Kekerasan Siswa, Mengapa?

Oleh: Supriyo, S.Pd.I.,M.Psi., guru MTs Negeri 2 Purworejo

334

BELUM genap satu minggu, dunia pendidikan dikejutkan dengan kasus pembunuhan yang melibatkan siswa di dua Kabupaten berbeda. Kamis 1 Februari 2018, seorang siswa di Kabupaten Sampang, Madura, tega menganiaya gurunya hingga tewas hanya karena siswa tidak terima ditegur Sang Guru. Ironisnya, penganiyaan siswa terhadap guru tersebut terjadi di dalam kelas dan sedang dalam kegiatan belajar mengajar. Siswa yang tidak terima ditegur oleh guru karena mengganggu teman lainnya yang sedang belajar, tidak terima dan langsung memukul Sang guru di dalam kelas sehingga tak lama kemudian, Sang Guru tersebut meninggal dunia di rumah sakit karena mengalami MTA (Mati Batang Otak). Tiga hari sebelumnya, Selasa 30 Januari 2018, di Kabupaten Wonosobo, seorang pelajar Madrasah Tsanawiyah di Kaliwiro tewas di tangan sekelompok siswa SMP dalam perjalanan pulang sekolah. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari media cetak, elektronik, maupun berita Televisi, diberitakan bahwa sekitar pukul 13.45 WIB, korban pulang sekolah dengan mengendarai sepeda motor ketika melintas di Jembatan Pudang, Wadaslintang, dihadang oleh lima siswa SMP di Kaliwiro, kemudian terjadilah penganiayaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa siswa MTs tersebut. Pemicu dari kejadian ini hanyalah persoalan sepele, yaitu pelaku merasa tidak terima karena korban melotot pada pelaku, sehingga pelaku tidak terima dan berlanjut dengan penganiayaan yang menyebabkan korban tewas.

Belum lama ini juga, tepatnya di hari pertama siswa masuk semester genap, Selasa 2 Januari 2018, di Bogor terjadi tawuran melibatkan empat kelompok SMK yang menyebabkan satu orang tewas dan enam lainnya luka-luka akibat sabetan senjata tajam. Ironisnya, tawuran yang hingga memakan korban ini terjadi pada saat jam pembelajaran berlangsung dan dekat dengan kantor kepolisian. Berselang satu minggu kemudian, yaitu Rabu 10 Januari 2018 dunia pendidikan kembali lagi diwarnai kekerasan siswa dengan terjadinya tawuran siswa SMK di Jakarta yang menyebabkan satu orang kritis dan harus menjalani operasi akibat tujuh luka bacok di tubuhnya. Lagi-lagi, pemicu masalah ini hanya sederhana dan sepele karena saling ejek di media sosial.

Masih banyak kasus-kasus kekerasan lainnya yang terjadi pada anak atau siswa di Indonesia, baik yang melibatkan individu per individu maupun kelompok. Berdasarkan data pengaduan masyarakat ke Komisi Pelindungan Anak Indonesia (KPAI) dalam tujuh tahun terakhir, ditemukan sebanyak 26.954 kasus anak. Kasus tertinggi justru terjadi pada kasus anak berhadapan dengan hukum baik pelaku maupun korban, yaitu sebanyak 9.266 kasus, baru kemudian diikuti kasus di keluarga dan pengasuhan alternatif baik korban perceraian orang tua, perebutan hak asuh dan kasus penelantaran sebanyak 5.006, dan yang ketiga adalah kasus serta pornografi dan cyber crime baik sebagai korban maupun pelaku 2.358 kasus, selebihnya ada pada enam klaster dengan kasus berbeda.

Baca Juga :  Mahkamah Konstitusi dan LGBT

Pertanyaannya sekarang adalah, mengapa anak-anak atau siswa begitu mudah melakukan kekerasan, yang kadang hanya di picu oleh persoalan-persoalan sepele? Dalam pandangan psikologi, remaja yang terlibat kekerasan biasanya kurang mampu melakukan adaptasi pada situasi lingkungan yang kompleks. Kompleks di sini berarti adanya keanekaragaman pandangan, budaya, tingkat ekonomi, dan semua rangsang dari lingkungan yang makin lama makin beragam dan banyak. Situasi ini biasanya menimbulkan tekanan pada setiap orang. Pada remaja yang terlibat kekerasan, mereka kurang mampu untuk mengatasi, apalagi memanfaatkan situasi itu untuk pengembangan dirinya. Mereka biasanya mudah putus asa, cepat melarikan diri dari masalah, menyalahkan orang atau pihak lain pada setiap masalahnya, dan memilih menggunakan cara tersingkat untuk memecahkan masalah. Pada remaja yang sering melakukan kekerasan, ditemukan bahwa mereka mengalami konflik batin, mudah frustrasi, memiliki emosi yang labil, tidak peka terhadap perasaan orang lain, dan biasanya sangat membutuhkan pengakuan.

Sebagaimana kasus yang terjadi di Sampang, Wonosobo, Bogor, dan Jakarta di atas, juga mungkin kasus-kasus kekerasan lain, hal ini bisa dikatakan karena kurang pekanya terhadap perasaan orang lain dan keinginan pengakuan bahwa mereka “hebat”, maka terjadilah kasus kekerasan yang menimbulkan korban sia-sia.

Kurang pekanya terhadap perasaan orang lain dipicu karena tidak maksimalnya lingkungan, dalam hal ini terkhusus orang tua maupun dunia pendidikan yang tidak begitu memperhatikan kecerdasan lain dalam diri anak, yaitu kecerdasan interpersonalnya. Selama ini yang terjadi, orang tua maupun pelaku pendidikan lebih mengutamakan salah satu kecerdasan anak saja. Orang tua dan guru terkadang cenderung lebih menggali kecerdasan yang bersifat intelektual saja atau anak dianggap cerdas ketika anak bisa membaca, menulis dan berhitung dengan cepat, bisa mengikuti tes yang telah terstandar kemudian memperoleh segudang prestasi di bidang akademik, tanpa menggali kecerdasan lainnya pada diri anak terutama kecerdasan interpersonal, guna pencegahan terjadinya kekerasan pada diri anak dan sebagai bekal anak untuk terjun dalam kehidupan bermasyarakat dan mampu bersosialisasi.

Teori kecerdasan majemuk menyebutkan bahwa kecerdasan interpersonal merupakan kemampuan untuk mengamati dan mengerti maksud, motivasi dan perasaan orang lain. Peka pada ekpresi wajah, suara dan gerakan tubuh orang lain dan ia mampu memberikan respon secara efektif dalam berkomunikasi. Kecerdasan ini juga mampu untuk masuk ke dalam diri orang lain, mengerti dunia orang lain, mengerti pandangan, dan sikap orang lain.

Baca Juga :  Demokrasi di Titik Nadir

Orang yang mampu mengembangkan kecerdasan interpersonalnya, maka ia cenderung mempunyai kemampuan untuk peka terhadap perasaan orang lain, mampu memahami dan berinteraksi dengan orang lain, sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan di sekelilingnya. Sementara orang yang kurang berkembang kecerdasan interpersonalnya cenderung tidak diterima secara sosial, tidak peka, tidak peduli, egois dan sering menyinggung perasaan orang lain, bahkan bisa memunculkan sikap agresif. Oleh sebab itu, sekolah selayaknya perlu lebih memperhatikan dan mengembangkan kecerdasan interpersonal pada diri peserta didiknya.

Menurut May Lwin, dkk dalam bukunya How to Multiply Your Child’s Intelligence dikatakan, bahwa kecerdasan interpersonal bukan sesuatu yang dilahirkan bersama anak, tetapi lebih tepatnya sesuatu yang harus dikembangkan melalui pembinaan dan pengajaran, dan waktu yang paling baik adalah ketika masih muda bila perlu sejak usia dini, sedangkan tempat yang paling tepat adalah di lingkungan keluarga, sekolah atau lembaga pendidikan lainnya.

Dalam mengembangkan kecerdasan interpersonal, sekolah atau lembaga pendidikan, peran guru sangat penting untuk menumbuh-kembangkan misalnya dengan menanamkan pada diri anak untuk menghargai segala kemampuan yang dimiliki temannya dan tidak memberikan penilaian buruk pada kekurangannya. Mengasah kepekaan empati anak terhadap hal-hal yang terjadi pada orang-orang di sekitarnya, misalnya dengan menjenguk temannya yang sakit atau menghibur temannya yang sedang bersedih. Memotivasi dan memberikan dukungan kepada anak agar mereka tidak segan-segan untuk bekerja ama dengan teman-temannya. Melatih anak untuk saling menjaga komunikasi, saling menghargai pendapat temannya dan masih banyak lagi hal-hal yang bisa dilakukan guru di luar kegiatan akademik, yang sifatnya untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal peserta didik.

Potret suram dunia pendidikan dengan terjadinya kasus-kasus kekerasan yang melibatkan anak, dipungkiri maupun tidak, hal ini disebabkan karena ketidak-seimbangan pendidikan yang diterima anak. Oleh karena itu orang tua, guru, lembaga pendidikan dan masyarakat mempunyai peran penting untuk mengerti dan menghargai kemampuan anak, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sehingga kecerdasan interpersonal anak dapat berkembang dengan baik, di samping kecerdasan lainnya, agar pada masa yang akan datang, kasus-kasus kekerasan anak tidak lagi terjadi. *** (Editor: Putut Wiryawan)