Kasihan Petani, Harga Bawang Merah Merosot

67
Murjini duduk di bawah dengan dagangan brambang dan bawangnya di lantai dua Pasar Beringharjo Yogyakarta. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Harga bambrang atau bawang merah sejak sekitar sebulan lalu terus merosot. Semula bertengger sekitar Rp 35.000 per kg, pada Sabtu pekan lalu di tingkat pedagang tempat kulakan bisa diperoleh dengan harga Rp 10.000 per kg. Sementara di tingkat pengecer harganya Rp 12.000, meski awalnya ditawarkan Rp 15.000.

“Ini masuk kualitas bagus. Kering dan besar-besar,” kata Murjini (56), pedagang brambang dan bawang putih eceran di lantai 2 Pasar Beringharjo Yogyakarta kepada koranbernas.id.

Menurut Murjini, pedagang non-lapak yang menggelar dagangannya di atas tambir dialas tenggok di jalan utama sebelah timur Beringharjo Center, dia tidak tahu brambang tersebut produksi dari Brebes atau Bantul.

“Yang penting saya kulakan dari juragan. Harga turun sudah otomatis diturunkan. Demikian pula kalau naik juga dinaikkan. Saya tinggal menyesuaikan,” katanya.

Sedang bawang putih jenis kating pilihan harganya memang mahal. Dia menjual Rp 30.000 per kg. Bawang kating tersebut merupakan impor, sepengetahuannya  dari China.

Baca Juga :  Pelajaran PMP Perlu Dihidupkan Lagi, Kenapa?

Untuk memudahkan penjualan, Murjini sudah mewadahi satu kilogram atau setengah kilogram. Setiap ada pembeli tinggal  menyerahkan tanpa ribet.

Meski sudah murah, menurut wanita asal Perengkembang Sleman yang sudah lama ndherek tinggal di Ndalem Sompilan Ngasem tersebut, ada yang menanyakan harga dan berkomentar:  Wah di tempat saya cuma Rp 7.000. Lha kalau cuma Rp 7.000 kasihan sekali petaninya ya,” katanya setengah bergumam.

Sementara itu Wasirah pedagang sayuran di kawasan RW 08 Kelurahan Sorosutan menyatakan benar anjloknya harga brambang. “Tapi sebentar lagi kalau musim hujan tiba harganya pasti mahal. Karena pohon brambang banyak mati kalau curah hujan tinggi,” katanya. Demikian juga harga lombok yang saat ini juga cukup murah pasti akan beranjak naik.

Wasirah mengaku saat ikut wisata religi ke Pesantren Daarut Tauchid milik A’a Gym bersama jamaah pengajian Masjid Mataram pekan lalu, pulangnya lewat Brebes rame-rame membeli brambang.

Termasuk dirinya. “Harganya cuma Rp 15.000. Merasa murah. Ternyata tidak berbeda dengan di Yogya,” katanya.

Baca Juga :  Puting Beliung Rusak Beberapa Wilayah Jogja

Tetapi hanya sekitar tiga hari brambangnya sudah ludes dibeli pelanggan. Karena banyak yang meyakini brambang Brebes kualitasnya bagus.

Murjini sudah puluhan tahun berjualan brambang dan bawang, bahkan sejak sebelum Beringharjo dibangun. Dulu juga jualan buah-buahan.

Tapi setelah pasar buah pindah ke Gamping, dia tak lagi kulakan buah. Apalagi buah risikonya cukup besar. Beda dengan brambang bawang yang jauh kebih awet.

Meskipun setiap hari hanya bisa menjual sekitar 10 kg  brambang dan bawang putih sedikit di bawahnya, tapi tetap ditekuni ibu tiga anak ini.

Apalagi sejak beberapa tahun lalu dia harus mencari uang sendiri. Setelah Sumarsono, suaminya yang bekerja sebagai blantik burung sudah terlebih dahulu dipanggil Allah SWT. “Ya cukup atau tidak cukup itu relatif. Saya syukuri saja rezeki dari Allah,” katanya. (sol)