Kasus Teror Gereja: Suliyono Masuk Halaman tidak Membawa Pedang

623
Budijono menunjuk bagian lehernya yang disabet pedang oleh Suliyono. (Foto: Putut Wiryawan/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Teroris Suliyono, pemuda asal Banyuwangi yang menyerang umat yang sedang mengikuti misa di Gereja Santa Lidwina, Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, diyakini masuk ke dalam lingkungan Gereja Santa Lidwina tidak membawa pedang. Lelaki ini berjalan seperti umat lainnya, masuk ke dalam kompleks gereja melalui pintu gerbang utama.”Saya melihatnya sewaktu masih berjalan di trotoar sampai masuk halaman. Dia terlihat tidak membawa pedang atau barang panjang lainnya. Saya yakin itu!”

Fakta itu disampaikan Budijono (44), orang yang menjadi korban pertama kebrutalan Suliyono. Budi terkena sabetan pedang di bagian kepala belakang dan leher. Karena itu, Budijono merasa heran, dari mana Suliyono mendapatkan pedangnya.

Budijono mengisahkan hal itu Jumat malam (16/2/18) seusai mengikuti misa koselebrasi di Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog, Desa Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman. Misa perdana itu dipimpin Romo Dwi Harsanto, Pr. didampingi Romo Mantoro, Pr. Keduanya dari Paroki Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela Kumetiran, Yogyakarta. Romo Rafael Tri Wijayanto, Pr., dari Paroki Gereja Santo Albertus, Jetis, Yogyakarta juga datang mendampingi Romo Dwi Harsanto, Pr.

Baca Juga :  Ingin Makan Murmer di Mall, Datang Saja ke Galeria

Seperti diberitakan sebelumnya, Gereja Santa Lidwina diserang teroris pada Minggu (11/2/18). Pelaku yang diidentifikasi bernama Suliyono dari Banyuwangi, berhasil dilumpuhkan Aiptu Almunir, anggota Polsek Gamping yang datang ke gereja sekitar 15 menit setelah mendapat laporan. Aiptu Munir merobohkan Suliyono dengan tembakan pistol.

Setelah mengamuk di dalam gereja dan melukai beberapa orang dengan pedang, tersangka tidak dapat melarikan diri, karena banyak umat berusaha mencegah Suliyono kabur dengan melemparkan kursi dan barang-barang lain ke arah teroris.

Menurut Budijono, ia melihat dengan jelas tersangka tidak membawa barang mirip pedang panjang, karena ia berada di halaman depan gereja sambil mengawasi anaknya yang bermain-main di dekat pintu gerbang gereja. Karena itu, ia mengenali Suliyono yang masuk halaman gereja seperti umat Katholik lain yang hendak mengikuti misa.

Baca Juga :  Sleman Genjot Pembangunan Balai Dusun

Menurut sumber-sumber koranbernas.id, Suliyono sudah berada di sekitar lokasi kejadian sejak beberapa hari sebelumnya. Diperkirakan, setidaknya Suliyono berada di sekitar gereja sejak empat sampai lima hari sebelumnya. Tersangka juga sempat menginap di musholla yang berjarak sekitar 200 meter dari gereja.
Masyarakat setempat juga tidak cukup alasan mencurigai tersangka, seperti misalnya terlihat membawa pedang.

Aparat keamanan, sampai kini juga masih mengembangkan penyelidikan kasus ini. Dugaan kuat mengarah kepada adanya orang lain selain Suliyono. Sosok ini yang diduga kuat membantu memberikan senjata tajam pedang kepada Suliyono sesaat sebelum Suliyono mengamuk. Sosok pembantu ini yang juga diduga berteriak-teriak memprovokasi keadaan dengan teriakan “Bunuh saja. Habisi saja!” setelah Suliyono dilumpuhkan dan diseret ke luar gereja. (iry)