Kampung KB, Menuju DIY Sejahtera

516

KORANBERNAS –  Program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) belakangan ini semakin bergema setelah “tidur” beberapa lama. Badan Kependudukan Keluarga Berencana (BKKBN) DIY berupaya mencari dukungan di semua sektor lantaran menyadari bahwa institusi itu tidak bisa bekerja sendiri. Petugas di lini lapangan digairahkan, diantaranya mengembalikannya menjadi urusan dan tanggung jawab pemerintah pusat sesuai kebijakan nasional. Dana pun digelontorkan oleh pemerintah pusat untuk mendukung pendanaan berbagai kegiatan guna percepatan capaian program.  

Penggerakan seperti mobilisasi umum seperti zamannya Prof Dr Haryono Suyono, hingga saat ini masih diteruskan. “Sebenarnya pola semacam itu tidak pernah berhenti dilakukan,” kata Kepala Kantor Perwakilan BKKBN DIY, Drs Bambang Marsudi MM, dalam wawancara khusus dengan Koran Bernas di ruang kerjanya, Kamis (8/3). Hanya saja masing-masing zaman membuahkan hasil berbeda karena sistem sentralisasi dan otonomi daerah yang sangat berbeda dalam implementasi program.

Salah satu kebijakan yang diambil oleh Presiden Joko Widodo adalah dengan dibentuknya Kampung KB di kabupaten kota se-Indonesia yang dicanangkan di Cirebon, 14 Januari 2016. Di DIY pada awalnya ada lima Kampung KB mewakili kabupaten kota, yang dicanangkan oleh Gubernur DIY pada 16 Februari 2016. Masing-masing Dusun Jasem, Desa Srimulyo Piyungan Bantul; Dusun Tegiri 2, Hargowilis, Kokap Kulonprogo; Dusun Wonolagi, Ngleri, Playen, Gunungkidul; Dusun Malangrejo, Ngemplak, Sleman; serta RW 12 Kelurahan Prawirodirjan, Gondomanan Kota Yogyakarta. Di dusun tertinggal itulah, seluruh program guna percepatan capaian program menuju keluarga sejahtera berlangsung secara sinergis dan gegap gempita. Tidak hanya masalah penggarapan akseptor KB saja, tetapi juga penggarapan remaja lewat Bina Keluarga Remaja (BKR) serta Pusat Informasi Konseling Remaja (PIK R). Untuk Balita lewat Bina Keluarga Balita, sedangkan untuk lansia lewat Bina Keluarga Lansia (BKL). Ada juga kegiatan ekonomi priduktif, usaha peningkatan pendapatan keluarga sejahtera, pembinaan mental spiritual dan sebagainya. Ternyata dengan pancingan program, semua potensi tergerak, termasuk swadaya pembangunan fisik untuk kemaslahatan warga.

KUNJUNGAN PRESIDEN – Masyarakat Dusun Jasem, Desa Sitimulyo, Piyungan, Bantul merasa bangga dikunjungi Presiden Jokowi dan para petinggi negara, beberapa waktu lalu. Kalau tidak jadi lokasi Kampung KB, mana mungkin itu terjadi. (Foto: Dokumentasi)

“Evaluasi terus berjalan, tidak saja oleh BKKBN tetapi termasuk lembaga independen. Bahkan Bappenas sendiri merasa puas atas berbagai kemajuan di Kampung KB dengan menumbuh-kembangkan kembali semangat gotong royong,” kata Bambang.

Pengembangan tanaman sayuran, olahan pangan dengan perluasan pemasaran, perikanan, dan peternakan merupakan salah satu bentuk peningkatan kesejahteraan warga. Bahkan di Kampung KB Wonolagi Gunungkidul, Kementerian ESDM membimbing warga memanfaatkan kotoran menjadi bio energi.

Di DIY, dari lima Kampung KB sudah berkembang menjadi 78 tempat. Pada tahun 2018 ini akan mendapat tambahan 73 lagi sehingga nantinya akan menjadi 151 Kampung KB. Penambahan itu akan dibagi, 10 diantaranya di wilayah Kulonprogo. Termasuk untuk penanganan stunting sebagai upaya peningkatan kualitas SDM di masa depan. Dengan teratasinya anak-anak yang mengalami pertumbuhan tidak normal ini diharapkan akan mendukung peningkatan kualitas SDM. “Masih dalam penelitian, di Kulonprogo penyebabnya bakteri koli,” kata Bambang menambahkan.

Menuju DIY Sejahtera

Meski banyak capaian program berkat kerja keras dan dukungan para mitra, namun DIY masih menghadapi berbagai kendala. Diantaranya pertambahan jumlah remaja dari luar DIY untuk melanjutkan pendidikan yang setiap tahunnya rata-rata 80.000 orang. Kalau tidak dikelola secara cermat, akan memunculkan berbagai masalah sosial. Diantaranya pergaulan bebas, seks pranikah, kehamilan tidak dikehendaki dengan segala ikutannya. Juga masalah narkoba sampai HIV AIDS. Meskipun dampak positifnya juga banyak di bidang ekonomi berkait dengan besarnya uang anak rantau yang dibelanjakan di sini.

Antisipasi menghadapi hal ini sudah ditempuh melalui program Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK R), baik jalur sekolah maupun jalur masyarakat. Juga dibentuknya PIK Mahasiswa di sejumlah kampus di DIY. Dengan teman sebaya diharapkan remaja lebih terbuka dibanding kepada petugas. Adanya dukungan dari Kemenag melalui Kantor Urusan Agama yang tidak bersedia menikahkan bagi perempuan di bawah umur 20 tahun, termasuk berbagai upaya lain, ternyata DIY mampu menekan angka pernikahan dini.

Pencapaian program semester kedua 2017 dan rencana program 2018 sebagai bagian dari RKPJM pusat, akan dibahas dalam Rapat Koordinasi Daerah di Grand Inna Malioboro (dulu Hotel Garuda), 14 Maret 2018. Memperkuat jalinan kemitraan yang diharapkan banyak memberikan dukungan pencapaian program, akan dituangkan dalam MoU dengan berbagai kampus dan SKPD KB.

Dalam acara yang rencananya akan dibuka oleh Gubernur DIY tersebut, para peserta akan mendapatkan tambahan wawasan. Diantaranya presentasi tentang Peran Lintas Sektor Dalam Penggarapan Kampung KB (Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda DIY), Perencanaan Program Pembangunan Berwawasan Kependudukan Menuju DIY Sejahtera (Kepala Bappeda DIY), Model Penggarapan Integrasi Lintas Sektor dalam Pencegahan Stunting (Kepala Dinas Kesehatan DIY), dan Optimalisasi Pemanfaatan Alokasi Dana Desa dalam Penggarapan Program KKBPK (Kepala BPPM DIY).

Kepala Kantor Perwakilan BKKBN DIY Drs. Bambang Marsudi, MM. (Foto: Dokumentasi)

Ditambah pengarahan dari Pembina Wilayah BKKBN Pusat serta Gubernur DIY, akan menjadi bekal peserta Rakorda hari kedua, Kamis (15/3). Pesertanya adalah internal BKKBN DIY, SKPD KB Kabupaten Kota serta PKB seluruh kecamatan yang akan melaksanakan diskusi kelompok. Guna menerjemahkannya dalam implementasi program, menyukseskan Program KKBPK dengan sasaran Menuju DIY Sejahtera. Termasuk menekan angka kemiskinan DIY yang pada Juli 2017 ada pada angka 13,10 dan kini turun menjadi 13,04. Menekan laju pertumbuhan penduduk agar DIY tidak semakin sesak lantaran populasi yang terus meningkat. Angka kesertaan KB pun harus makin bertambah, selain mempertahankan peserta KB Aktif. Sekalian memotivasi Pasangan Usia Subur (PUS) baru akan pentingnya mengatur perencanaan keluarga.

Segala upaya itu harus dilakukan terus menerus. Kita berpacu dengan waktu. Karena setiap saat akan muncul PUS baru, yakni generasi now yang belum terpapar informasi dan edukasi mengenai KB dan keluarga sejahtera. Sementara di luar sana, artis-artis di layar kaca menjadi idola dan acuannya dan ketika ditanya selalu mengidolakan banyak anak. Dasarnya lebih pada kemampuan secara ekonomi. Bukan masalah kesehatan wanita yang terlalu kerap melahirkan, atau kemampuan pengasuhan anak diantara himpitan kerja yang menyita hampir seluruh waktu. 

Bandingkan Dua Anak Cukup, slogan BKKBN yang mengacu kepentingan kesehatan ibu dan kepentingan anak-anak. Agar tumbuh kembang secara optimal dalam rengkuhan kasih sayang orangtua. (arie giyarto)