Kawasan Volcano Tour Merapi Tidak Direboisasi

105
Sri Sultan Hamengku Buwono X, Wakil Gubernur Paku Alam X, GKR Hemas bersama Bupati Sleman Sri Purnomo, menerima jabat tangan dalam syawalan di Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (26/06/2018). (Nila Jalasutra/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengatakan kawasan lereng Gunung Merapi yang saat ini dimanfaatkan masyarakat setempat untuk wisata volcano tour tidak akan direboisasi atau penggantian pohon maupun hutan yang terdampak erupsi 2010.

“Kawasan tersebut saat ini telah menjadi wisata favorit di Sleman dan memberikan manfaat ekonomi maupun peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat,” kata Sultan pada Syawalan di Rumah Dinas Bupati Sleman, Selasa (26/06/2018).

Menurut Sultan, banyak wisatawan luar daerah yang ingin melihat-lihat kawasan yang luluh lantak akibat diterjang awan panas Merapi tersebut.

“Oleh karena itu kawasan tersebut tidak dilakukan reboisasi dan dibiarkan seperti saat diterjang awan panas Merapi. Karena ini telah menjadi magnet bagi wisatawan,”katanya.

Ia mengatakan, banyaknya wisatawan ini telah membawa dampak positif bagi masyarakat yang membuka berbagai jasa wisata di kawasan terdampak melalui volcano tour.

“Ada berbagai aktivitas ekonomi masyarakat di sana. Sehingga ini sangat membantu peningkatan taraf kesejahteraan masyarakat setempat,” tutur Sultan.

Baca Juga :  Suka Duka Pengawas KB Jadi Cerpen Satu Buku

Namun kata Sultan, ada sisi konsekuensi juga dengan tidak dilakukan reboisasi di kawasan lereng Gunung Merapi tersebut yang juga harus dicarikan solusinya.

“Dengan tidak dilakukan reboisasi maka konservai air juga tergganggu, mata air di lereng Merapi bisa mengering,” katanya.

Sultan menambahkan,  selain itu dengan tidak adanya pohon-pohon besar maka jika terjadi erupsi Gunung Merapi maka tidak ada penahan laju awan panas yang meluncur ke bawah.

“Ini bisa berdampak awan panas akan menerjang sampai ke bawah karena tidak ada pepohonan yang menghalanginya,” katanya.

Sultan juga mengingatkan adanya pengambilan material lahar yang ada di lereng Merapi sangat baik memberikan kesejahteraan masyarakat di lereng Merapi. Tetapi yang perlu diperhatikan yang diambil adalah lahar atau lava tahun 2010 saja bukan tanahnya.

“Dan untuk mengambil lahar tadi jangan menggunakan bego sehingga harus tetap memperhatikan dan tidak merusak lingkungan lereng Merapi,” tandasnya.

Sementara Bupati Sleman, Sri Purnomo  menyampaikan secara langsung kepada Sultan terkait kondisi Kabupaten Sleman beberapa minggu lalu yaitu terjadinya sejumlah erupsi freaktik di Gunung Merapi.

Baca Juga :  Pramuka Tempat Mendidik Calon Pemimpin Bangsa

“Sejak 21 Mei 2018 yang lalu, status Merapi telah dinaikkan ke level “Waspada”. Sejak tanggal 11 Mei hingga 1 Juni telah terjadi 12 letusan freatik yang menunjukkan tingginya aktivitas vulkanik.  Sehubungan dengan hal tersebut, Pemkab Sleman telah melakukan langkah-langkah kesiapsiagaan bencana serta melakukan langkah sosialisasi kepada warga masyarakat, di setiap dusun dan sekolah-sekolah yang berada di sekitar Merapi tentang langkah-langkah kesiapsiagaan,” papar Sri Purnomo.

Menurut Bupati, dengan adanya kondisi tersebut, ia menilai warga Sleman telah belajar dari pengalaman sebelumnya dengan menunjukkan kesiapsiagaan bencana. Terlebih, saat ini Pemerintah Kabupaten Sleman terus berkoordinasi dengan BPPTKG untuk menetapkan langkah-langkah tindak lanjut penanggulangan bencana yang mungkin diperlukan.

Dalam kegiatan syawalan tersebut tidak hanya dihadiri oleh pejabat Pemerintah Daerah Sleman dan DIY, tapi juga turut mengundang sejumlah unsur masyarakat. (SM)