna media  sosial. Foto selfie  yang diupload bisa sebagai promosi bagi desa wisata.

Ke depan mungkin  saja trend desa wisata berubah, tidak  lagi foto selfie. Pengelola desa wisata harus jeli melihat trend pariwisata.

Kalangan muda yang menjadi  pengunjung atau pasar desa wisata cukup besar jumlahnya. Kejelian pengelola desa wisata melihat trend sangat diperlukan agar desa wisata bisa  bertahan dan berkembang.

Fenomena booming desa wisata,  menurut Koko, tidak sama dengan fenomena booming wartel  atau warnet.  Desa wisata bisa berlanjut dan berganti generasi pengelola.

Meskipun, tidak semua desa wisata yang tumbuh akhir-akhir ini bisa  bertahan. Kejelian melihat trend pasar menjadi salah  satu kunci keberlanjutan desa wisata.

Baca Juga :  Monumen Brimob Saksi Sejarah Perjalanan Bangsa

“Kami ingin mengembangkan harkat dan martabat warga desa kami,“ kata Ipung Kaki Langit, soal motivasinya membangun Desa Mangunan menjadi desa wisata.

Pengembangan desa wisata Kaki Langit sejak   2015 dimulai dari angan-angan yang tinggi kemudian menjadi cita-cita hingga akhirnya terwujud Mangunan  menjadi desa wisata.

Desa wisata Mangunan bisa  berkembang seperti sekarang ini, melalui beberapa tahapan yang tidak mudah. Dari menyusun konsep, program maupun matrik pelaksanaan  program.

Semuanya didiskusikan dengan pihak terkait, khususnya pemuda Mangunan. Baru setelah itu dilaksanakan dan evaluasi. Setelah program berjalan pengelola mencari partner.

Beragam atraksi wisata ada di Mangunan hingga sekarang berkembang mulai dari wisata alam, wisata hijau, wisata kuliner, budaya,  suvenir hingga wisata edukasi. (sol)