Jogja Miliki Banyak Sesar Gempa, Tak Perlu Khawatir

342
BPBD DIY dan BMKG DIY menggelar acara Jogja Tanggap Bencana, membahas potensi bencana dan mitigasi yang harus dilakukan, Rabu (04/04/2018) sore. (rosihan anwar/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Yogyakarta tak pernah lepas dari beragam ancaman bencana alam, mulai dari gempa vulkanik Merapi, gempa tektonik atau gempa bumi dan juga ancaman tsunami.

“Hal itu tak lepas dari posisi Pulau Jawa yang berada di antara pertemuan lempeng tektonik dan juga banyaknya gunung berapi yang aktif,” kata Dr I Nyoman Sukamta,  Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIY.

Pada diskusi Yogya Tanggap Bencana, Rabu (04/04/2018) sore, di Gedung Wana Bakti Yasa, dia menyampaikan apabila dipetakan seismitas Indonesia dari 2009-2016 sangat banyak terjadi gempa.

“Ini kalau kita lihat warna merah (di peta bencana), warna merah itu gempa-gempa dangkal yang sangat berisiko, ternyata sangat banyak, apalagi di Pulau Jawa sangat banyak sekali,” katanya.

Baca Juga :  Seorang Jamaah Haji Sempat Hilang

Nyoman Sukamta menambahkan, intensitas gempa di Pulau Jawa terbilang yang paling tinggi di Indonesia. Lantas bagaimana dengan Yogyakarta sendiri? Nyoman menuturkan ada dua penyebab utama gempa bumi di Yogyakarta.

Pertama, aktifnya pertemuan lempeng di laut selatan Jawa, dan kemudian adanya sesar-sesar aktif yang cukup banyak di Yogyakarta.

“Ada sesar Opak, sesar Oya, sesar Progo dan sesar Jengkeng. Masih banyak juga sesar lainnya yang belum diidentifikasi tapi sudah pernah aktif,” tuturnya pada diskusi yang kemudian dilanjutkan acara musik solidaritas dan donasi buku itu.

Menurut Nyoman, dengan kondisi kerawanan seperti itu, masyarakat Yogyakarta tak perlu khawatir berlebihan dengan datangnya bencana yang hadir kapan pun.

Baca Juga :  Bulat Sudah, 34 DPD Desak Munaslub

“Tidak perlu khawatir, kita harus mengenal terlebih dahulu apa itu gempa bumi. Kalau kita tahu gempa bumi itu ada getaran, kemudian energi yang berjalan, maka kita harus tahu kekuatan bangunan yang kita tinggali,” ujarnya.

Keberadaan benda-benda berat di hunian masyarakat juga harus dipastikan kuat menahan getaran. “Benda-benda yang ada di dalam rumah juga harus dipastikan tidak mudah roboh kalau kena getaran, baik itu yang digantung, ditempel atau ditaruh begitu saja,” paparnya.

Hampir sama dengan gempa tektonik, Nyoman Sukamta menambahkan, bencana tsunami juga dapat diantisipasi. Masyarakat tidak perlu panik jika terjadi tsunami.

“Pokoknya pantai-pantai di Yogyakarta semua rawan tsunami lah, tapi kita tidak perlu panik,” sebut Nyoman. (sol)