Kanker Payudara pada Pria Biasanya Lebih Ganas

75
Linda Gumelar, Steven Lee, Daniel Makes dan Walter Folberth, mengenalkan alat baru Mammomat Revelation. (Surya Mega/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Sekalipun kasusnya jarang ditemui, kanker payudara ternyata juga dapat menyerang kaum pria. Lebih mengejutkan, kanker payudara yang menyerang kaum pria, umumnya adalah kanker ganas sehingga lebih berbahaya.

Disela-sela acara penandatanganan MoU dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dengan Siemens Healthineers, Ketua YKPI Linda Gumelar mengatakan, kanker payudara memang tidak hanya menyerang kaum hawa. Populasinya memang jarang, namun kasus kanker payudara juga dapat terjadi pada pria.

“Kita terus mendorong supaya mammografi menjadi program rutin masyarakat. Terutama untuk kaum wanita baik yang sudah dewasa maupun remaja, Bahkan kami berharap mao menjadi bagian yang tak terpisahkan dari general check up,” kata Linda, Jumat (07/09/2018).

Semangat Linda dan YKPI untuk mendorong masyarakat melakukan screening bukan tanpa alasan. Berdasarkan data, kanker payudara saat ini sudah menjadi pembunuh nomor satu, jauh meninggalkan kasus kanker mulut serviks yang dulunya mendominasi kasus kanker.

Baca Juga :  Senam Ini Dipercaya Bikin Orang Terlihat Tetap Muda

Dari keseluruhan kasus kanker di Indonesia, 40 persennya adalah kanker payudara. Celakanya, penderita kebanyakan masih dating untuk berobat saat sudah masuk stadium lanjut sehingga kemungkinannya untuk sembuh sangat kecil.

Selain kasusnya tinggi, belakangan juga terjadi pergeseran kelompok usia pengidap kanker payudara. Kalau dulu kebanyakan yang terkena serangan adalah wanita usia lebih dari 40 tahun, maka belakangan kanker payudara juga banyak ditemukan pada wanita yang jauh lebih muda, bahkan remaja belasan tahun.

“Karena itulah, kami juga mendorong dan mengkampanyekan Sadari, yakni gerakan untuk mengenali sejak dini kanker payudara. Begitu ada benjolan sedikit saja, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter,” lanjut Linda.

Faktor penyebab kanker payudara menurut  Dr Daniel Makes selaku ABDA Founding President cukup beragam. Ada faktor yang tidak bisa diantisipasi seperti misalnya genetik, tapi ada juga faktor yang dapat  dicegah atau dihindari, yakni stress, gaya hidup tidak sehat serta polusi.

Baca Juga :  Koramil 06 Ngaglik Dinilai Tim Evaluasi TNI Manunggal KB Kesehatan

Sedangkan dari sisi pelayanan media, faktor keterbatasan SDM, peralatan dan mahalnya pengobatan juga ikut mempengaruhi belum maksimalnya penanganan kanker payudara. Apalagi, BPJS juga belum mengcover program pencegahan termasuk pemeriksaan dini kanker.

Country Lead Siemens Healthineers Indonesia, Steven Lee menambahkan, pihaknya sangat mengapresiasi upaya dan langkah nyata YKPI dalam memerangi kanker payudara. Deteksi dini, kata Lee memang menjadi kata kunci bagi keberhasilan penanganan kanker payudara.

Untuk itu, upaya menyebarluaskan peralatan guna mendeteksi dini kanker payudara, menjadi hal yang amat penting.

“Kami meluncurkan peralatan baru yakni Mammomat Revelation yang memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk mengembangkan pengobatan yang tepat, meningkatkan operasi klinis dan meningkatkan kenyamanan pasien,” katanya.

Dengan peluncuran Mammomat Revelation, pihaknya mengembangkan pengobatan yang tepat dengan melakukan deteksi dini kanker payudara. (SM)