Kapal Kemanusiaan Papua Tak Bawa Mi Instan

225
Andre Perdana, Abdullah Surono, Prof Muhammad serta Agus Budi Hariyadi menyampaikan keterangan soal keberangkatan Kapal Kemanusiaan Papua dan Kapal Kemanusiaan Palestina.

KORANBERNAS.ID – Kapal Kemanusiaan Papua yang membawa bantuan pangan dan medis sejumlah 100 ton hampir dipastikan tidak membawa mi instan.

Ini karena kejadian luar biasa (KLB) campak dan gizi buruk yang mengakibatkan meninggalnya 70 anak di Distrik Agats Kabupaten Asmat tersebut penyebabnya adalah terlalu banyak mengkonsumsi mi instan.

Adapun bantuan itu di antaranya beras, biskuit bayi, susu cair, vitamin (asam folat A, zat besi), puluhan ton air mineral dan pakaian bayi serta dewasa.

“Masyarakat Asmat sebenarnya tidak kekurangan pangan tetapi cara hidup mereka kurang sehat, makan mi instan sehingga terjadi gizi buruk,” ungkap Agus Budi Hariyadi, Kepala Cabang ACT (Aksi Cepat Tanggap) DIY dalam konferensi pers di Bale Timoho, Jumat (02/02/2018).

Dia didampingi Ketua IKADI (Ikatan Dai Indonesia) DIY, Abdulah Surono, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) DIY Prof Muhammad MAg serta Andri Perdana selaku Ketua MRI (Masyarakat Relawan Indonesia).

Menurut Agus, Kapal Kemanusiaan Papua tidak hanya membawa pangan dan medis tetapi juga ratusan relawan termasuk tenaga paramedis maupun ahli gizi dengan kapal terpisah. Apabila tidak ada halangan diperkirakan kapal berlayar Minggu (04/02/2018) dari Merauke menuju Agats.

Di sana, ACT beserta relawan berencana membuka dapur umum guna membantu masyarakat terlepas dari masalah gizi buruk. Bahkan sejak pertengahan Januari silam, tim dokter dan relawan ACT sudah berada di lokasi memberikan bantuan pelayanan kesehatan gratis.

Baca Juga :  Bank BPD DIY Bima Perkasa Jogja Sambangi Sekolah

Seperti diketahui, Kabupaten Asmat merupakan salah satu wilayah yang cukup parah terpapar wabah campak dan gizi buruk. Insan Nurrohman selalu Vice President ACT menyampaikan, berdasarkan laporan dari Koordinator Tim Emergency Respons ACT, dokter Riedha, kondisi gizi buruk itu sudah sampai tahap mengkhawatirkan.

Memang, awalnya hanya kategori gizi kurang tapi karena beberapa penyakit datang mewabah seperti campak dan TBC maka cepat sekali jatuh ke kategori gizi buruk.

ACT, lanjut Agus Budi Hariyadi, berusaha melakukan langkah tanggap darurat minimal hingga satu bulan ke depan supaya masyarakat di sana bisa kembali sehat dan lepas dari jeratan gizi buruk dan wabah campak.

Dia menegaskan, masalah kemanusiaan adalah masalah universal tidak mengenal batas dan latar belakang agama maupun suku. Ratusan relawan terbaik bangsa akan berjibaku bersama mengentaskan masalah gizi buruk dan campak yang melanda Papua.

Abdulah Surono menambahkan, IKADI DIY mendukung penuh langkah-langkah ACT untuk bergerak, sebab ini adalah langkah kemanusiaan. Tidak perlu dicari siapa yang bersalah dalam masalah ini.

Baca Juga :  Warga Balerante Sempat Panik dan Tinggalkan Rumahnya

Sedangkan Prof Muhammad menyampaikan, organisasi yang di tingkat pusat dipimpin oleh Wapres Jusuf Kalla ini akan ikut bergerak dengan cara berkirim surat ke takmir-takmir masjid. DMI mengimbau agar infak Jumat disalurkan untuk kegiatan kemanusiaan ke Papua yang sangat mendesak ini.

“Kemanusiaan tidak ada batasan agama, bagaimana manusia dapat hidup dengan selayaknya. Apalagi Islam mengajarkan manusia yang terbaik adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” tandasnya.

Ke Palestina

Selain ke Papua, ACT juga mengirimkan Kapal Kemanusiaan ke Palestina. Kapal tersebut mengangkut 10.000 ton beras, gula serta tepung. Saat ini, dari populasi 2 juta jiwa penduduk Gaza, sekitar 80 persennya hidup dalam kesulitan ekonomi termasuk pangan.

Diperkirakan bantuan pangan sejumlah 10.000 ton itu mampu memberikan dukungan logistik bagi warga Palestina yang membutuhkan.

Sebelumnya, ACT juga sudah mengirimkan bantuan pangan untuk korban kelaparan di Afrika (Somalia) dan pengungsi Rohingya di Bangladesh. “InsyaAllah Kapal Kemanusiaan Palestina  diberangkatkan 21 Februari mendatang,” kata Agus Budi Hariyadi.

Dari catatan sejarah, semua presiden RI mendukung perjuangan rakyat Palestina lepas dari penjajahan zionis. Apalagi, Palestina juga memiliki kedekatan dengan Indonesia sejak zaman Walisanga, bahkan Palestina yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. (sol)