Kampanye Kesehatan Reproduksi Bagi Generasi Muda Mendesak

288
IPKB DIY studi banding ke BKKBN Perwakilan Jateng, Kamis (24/08/2017). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Materi Komunikasi Edukasi Informasi (KIE) dan advokasi tentang kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana (KB) perlu diselaraskan dengan kelompok sasaran agar bisa dengan cepat diterima dan dipahami. Prioritas utamanya adalah kalangan generasi milenia yang akan menjadi Pasangan Usia Subur (PUS), sehingga pada saatnya mereka menikah, informasi mengenai kesehatan reproduksi dan KB sudah dipunyainya.

Penggarapan segmen remaja yang secara alami menghadapi banyak permasalahan harus menjadi prioritas. Apalagi penduduk usia remaja ini memang luar biasa besar dibanding penduduk secara keseluruhan.

Munculnya kembali Mars KB di berbagai stasiun radio maupun di berbagai event merupakan salah satu upaya membangkitkan kembali kesadaran ber KB. Namun yang perlu dicermati adalah apakah generasi mudanya nyaman dengan mars seperti itu, atau perlu ada yang harus disesuaikan dengan dunia mereka.

Hal itu mengemuka ketika BKKBN serta Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) DIY mengadakan studi banding ke BKKBN Perwakilan Jateng, Kamis dan Jumat (24-25/08/2017). Rombongan yang dipimpin Sekretaris Kaperwil BKKBN DIY, Ellya Nunuk Irihastuti, tersebut diterima Pelaksana Harian Kaperwil BKKBN Jateng, Erna Sulistyowati, Kamis siang di kantornya. Jumat pagi dilanjutkan ke Radio Idola yang sudah lama menjadi mitra kerja BKKBN dalam sosialisasi KIE.

Meski luas wilayah cakupan sangat berbeda (Jateng 35 kabupaten kota sedangkan DIY hanya 5 kabuaten dan kota), namun banyak strategi yang bisa saling diterapkan. Komitmen bupati walikota untuk suksesnya sebuah program juga sangat berdampak baik secara materi maupun contoh nyata.

“Wakil bupati Banyumas menyatakan, kalau ada 100 pria menjadi peserta Medis Operatif Pria, dialah peserta ke 100 itu,” kata Erna menirukan pernyataan Ahmad Husein. Angka itu kemudian direduksi menjadi 50.

Sementara bupati Sukoharjo dan Karanganyar pun berlomba memberikan stimulans bagi akseptor MOP. Sedang Demak, banyak kontribusi meski tidak ada bantuan.

Sebenarnya hal yang sama juga telah dilakukan jauh sebelumnya oleh Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo, dengan memberikan hadiah seekor kambing betina bagi peserta MOP. Pilihan kelamin betina itu dengan harapan kedepan akan beranak-pinak sehingga akan berdampak secara ekonomis.

Bantul pun juga sudah melakukan hal yang sama. Bagaimana komitmen pimpinan daerah terhadap program KB, dampaknya akan terasa. Meski kebih dari itu adalah upaya menumbuhkan kesadaran pentingnya KKBPK bagi kemaslahatan bersama, mengingat jumlah penduduk semakin banyak, permukiman semakin padat, lingkungan semakin tidak sehat.

Sebagaimana dikatakan Ketua IPKB Jateng, Addy, yang banyak melakukan terobosan untuk menjalin kemitraan dengan berbagai pihak. Terbitnya buletin dan jurnal merupakan salah satu bentuk dukungan nyata IPKB terhadap program KKBPK. Hal ini pun juga sudah dilakukan IPKB DIY, hanya frekuensi terbitnya berbeda, mengingat tipologi wilayah berbeda sehingga besaran dana pun berbeda.

Sementara itu, Ellya Nunuk Irihastuti menyatakan, bersama Humas, Sekretariat, Adpin, SKPD KB Kabupaten Kota serta IPKB ingin belajar tentang kunci sukses BKKBN Jateng. Selama ini BKKBN DIY juga sudah melakukan banyak terobosan, menggandeng banyak mitra dalam melakukan kerja dalan kebersamaan. Penggarapan sektor remaja, selain PUS, kelangsungan kesertaan KB serta sisi kualitas pemakaian alat kontrasepsi jangka panjang menjadi segmen priotitas.

Di Radio Idola, rombongan yang didampingi Ratih, Kasubsi Advokasi, mendapat banyak wawasan dari Marketing Director Nadya Atmadinata tentang bagaimana radio itu bekerjasama dengan BKKBN mencoba mengemas materi siaran sesuai dengan segmen pendengarnya.

Sedangkan Ketua IPKB DIY meminta komitmen seluruh pengurus dan anggotannya, mengingat masalah kependudukan pada prinsipnya merupakan tanggung jawab setiap warga negara. Kerja keras ini tidak akan pernah berhenti, karena siklus akan berjalan terus. PUS lama pensiun karena sudah tidak subur lagi, akan berdatangan PUS baru yang belum terpapar masalah informasi kesehatan reproduksi dan segala sesuatu tentang berkeluarga sejahtera. (eru)