Karena Cinta, Koh Hwat Menulis Ribuan Kata Mutiara Jawa

1015
Koh Hwat dengan latar belakang untaian mutiara kata Jawa penuh makna. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Nama lengkapnya Oei Tjhian Hwat. Akrab disapa Koh Hwat. Menariknya, dia sangat mengagumi serta mencintai budaya dan falsafah Jawa. Ada sekitar 3.000 mutiara kata Jawa ditulis kemudian dibingkai secara artistik menggunakan pigura masing-masing berharga ratusan ribu rupiah.

Semua itu kemudian dipajang di berbagai tempat, salah satunya Sanggar Welas Asih Jalan Veteran Kota Yogyakarta yang kini dalam proses penyelesaian. Di tempat itu terdapat 37 buah kata mutiara berpigura tergantung di dinding. Dalam  waktu dekat ditambah tiga lagi sehingga jumlahnya mencapai 40.

“Tidak sekadar mengagumi, saya juga mengimplementasikan dalam kehidupan saya dan keluarga,” kata pria kelahiran Yogyakarta 10 Februari 1952 ini saat berbincang dengan koranbernas.id di sanggarnya.

Falsafah Jawa, menurut Koh Hwat,  sedemikian mendalam maknanya, penuh pitutur luhur sebagai pegangan hidup. Pemilik beberapa toko fashion di Malioboro dan Jalan AM Sangaji  Jetis Yogyakarta ini merasa bersyukur dianugerahi talenta seperti itu.

Inspirasinya datang begitu saja dan rata-rata  diselesaikan dalam waktu lima sampai sepuluh menit. Koh Hwat juga memiliki konsultan bahasa Jawa dosen Sastra Jawa UGM, R Subalidinata.

Sejak awal hingga kini dia sudah menulis sekitar 3.000 tulisan, di antaranya diabadikan dalam tiga buku. Bahkan di tokonya Jalan A M Sangaji rangkaian kalimat ditatah secara permanen pada dinding. Sengaja dia tidak berusaha menuliskan dalam huruf Jawa, khawatir hanya sedikit yang mampu membacanya.

Di antara falsafah Jawa itu yang paling populer adalah Aja Dumeh, bermakna ajakan untuk siapa saja supaya tidak sombong saat posisi berada di atas angin.

Baca Juga :  Temu Hati Anak Sleman 2018

Kemudian, Welas Asih berisi ajakan untuk peduli dan mencintai kepada sesama. Ada pula Loma, yang artinya ajakan untuk tidak pelit membelanjakan sebagian rezeki di jalan Tuhan,  bagi orang lain yang membutuhkan uluran tangan.

Alumnus SMA De Britto yang melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia (meski tidak lulus) itu, melihat masih melihat banyak orang berlimpah harta tetapi sifatnya pelit.

Padahal apabila sebagian dari harta yang diperoleh itu dibelanjakan di jalan Tuhan, maka Tuhan akan memberinya lebih. Harta itu tidak akan habis bila dipergunakan untuk orang yang membutuhkan bantuan secara proporsional. Apalagi saat meninggal manusia tidak membawa hartanya.

Implementasi dari falsafah ini dia lakukan dalam beragam bentuk, di antaranya setiap Minggu membagikan makanan pada sejumlah orang. Atau, membantu membuat jalan ke makam dan masih banyak lagi. Sebagian bantuan itu bahkan dia sembunyikan identitasnya, agar dia tidak terkena penyakit sombong.

Koh Hwat di lokasi bakal taman samping Sanggar Welas Asih. (arie giyarto/koranbernas.id)

Mulai nol

Koh Hwat yang punya nama Indonesia Handoyo Wibowo memulai usaha betul-betul dari nol. Dengan kerja kerasnya akhirnya secara bertahap dia mencapai sukses seperti yang dia alami saat ini.

Karena mulai lara lapa dari bawah, dia mengajarkan hidup sederhana pada keluarganya. Dia sangat respek pada orang-orang yang berjuang mulai dari nol. Bukan kaya raya lantaran warisan.

Baca Juga :  Oknum Polisi Ditangkap Kasus Narkoba

Dia punya prinsip, kaya harta sudah biasa tetapi kaya hati itu lebih bermakna. Saat ini dia punya tanggung jawab 300 karyawan, terdiri 150 karyawan empat toko busana dan selebihnya karyawan sebuah pabrik di Jalan Parangtritis.

Koh Hwat sendiri saat ini sudah tidak berpikir tentang kadonyan alias materi. Mesin uangnya terus berputar di tangan orang-orang kepercayaannya. Dia lebih banyak mencari ketenteraman batin. Sekali lagi, karena dia pegang kuat prinsip kaya materi itu sudah biasa tetapi kaya hati itu lebih bermakna.

Dia juga ingin menjadi pribadi yang baik dan mampu memberi manfaat bagi sesama. Dan itu sudah dilaksanakan secara bertahap sesuai kemampuannya.

Adapun kompleks Sanggar Welas Asih dibangun di atas tanah seluas lebih dari 1.700 meter persegi. Di sisi timur dibangun taman, lebih luas dibanding luas bangunan sanggar.

Obsesinya, taman itu kelak penuh pohon langka. Yang sudah ada di antaranya dhuwet merah, pohon bodhi, ada pohon dari India, Dewandaru dan masih banyak lagi.

Sedang dipersiapkan lubang untuk menanam pohon durian langka. Bibitnya didatangkan dari Jawa Timur sebatang harganya Rp 2,5 juta. Baru mencoba sebatang dulu.

Di sanggar ini kelak masyarakat bisa menyaksikan koleksi Koh Hwat sebagai media belajar prinsip hidup dan kehidupan. Di tempat ini pula Koh Hwat akan sering berkontemplasi untuk meningkatkan obsesi dirinya menjadi  orang baik dan lebih baik lagi. (sol)