Kala Pelajar Ikuti Lomba Cerita Sejarah

341
Penampilan salah seorang peserta Lomba Cerita Sejarah di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Selasa (08/05/2018). (dwi suyono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Tampil mengenakan busana merah dipadu sepatu kets, seorang remaja putri bertutur mengenai kisah perjuangan pahlawan tatkala mengikuti Lomba Cerita Sejarah, Selasa (08/05/2018) di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Layaknya seorang juru cerita, dari eksepresi wajahnya dia terlihat sepertinya memahami betul apa yang sedang diceritakannya, di hadapan juri yang terdiri dari  Dr Dyah Kumalasari MPd dari Prodi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta, Siti Ajar Ismiyati dari Balai Bahasa Yogyakarta serta Drs Nurdiyanto dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta.

Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Dra Zaimul Azzah M Hum, menyampaikan Lomba Cerita Sejarah kali ini diikuti oleh 50 orang peserta, terdiri dari 25 pelajar tingkat SMP serta 25 pelajar SMA dan sederajat.

Baca Juga :  Kebhinekaan Bangsa Ini Harus Terus Dirawat

Mereka berasal dari kabupaten/kota se-DIY yang telah ditunjuk oleh Dinas Pendidikan setempat. “Masing-masing siswa berasal dari sekolah yang berbeda dan didampingi oleh satu orang guru pendamping,” ujarnya. Lomba berlangsung dua hari hingga Rabu (09/05/2018).

Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta, Dra Zaimul Azzah M Hum menyampaikan sambutan. (dwi suyono/koranbernas.id)

Zaimul Azzah menjelaskan, sebagai salah satu museum khusus perjuangan bangsa, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mempunyai beberapa visi, salah satunya meningkatkan pemahaman sejarah masyarakat untuk mewujudkan ketahanan nasional.

Guna mewujudkan visi tersebut sekaligus mengenalkan museum kepada masyarakat khususnya generasi muda, pihaknya menyelenggarakan lomba cerita sejarah tingkat SMP dan SMA se-DIY  dengan tema Bersatulah Indonesiaku.

Tema itu dibagi lagi menjadi subtema yang diambil dari beberapa adegan cerita diorama yang terdapat di Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta.

Baca Juga :  Gangguan Jiwa di Kabupaten Ini Tercatat Paling Tinggi

Antara lain, Kongres Boedi Oetomo I di Yogyakarta, Dukungan Sri Sultan Hamengku Buwono IX terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Kongres Pemuda di Yogyakarta, Pekan Olahraga Nasional (PON) I di Solo maupun Serangan Umum 1 Maret 1949.

Sebelum melakukan penulisan dan kemudian menceritakannya, para peserta lomba berkunjung ke museum dan mempelajari diorama tersebut.

“Dengan demikian secara tidak langsung mereka turut terlibat aktif mengapresiasi dan belajar sejarah di museum,” kata Zaimul Azzah. (sol)