Kelompok Mirror Pameran di Tembi

624
Raja Babil, karya Alex Luthfi. (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Perupa dari Yogyakarta tergabung dalam kelompok “Mirror” akan memamerkan karyanya di Tembi Rumah Budaya Jalan Parangtritis Km 8,5 Timbulharjo Sewon Bantul.

Pembukaan pameran direncanakan Rabu (18/10/2017). Pameran bertajuk ‘Mirror # 1” kali ini akan berlangsung sampai 7 November 2017.

Para perupa itu adalah Alex Luthfi, Anuegar Eko Triwahyono, Astuti Kusumo serta tiga tamu Mirror dari Malaysia.

Mirror Art Community lahir dari kebutuhan dan rasa yang sama dalam menghayati hidup sebagai pencipta karya seni.

Inilah yang mempengaruhi AZF Tri Hadiyanto, Anugerah Eko Triwahyono, Astuti Kusumo dan Alex Luthfi R, sepakat mendirikan Mirror Art Community untuk wadah beraktivitas seni.

Konsep maupun corak seni mereka berempat memang beda gaya tetapi semangat berkesenian tidak berbeda. Keempat jiwa ini bersatu membangun keluarga seni yang harmonis dan dinamis.

Roro Jonggrang, karya Astuti Kusumo. (istimewa)

Pada Juli 2017 Mirror Art Community sepakat berkerja sama dengan Rumah Budaya Tembi mengelar pameran pertama.

Namun rupanya takdir tidak dapat dielakkan, salah seorang keluarga  Mirror dipanggil oleh Tuhan pada Juni 2017.

“AZF Tri Hadiyanto meninggalkan kami untuk selama-lamanya, menghadap kepada Sang Khaliq. Pameran sepakat kami tunda karena masa berkabung,” ungkap Alex Luthfi mewakili rekan-rekannya, Jumat (13/10/2017).

Complicated Head, karya Eko Triwahyono. (istimewa)

Yang istimewa dari pameran perdana ini selain dipersembahkan kepada sahabat  AZF Tri Hadiyanto (alm), adalah bergabungnya dua sahabat artist Malaysia yang bersedia memenuhi undangan.

Mereka berdua selain sebagai artist fine art, juga pensyarah (dosen) di Fakulti Seni Halus dan Seni Reka UTM  Shah Alam Malaysia.

Para perupa yang pameran ini menjalani proses kreatif  yang berbeda serta masing-masing memiliki simbol serta kekhasan yang dapat dibaca dari karya seninya.

AZF Tri Hadiyanto (alm) lukisannya dikerjakan dengan sangat  detail dan menghadirkan banyak motif dan simbol personal yang diciptakan sebagai wujud religiusitasnya kepada Sang Pencipta.

Kala Bodong Takon Bopo, karya Tri Hadiyanto Ditya. (istimewa)

Angerah Eko Triwahyono banyak mengolah eskpresi dari karakter wajah manusia dalam berbagai varian warna dan goresan kuas yang ekspresif.

Astuti Kusumo, obyek kuda dipilih menjadi bahasa ungkapnya. Goresan kuas yang liar dan kuat dengan warna-warna cerah, menghasilkan lukisan yang dinamis ekspresif.

Alex Luthfi R, pada periode ini membuat lukisan series  tragedi Rohingya. Obyek manusia,  flora dan fauna adalah metafor dari indahnya harmonisasi kehidupan yang diimpikan manusia.

Perupa Malaysia Mohd Suahimi Tohid pengkarya grafis banyak mengolah motif ragam hias Islam (arabesque). Jiwa religiusnya banyak memberi pengaruh seninya.

Mohd Fazli Othman,  sebagai pengkarya tidak memisahkan imaginasi-imaginasi dalam karya seni dari unsur-unsur sekitar yang senantiasa berubah.(sol)