“Kasus Bunuh Diri Masih Tinggi, Bu…”

218
Mensos Khofifah Indar Parawansa foto bersama penerima bantuan sosial, Kamis (24/8/2017). (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Bupati Gunungkidul, Badingah, seperti menemukan sosok yang tepat untuk menumpahkan curahan isi hatinya mengenai kondisi masyarakat di kabupaten yang dipimpinnya itu.

Pada acara Dialog Nasional Sukses Indonesiaku di Pondok Pesantren Mardhotullah Al Islam Kepek Kecamatan Wonosari, Kamis (24/08/2017), di hadapan Menteri Sosial (Mensos) Republik Indonesia, Khofifah Indar Parawansa, bupati bercerita mengenai tingginya kasus bunuh diri di kabupaten ini. “Kasus bunuh diri di Gunungkidul masih tinggi, Bu,” kata Badingah.

Namun begitu, upaya pencegahan sudah dilaksanakan, di antaranya, membentuk Satgas Berani Bidup, beranggotakan unsur pemerintah hingga masyarakat. “Karena sampai saat ini kasus bunuh diri sudah mencapai lebih dari 20,” tuturnya.

Badingah juga menceritakan kabupaten terluas di DIY ini saat ini sedang berbenah, salah satunya menurunnya angka kemiskinan dari 21,73 persen turun sebanyam 2,34 persen atau menjadi 19,9 persen. “Angka kemiskinan masih tinggi, namun bisa ditekan karena kami terus mengembangkan pariwisata yang memiliki multiplier efek,” bebernya.

Masalah sosial lainnya yang mampu ditekan di antaranya kasus perkawinan anak, hingga adanya sistem Informasi Desa atau SID. “Data SID langsung diolah langsung oleh desa sehingga nantinya data bisa dikomparasi dengan data Kementerian Sosial untuk menanggulangi masalah sosial,” jelasnya.

Sementara itu, Menteri Sosial Republik Indonesia, Khofifah Indar Parawansa menyatakan, sebanyak 10 juta keluarga miskin di berbagai wilayah Indonesia pada tahun 2018 akan menerima bantuan pangan nontunai (BPNT), sebagai pengganti beras rakyat sejahtera (rastra).

Baca Juga :  Lahan Pertanian DIY Makin Menyusut, Ada Apakah ?

Menurut dia, konversi dari rasta menjadi BPNT yang diberikan melalui Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) merupakan skema penyaluran subsidi pemerintah dengan cara baru. “Skema baru ini dinilai lebih efektif untuk mengakhiri permasalahan tentang kualitas beras yang selama ini banyak ditemukan tengah masyarakat,” kata Khofifah.

Dia mencontohkan, hingga saat ini banyak ditemukan kasus beras rasta berkutu, beras rasta dipenuhi jamur hingga beras rasta tidak layak konsumi.

Melalui skema penyaluran bantuan pangan nontunai, setiap keluarga penerima manfaat akan mendapat saldo bantuan sebesar Rp 110.000 per bulan. “Saldo tersebut tidak akan hangus dan bisa diakumulasikan dengan saldo bulan berikutnya,” tambahnya.

Skema penyaluran bantuan pangan nontunai saat ini sudah diujicobakan di 44 kota salah satunya DIY. Uji coba penerina bantuan non tunai sudah diberlakukan untuk 1,28 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).

Bantuan pangan nontunai dengan menggunakan smart card atau kartu keluarga sejahtera dapat digunakan untuk mengakses empat komoditas pangan, di antaranya, beras, telur, minyak goreng, dan gula.

Baca Juga :  Pejuang Kemerdekaan Berbagi Pengalaman Perang

Bahkan direncanakan ke depan kartu keluarga sejahtera akan ditambah akses lain dengan memasukan paket subsidi gas 3 kilogram. “Namun subisidi gas 3 kilogram masih akan dibicarakan dengan Kementerian ESDM,” ucapnya.

Menteri Sosial dalam kesempatan ini juga mengaku akan segera melakukan revisi terhadap pemahaman 4 sehat 5 sempurna. “Nantinya 4 sehat 5 sempurna akan ditambah satu lagi, yakni olahraga,” katanya.

Penambahan gerak badan atau olahraga ini masuk 4 sehat 5 sempurna setelah dilihat bahwa syarat sehat ini juga harus memasukkan gerak badan atau olahraga, sebagai salah satu indikator masyarakat yang sehat. “Pemahaman 4 sehat 5 sempurna ini akan direvisi. Karena sehat saja tidak cukup dengan makanan dan minuman yang bergizi saja, tetapi juga dengan olahraga,” ujar Khofifah.

Empat sehat lima sempurna terdiri dari empat sehat yakni nasi, lauk pauk, sayuran, buah-buahan, ditambah lima sempurna yakni susu. Kini akan ditambah dengan satu gerak badan atau olahraga. “Penambahan ini sedang kita bahas bersama dengan Wakil Presiden. Olahraga ini menurut kita sangat penting untuk dimasukkan,” tambah Khofifah.

Dalam kesempatan ini Mensos secara simbolis menyerahkan bantuan program keluarga harapan, beaya rehabilitasi sosial, bantuan CSR sanitasi untuk Pondok Pesantren Mardhotullah Al Islam, bantuan anak berprestasi dan bantuan sosial anak. (st aryono)