Kelompok Sendhut Senut : Mbak Minuk Di Tengah Cemburu yang Masif

506
Kelompok Sendhut Senut memainkan lakon berjudul "Bubur Mbak Minuk".

KORAN BERNAS.ID — Kelompok Sedhut Senut kembali menggelar pertunjukan sandiwara keliling berbahasa Jawa. Dua tempat menjadi lokasi pertunjukan mereka , setelah Sabtu (19/8) kemarin, tampil di Pasar Trukan Dusun Pokoh II Kecamatan Dlingo Bantul. Pertunjukan berikutnya tampil di Dusun Pagergunung Piyungan Sitimulyo Bantul pada Minggu atau 20 Agustus 2017.

Kelompok ini membawakan lakon “Bubur Mbak Minuk”, yang naskahnya merupakan adaptasi dari lakon Jeng Menul karya Puthut Buchori. Kelompok Sedhut Senut yang berdiri di tahun 1998 itu sampai saat ini masih konsisten menginisiasi pertunjukan keliling desa atau dari kampung ke kampung. Respons masyarakat pun cukup tinggi atas pertunjukan yang dibawakan kelompok tersebut.

Karya Bubur Mbak Minuk sudah dipentaskan sebelumnya di Kampayo XT Square dan juga pada momentum general reherseal di Dusun Karangjati Kasongan Bantul. Sandiwara ini memotret seorang perempuan bernama Minuk yang berjuang untuk menghidupi dirinya dengan berjualan bubur di Pasar Kliwon. Sejak suaminya Cokro Klewang  masuk penjara akibat kasus pembunuhan, Minuk adalah sosok perempuan yang tegar dan pekerja keras.

Memiliki paras ayu dan bertubuh sintal, dalam lakon ini, Minuk dikisahkan menjadi incaran para pelanggan laki-laki yang nakal. Mereka memiliki modus tertentu ketika jajan bubur yang dijual Minuk.

Tidak hanya memesan bubur, sejumlah pelanggan pria mengungkapkan rayuan gombal yang ditujukan bertubi-tubi kepada Minuk. Kadang Minul geram, karena ia merasa risih dengan statusnya yang dianggap seperti masih gadis padahal ia berjualan demi menghidupi dirinya sendiri.

Lakon Mbak Minuk dan Representasi Korupsi

Selain sering digoda oleh pembeli, Sinta juga mendapatkan fitnah keji dari Sinta. Seorang bakul sego gurih yang merasa tersaingi. Sejak seminggu, Minuk jualan di pasar semua pelanggan berpindah ke warungnya Minuk. Sinta cemburu, lantas dia mencoba membujuk siapapun yang jajan bubur Minuk terutama yang laki-laki selalu ia provokasi. Sinta menebar isu tentang bubur Mbak Minuk yang menggunakan obat-obatan kimia seperti borax dan formalin.

Baca Juga :  Mengenal Bagong Lewat Ruang Waktu

Sementara serangan fitnah keji dari Sinta juga disebarkan ke para perempuan di mana suami mereka kerap menjadi pelanggan bubur Minuk. Sinta bercerita, buburnya Minuk juga menggunakan penglaris agar pelanggannya terus berdatangan dan betah jajan buburnya. Kecemburuan ini cukup menjadi konflik yang parallel sehinggap membawa dampak bagi pelakon yang lainya seperti tokoh Dodo dan Nanik sepasang suami istri yang mulai kacau karena anaknya Dafa mulai suka jajan di tempat Minuk. Dafa yang masuk usia pubertas kemudian juga sering mbajul Minuk.

Konflik dalam lakon ini sebenarnya sederhana saja. Ingin menyoroti soal fenomena sehari-hari tentang kecemburuan lalu berakumulasi menjadi kecurigaan. Dan parahnya justru rasa curiga itu jika di sulut dengan nalar yang tidak logis semakin menjadi amarah yang tak terbendung. Ada yang mudah tergoda, ada yang berambisi ingin menghabisi, naluri laki-laki dan sesekali bicara soal kesetiaan.

Minuk merupakan representasi perempuan yang menjadi korban karena seorang yang mudah curiga tanpa menggunakan nalar. Persaiangan dalam perdagangan itu sebenarnya biasa saja ketika ada yang merasa tersaingi dan nalar buntu semua berimbas menyulut kebencian. Kebencian yang ditularkan atau diprovokasikan ke orang lain menjadikan emosi yang tak terkendali.

Memilih Lakon Berarti Memilih Penonton

Lakon ini awalnya diprediksi akan menjadi pertunjukan yang biasa saja. Karena konfliknya cukup familier dan sering terjadi disekitar kita. Tetapi justru diluar ekspektasi kami sebagai pelakon. Di Dlingo misalnya, lakon ini digelar di jalan aspal kampung. Jalan masuk kampung ditutup hanya untuk kebutuhan tontonan kami. Semua penonton duduk lesehan sepanjang ruas jalan aspal.

Baca Juga :  Ini Dia Suami Sempurna Ala Amanda Rawles

Dari anak-anak sampai dengan lansia semua menyimak sampai dengan selesai. Sesekali mereka tertawa lepas karena adegan yang dimainkan lucu, sesekali kadang mereka menimpali pelakon diatas pentas lalu saling respon dan improvisasi antara pemain dan penonton terjadi.

Teater kerakyatan semacam ini menjadi semakin akrab dengan warga di pelosok desa yang mungkin jarang sekali bisa mengakses pertunjukan. Menonton hiburan adalah suatu yang “mahal” ketika dirumah hanya ada televise dan radio sementara di tempat tinggal mereka tidak memiliki Taman Budaya seperti di kota.

Masyarakat sebenarnya rindu dengan tontonan kerakyatan seperti yang dibawakan oleh Sedhut Senut. Romantisme itu sering terngiang ketika pentas digelar ditengah keramaian, dengan lampu panggung gemerlap, sound horn yang dipasang di pepohonan, dan tikar sebagai tempat duduk lesehan. Seperti kembali ke masa dimana Ketoprak Tobong pernah berjaya di Yogyakarta tahun 1960-an sampai 1970-an.

Kelompok Sedhut Senut akan terus berada di jalur bahasa Jawa, memilih kultur Jawa sebagai lintasan yang nyaman untuk duduk sejajar dan komunikatif bersama penonton. Karena kelompok ini yakin bahwa lakon apapun yang dipentaskan tetap akan bertemu dengan penontonnya dimanapun itu dan kapanpun.

Hal itu pernah dibuktikan ketika tahun 2013-2014 saat masih bernama Komunitas Sego Gurih. Mereka mementaskan lakon berjudul “Purik” sebanyak 30 kali pementasan di berbagai daerah seperti Bantul, Sleman, Gunungkidul, Yogyakarta, Klaten dan Wonogiri. Tentang sepak terjang Kelompok Sedhut Senut ini siapa dan bagaimana tentang gagasan sandiwara berbahasa Jawa bisa disimak di www.kelompoksedhutsenut.wordpress.com . (*/ros)