Jogja pun Berlakukan 3 In 1

206
Pelatihan program 3 in 1 warga Jatimulyo, Dlingo Bantul, Kamis (20/9/2018).(istimewa)

KORANBERNAS.ID — Tak hanya Jakarta yang punya program 3 in 1. Yogyakarta pun sekarang ini menerapkan program tersebut. Namun berbeda dari Ibukota yang menerapkannya dalam pengaturan lalulintas, 3 in 1 di Yogyakarta merupakan konsep dari Pelatihan, Sertifikasi dan Penempatan yang dikembangkan Pusdiklat Industri Kemetrian Perindustrian, dalam hal ini dilaksanakan Balai Diklat Industri Yogyakarta.

Menggandeng Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo), 3 in 11 diaplikasikan melalui Program Perdana “Njlajah Deso Milangkori”. Program ini dibuat dalam rangka untuk menaikkan standard mutu dan produk Industri Mebel dan Kerajinan yang dihasilkan di sentra-sentra.

Selama ini sentra-sentra mebel hanya melayani kebutuhan domestik dengan standard yang ala kadarnya. Diantataranya kayu yang belum kering, mutu produk yang belum terstandarisasi maupun teknik finishing yang masih terbatas.

“Program perdana Njlajah Deso Milangkori ini dilaksanakan di desa jatimulyo, dlingo bantul. Konsep 3 in 1 dalam peningkatan mutu sumber daya manusia di bidang industri,” ujar Tevi Dwi Kurniawati SIP MSi, Ketua Balai Diklat Industri Yogyakarta, Kamis (20/9/2018).

Baca Juga :  "Istana Negara" Berdiri Megah di Sumbermulyo

Rumekso Setyadi dari DPP ASMINDO mengatakan Program Diklat 3 in 1 tidak hanya dirasakan oleh industri2 besar, tetapi juga harus diadakan sampai ke level bawah, level industri kecil dan menengah. Sesuai dengan program pemerintah dalam pengembangan SDM Industri, yang tidak hanya berlaku untuk industri besar, tetapi juga untuk IKM yang merupakan tulang punggung industri dan ekonomi nasional.

“Ini adalah bentuk dari inklusivitas dalam bidang ekonomi dan industri, besar dan kecil harus sama-sama merasakan program pemerintah. Selanjutnya setelah Dlingo, akan juga diadakan diklat untuk sentra di Kulon Progo, Gunung Kidul dan Sleman,” paparnya.

Sementara Irsyam Sigit Wibowo, Ketua Komda Asmindo DIY mengatakan, tumbuhnya ekowisata di daerah Kecamatan Dlingo seharusnya juga diikuti oleh bertambahnya pasar mebel dan kerajinan kayu yang dihasilkan oleh masyarakat sekitar Dlingo, termasuk daerah Jatimulyo. Sebab para pengunjung wisata di daerah Dlingo sebenarnya juga calon-calon buyer lokal bagi pengrajin mebel dan kerajinan di Dlingo.

Baca Juga :  Gandung Pardiman Serukan Kader di Daerah Selamatkan Partai Golkar

“Kami mempunyai kewajiban moral untuk membantu peningkatan kualitas dan pemasaran para pengrajin mebel dan kerajinan di wilayah Dlingo,” paparnya.

Dalam program itu dilaksanakan diklat Finishing Furniture yang berkualitas oleh Asmindo dan BDI Yogyakarta. Selanjutnya dari kelompok perajin di daerah Dlingo menunjuk kordinator kelompok untuk menjadi wakil yang akan bergavung di Asmindo.

“Sehingga semua program maupun pembinaan nantinya bisa dirasakan oleh para perajin. Apalagi h
Hampir semua Kabupaten dan kota di Yogyakarta ini mempunyai sentra-sentra Mebel dan Kerajinan Kayu. Sementara Ekport Mebel dan Kerajinan Yogyakarta merupakan komoditas eksport pertama di DIY,” ungkapnya.

Kepala Desa Jatimulyo, Gunarta menjelaskan, Jatimulyo merupakan daerah penghasil mebel dan barang-barang dari kayu. Hampir 75% persen penduduknya hidup dari pengolahan perkayuan.

“Untuk itu melalui program ini diharapkan adalah dapat menaikkan standar kesejahteraan masyarakatnya yang diakui masih menjadi daerah tertinggal,” imbuhnya.(*/yve)