Kadrian, Istana Mungil yang Terawat Baik

205

KORANBERNAS.ID — Dalam sejarah Indonesa, tetdapat banyak sekali kerajaan, besar dan kecil. Hampir di semua pulau terdapat beberapa istana yang dipimpin oleh raja secara turun temurun. Dari kerajaan besar legendaris seperti Majapahit, Sriwjaya, Kasultanan Ngajogjakarta Hadiningrat, Pura Pakualaman, Istana Pakubuwanan, Mangkunegaran dan banyak lagi.

Di Pontianak, Kalimantan Barat juga terdapat Istana Kadrian. Bangunannya memang mungil untuk sebuah istana, tetapi hingga kini masih terawat rapi.

Anda jangan membandingkan dengan Keraton Kasultanan Ngajogjakarta Hadiningra. yang sangat luas dengan banyak koleksi dan bangunan-bangunan yang punya nama dan fungsi masing-masing. Bangunan Istana Kadrian hanya berukuran 25 meter untuk wajahnya dan 80 meter panjangnya. Itupun sebagian berupa halaman depan yang luas, yang kini tengah dipasang paving blok.

“Pagarnya akan dikembalikan berupa kayu. Dan kiri kanan paving blok akan dibangun taman,” kata Syarif Kasim Alkadrie, pria yang masih keturunan ke-9 dari Sultan Abdurrachman yang pernah berkuasa di istans itu kini bertugas merawat istana kepada koranbernas.id, Jumat (03/11/2017) .

Baca Juga :  Warga Binaan pun Ikut Bahagia

Menurut Syarif, saat ini yang brrkuasa di ke kerajaan itu adalah Syarif Machmud Alkadrie sebagai Pangeran Ratu di Istana Kadrian. Dia baru dinobatkan oleh ayahandanya pada 24 Oktober 2015 yang lalu.

Memasuki bangunan istana berornamen Dayak itu, tubuh disergap oleh rasa sejuk. Terdiri dari serambi depan, bangunan dalam dan ditambah satu ruangan lagi.

Masing-masing ruangan tidak luas. Apalagi masuk di kamar dalam, ada wangi dupa dalam suasana udara yang sangat sejuk Di sana antara lain ada baju dan senjata raja.

“Ini adalah gamelan hadiah dari keraton Solo,” katanya sambil menunjuk seperangkat kecil gamelan yang hanya terdiri dari beberapa buah instrumen. Seperti gambang, kenong, kempul, gong besar dan kecil. Pada acara-acara tertentu, gamelan itu ditabuh meski tidak lengkap “sepangkon”.

Baca Juga :  DPRD Setujui Kenaikan Retribusi Pasar
Bagian dalam Istana Kadrian. (istimewa)

Istana Kadrian berdiri pada tahun 1773, dan sudah beberapa kali berganti dinasti. Di ruang depan, ada cermin besar yang menurut Syarif berasal dari Perancis. Cermin itu punya kelebihan, kalau ada yang foto di depan cermin, akan muncul beberapa sosok bayangan di belakangnya.

Istana ini juga masih punya hulubalang. Tapi jumlahnya hanya enam orang. Sangat berbeda dengan Keraton Ngajogjakarta yang punya prajurit beberapa bergada atau brigade.

“Memang sangat beda dengan DIY yang masih menyandang predikat Daerah Istimewa,” kata Syarif.

Yang pasti, peninggalan sejarah di Pontianak masih ada dan tetap terpelihara. Sehingga tidak akan tertelan oleh roda zaman dan generasi mendatang masih tetap merasa memiliki kebanggaan. (yve)