Kala SBY Pulang Kampung

284
Susilo Bambang Yudhoyono mampir di Gunungkidul dalam perjalanan pulang ke Pacitan, Jumat (18/08/2017). (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS — Presiden ke-6 Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bertemu beberapa tokoh Gunungkidul. Kesempatan ini dilakukan saat mampir ketika akan pulang ke kampung halamannya di Pacitan Jawa Timur. Jumat (18/08/2017). Dalam pertemuan itu SBY menceritakan tentang kondisi bangsa.

SBY dan rombongan mampir di rumah makan Bu Tiwi Tan Tlogo. Rumah makan ini lokasinya di pinggir jalan menuju Pacitan Jawa Timur, tepatnya di Jalan Wonosari-Semanu km 3,5, Mijahan Kecamatan Semanu. Tampak ikut dalam rombongan, Ani Yudhoyono, dan anak tertua Agus Harimurti Yudhoyono. Beberapa politisi pusat seperti Hinca Panjaitan maupun daerah tampak ikut pula.

Kedatangan SBY dan rombongan berjumlah sekitar 8 mobil melaksanakan salat Jumat di Masjid Al Kautsar, tak jauh dari rumah makan itu. Seusai salat, dilakukan pertemuan singkat dengan beberapa tokoh masyarakat Gunungkidul, kemudian SBY melanjutkan perjalanan menuju Pacitan  sekitar pukul 12:30.

Baca Juga :  Bermain Selancar, Pelajar Solo Terseret Ombak Baron

Hanya saja SBY ketika diminta komentar oleh wartawan daerah yang sudah menunggu, justru menolak dan masuk mobil B 16 FPD. “Tidak ada agenda apa-apa kok, cuma mampir mau ke Pacitan. Karena di sana ada event surfing Internasional,” kata Roy Suryo, politisi Partai Demokrat yang ikut mendampingi.

Salah seorang tokoh yang diundang dalam acara tersebut adalah Pendeta Dwi Wahyu Prasetyo dari Forum Lintas Iman (FLI) Gunungkidul. Saat pertemuan, SBY mengajak untuk merawat persatuan dan kesatuan.

“Saat pertemuan dengan beliau (SBY), kami banyak mendengarkan pesan dari beliau agar kita sebagai anak bangsa merawat kebhinekaan dan persatuan,” katanya.

Pendeta Dwi sempat menyampaikan keprihatinannya atas kondisi bangsa. Hadir pula tokoh agama, tokoh masyarakat, dukuh, RT, RW Mijahan, MUI Kecamatan Semanu, Forum Lintas Iman, KNPI, Muslimat NU.

Baca Juga :  Hujan Deras, Jalan Yogyakarta-Wonosari Amblas

“Kami menyampaikan keprihatinan kondisi bangsa saat ini, kita perlu membudayakan sapa aruh (tegur sapa). Persatuan bukan abstrak tetapi nyata melalui sapa aruh,” ujarnya.

Mereka ditanya oleh beberapa staf SBY mengenai kriteria pemimpin. “Tadi beberapa stafnya menjaring aspirasi tentang kondisi Indonesia sekarang dan kriteria pemimpin menurut kami. Kriteria pemimpin bagi kami, yakni pemimpin yang mau hadir di tengah masyarakat bukan pencitraan. Pemimpin yang bisa rumesep, rumasuk dan rumangsa, atau dalam arti membumi,” jelas Pendeta Dwi Wahyu Prasetyo. (ryo)