Kasus Novel Jangan Sampai Jadi “Munir Kedua”

164
Aktivis antikorupsi menggelar aksi di Bundaran UGM, Kamis (12/04/2018). (rosihan anwar/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Setahun berlalu sejak kasus penyiraman air keras terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) non-aktif Novel Baswedan, 11 April 2017, aparat kepolisian belum dapat mengungkap siapa pelaku dan dalang utama di balik penyerangan tersebut.

Publik bereaksi dengan respons lamban dari aparat kepolisian dan pemerintah. Aksi demonstrasi menuntut ketegasan pemerintah agar segera mengungkap kasus Novel Baswedan terjadi di sejumlah daerah, termasuk di Yogyakarta.

Presiden BEM UGM Lubertus Nawija Pratista kepada koranbernas.id mengatakan, aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa dan aktivis antikorupsi sebagai bentuk solidaritas kepada Novel yang merupakan perlambang martir perjuangan antikorupsi di Indonesia.

“Bertepatan dengan satu tahun penyerangan kasus Novel Baswedan, yang selama ini tak pernah selesai dan tidak diketahui siapa pelakunya, dan pemerintah yang diminta untuk membentuk TGPF tetapi juga tidak pernah dilakukan, maka ini bentuk kepedulian kami terhadap pemberantasan korupsi,” ujarnya.

Nawija menyatakan, publik mendesak pemerintah segera menuntaskan kasus tersebut secara lebih serius. Jika kasus ini dibiarkan, maka akan menjadi preseden buruk seperti layaknya kasus kematian tak wajar dari aktivis HAM Munir.

“Sebenarnya Novel adalah sImbol dari pemberantasan korupsi yang direpresi oleh sebagian pihak yang terlibat dalam kasus korupsi. Ini merupakan ancaman juga untuk pemberantasan korupsi di Indonesia,” paparnya.

Kuncoro Jati dari Aliansi Mahasiswa Antikorupsi dan juga aktivis Pusat Kajian Antikorupsi (Pukat) UGM menambahkan, selain menuntut sikap serius pemerintah, rakyat juga mendesak agar dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk mengungkap secara tuntas motif dan tokoh-tokoh utama yang berperan di balik kasus penyerangan terhadap Novel.

“Kami menuntut, yang pertama Polri untuk segera menuntaskan kasus ini. Kedua, kita mendesak Presiden membentuk TPGF, dan ketiga, kami mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk terus mengawal aksi ini,” kata Kuncoro, Kamis (12/04/2018).

Aktivis antikorupsi dan mahasiswa, ujar Kuncoro, akan berupaya mengawal kasus tersebut sampai tuntas. Dirinya berharap pemerintah dan aparat kepolisian tidak menutup-nutupi fakta sesungguhnya.

“Harapannya kami ingin agar ada titik terang. Kami tetap akan mengawal kasus ini sampai kapan pun,” terangnya.

Dalam dua hari berturutan, 11 dan 12 April 2018, sejumlah aksi sebagai bentuk solidaritas untuk Novel Baswedan digelar. Pada Rabu 11 April sore puluhan mahasiswa UGM tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UGM antikorupsi menggelar aksi di Bundaran UGM Yogyakarta.

Aksi lanjutan juga terjadi Kamis 12 April dalam bentuk aksi diam Kamisan yang dilakukan aktivis Kontras, Amnesty International and Social Movement Institute di Tugu Yogyakarta. (sol)