Kanker Serviks Muncul Tanpa Gejala Khusus, “Kartini” Disarankan Rutin “Pap Smear”

285
Dr Danny Wiguna Sp.OG. (Surya Mega/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Meski menjadi penyebab kematian nomor empat bagi wanita di seluruh dunia, ternyata kemunculan kanker serviks tidak pernah disertai dengan gejala khusus. Hal inilah yang menyebabkan kanker serviks sulit untuk dideteksi, dan kebanyakan penderitanya dating berobat ketika sudah masuk dalam stadium lanjut atau sudah kasep.

Dalam “Edukasi Dini Cegah Kanker Serviks” menyambut Hari Kartini di RS Silomam Yogyakarta,  dokter spesialis kandungan, dr. Danny Wiguna SpOG mengatakan, kanker serviks merupakan penyebab keempat beresiko alami kematian pada wanita di seluruh dunia.

Cara terbaik dalam penanggulangan kanker serviks adalah melalui deteksi dini, yaitu test papanicolaou atau lebih dikenal sebagai papsmear. Deteksi dini penting karena umumnya kanker serviks tidak memiliki gejala khusus. Adapun Papsmear digunakan dalam mendeteksi infeksi virus Human Papillomavirus (HPV).

Menurut dr Danny, terdapat 12 tipe HPV beresiko tinggi. Sebagian besar infeksi akan ditekan pertumbuhannya oleh sistem imun dalam 1-2 tahun tanpa menyebabkan gejala kanker.

Sementara itu faktor resiko kanker serviks adalah kondisi yang meningkatkan kemungkinan terinfeksi HPV.

“Contohnya, pasangan seksual lebih dari satu, melakukan hubungan seks di usia muda, sistem imun tubuh yang lemah, merokok, mengkonsumsi obat-obatan diethylstilbestrol selama kehamilan dan riwayat kanker pada organ reproduksi bagian bawah. Juga perilaku seks tidak sehat seperti oral seks dan anal seks,” paparnya, seraya mengatakan pemeriksaan atau papsmear ini sebaiknya dilakukan setiap 3 tahun sekali sejak usia 21 tahun.

Baca Juga :  Reumatik Bisa Sebabkan Jari Keriting

Selain tidak membawa gejala khusus, kanker serviks juga bisa menjangkiti setiap wanita tanpa batas usia tertentu. Berdasarkan data, penyakit ini banyak terjadi pada wanita dengan rentang usia 20-24 tahun. Tapi kasus pada wanita usia muda yakni 14 dan wanita usia di atas 50 tahun juga pernah terjadi.

“Tidak terdapat usia maksimal untuk melakukan screening karena insidensi terjadi kanker serviks meningkat sesuai dengan usianya. Walaupun tidak menutup kemungkinan bisa terjadi pasa usia yang lebih muda. Bahkan setelah menopouse, seorang wanita perlu melakukan pemeriksaan papsmear secara regular,” katanya.

Dengan rutin memeriksakan diri, setiap resiko dari kanker serviks bisa ditangani dengan lebih baik dan cepat dengan kemungkinan kesembuhan lebih tinggi. Pencegahan juga jauh lebih baik, mengingat apabila sudah terkena penyakit ini, maka biaya pengobatan akan sangat mahal.

Baca Juga :  Berbahaya, Pakai Obat Golongan Steroid tanpa Resep Dokter

“Kalau sekarang sudah pasti mencapai ratusan juta rupiah. Memang ada BPJS, tapi lebih baik mencegah daripada mengobati. Apalagi selain mahal, pengobatan juga menyakitkan,” kata dr Danny menerangkan.

Ditanya lebih jauh tentang pap smear, dr Danny mengatakan, sebaiknya dilakukan degan persiapan khusus. Yakni wanita itu tidak sedang menstruasi, dua hari sebelum pemeriksaan tidak melakukan hubungan seksual, penggunaan tampon, menggunakan obat-obatan pada vagina, kontrasepsi pada vagina (foam atau gel).

“Pemeriksaan ini tidak memilki komplikasi dan juga tidak nyeri. Banyak pasien yang menanyakan apakah pemeriksaan ini nyeri atau tidak, sakit atau tidak,”pungkas Danny Wiguna.

Marcomm Executive RS Siloam, Hilary menambahkan, mengingat pentingnya pap smear bagi kaum “Kartini”, pihaknya secara khusus meluncurkan program promo untuk paket pap smear.

“Bukan hanya RS Siloam Jogja tapi juga seluruh Indonesia. Dengan 288 ribu rupiah kaum wanita sudah bisa pap smear lengkap termasuk konsultasi dokter kandungan,” katanya.   (SM)