Keluarga Alex dan Mukjizat Air Hujan

SEHAT -- Keluarga Alex yang sehat dan bahagia. (Foto: V. Kirjito, Pr.)

AWAL tahun 2014, Alex Kusnadi (37) dan istrinya, Riyanti (29), menjumpai saya di Muntilan. Pasangan yang telah 10 tahun menikah dan dikaruniai dua anak, Arina (9) dan Dismas (5) itu curhat dengan nada beban berat.

Alex, petani yang tinggal di dusun Gemer, desa Argomulyo, kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang itu mengaku tidak bahagia. Bukan karena faktor ekonomi, tetapi lebih disebabkan oleh kesehatan istri dan dua anaknya. Istrinya divonis sakit hepatitis B. Sudah harus minum obat setiap hari. Keluhannya mudah pusing, cepat lelah, perut mual, susah makan. Riyanti juga gampang ngantuk. Lebih banyak tidurnya daripada kerja di ladang.

Sedangkan Arina, putri sulungnya, sering panas badan, pusing, batuk, pilek. Obat farmasi sudah terbiasa diminum sejak kecil. Opname di rumah sakit pun sudah dialami beberapa kali.

Sementara putra bungsunya, Dismas, malah menambah beban khusus. Daya ingatnya lemah. Sering kejang-kejang. Solusinya mesti rumah sakit. Alex khawatir menjadi beban anak dan guru, maka anak yang diduga cacat mental bawaan ini tidak disekolahkan. Biaya pengobatan keluarga terasa amat berat. Hutang kiri kanan tak terhindarkan.

Air yang Berbeda

Tahun 2013 saya mulai memusatkan pehatian pada air hujan. Pinjam istilah kalangan akademik, riset eksperimental air hujan dengan metoda elektrolisa untuk air minum. Saya sendiri sudah mengonsumsi dan tidak ada masalah. Maka saya anjurkan Alex untuk belajar.

Dalam waktu sehari saja, Alex sudah memiliki bejana ionizer buatannya sendiri. Bulan Maret 2014, mulailah sekeluarga minum air hujan yang diionisasi sendiri.

Saya ingin tahu bagaimana komentar, pengalaman dan efek-efeknya. Arina yang waktu itu duduk di kelas 3 SD berkomentar, “Air ini beda dengan air biasa. Lebih ringan ditelan, halus, ada manis-manisnya.”

Dismas yang paling kecil, juga sangat suka minum “banyu setrum” (istilah warga untuk air hujan yang sudah diionisasi). Tentu saja Alex juga minum.

Keluarga Alex akhirnya mempunyai kebiasaan baru yang dianggap aneh oleh tetangganya. Menampung air hujan, menyaring dan mengolahnya menggunakan Charger listrik arus searah (DC) sekitar 10 Watt, buatan sendiri. Itulah air minum baru sehari-hari mereka, dalam jumlah yang lebih banyak daripada kebiasaan minum sebelumnya.

Indikator

Dalam konteks riset ekperimental kemandirian air minum, saya menemukan indikasi-indikasi air yang sebenarnya sangat dibutuhkan tubuh. Pertama, air –tanpa campuran apapun– yang terasa ringan, dingin, lancar melewati tenggorokan, nyaman (istilah bahasa Jawa, anyep) di perut, dan tidak membuat lambung merasa berat.

Kedua, lebih melancarkan buang air kecil, lebih jernih. Demikian juga buang air besar, lebih rutin tiap hari, lancar, tidak berlama-lama keluarnya. Lebih mudah berkeringat. Juga lebih sering membuang gas (kentut).

Baca Juga :  Jogja Kekurangan Pohon Perindang, Kenapa Ditebang ?

Ketiga, bau tidak nyaman yang mengganggu diri sendiri maupun sekitar, entah itu urin, feses, keringat, bau mulut (Jawa, abab) hingga ketombe rambut, berkurang secara signifikan.

Air minum dengan indikator-indikator itulah yang berperan signifikan dalam proses metabolisme yang menghasilkan kualitas cairan tubuh, yaitu darah yang bersih atau bagus, sehat. Untuk memastikannya, silahkan uji lab darah, urin dan feses.

Memilih Air

Maka dari itu, bahan baku air minum perlu dipilih dengan bantuan alat ukur TDS (Total Dissolved Solid). Menurut Permenkes No 495 tahun 2010, TDS tertinggi air minum 500 ppm (part per million) atau 500 mg/L (miligram per liter). Pemahamannya, makin di bawah 500 ppm tentunya makin aman. Nah, air hujan yang jatuh di atap rumah, ditampung dalam bejana yang bersih, diendapkan, nilai TDS-nya rata-rata di bawah 30 ppm. Bandingkan dengan akuades yang dijual di apotek itu, TDSnya 0 ppm. Berarti, air hujan mendekati air murni. Air tanpa mineral yang tentunya bakteri tidak bisa tahan hidup.

Pemilihan air ini perlu dipahami dalam konteks dan proses tubuh membuat darah. Bukan hanya sekadar menuruti rasa haus. Apalagi sekadar hobi minum nikmat-nikmat dengan campuran gula, teh, kopi, sirup, jahe, dan sebagainya.

Bersih Pangkal Sehat

Riset eksperimental kemandirian air minum ini mengarah pada kebersihan tubuh bagian dalam. Tepatnya kebersihan cairan tubuh, kebersihan darah. Kualitas cairan darah itulah yang perlu dieksplorasi pengaruhnya terhadap kesehatan tubuh.

Kembali ke keluarga Alex–Riyanti tadi. Bagaiamana pengalaman mereka, apakah benar menjadi lebih sehat? Saya sangat berkepentingan untuk mengetahuinya. Saya kumpulkan data-data empirik maupun pengalaman subyektif di tingkat perubahan kesehatannya. (Catatan: keluarga Alex bukan satu-satunya yang melakukan eksperimen kemandirian air minum dari air hujan).

Faktanya, benar bahwa Alex sekeluarga minum air hujan yang sudah diionisasi. Di rumahnya ada sekitar lima bejana ionizer. Mampu memproduksi paling sedikit 10 liter per hari. Sekeluarga minum sekitar 3–5 liter per hari. Persediaan air hujan disimpan dalam water torn kapasitas 300 liter dan ratusan botol plastik yang dijadikan hiasan dinding rumah.

Sedangkan air dari mata air gunung hanya untuk mandi, mencuci. Masak nasi pun menggunakan air hujan setrum. Meskipun beras raskin, tetapi enak dan tidak mudah basi.

Terakhir, Alex membuat ioizer berkapasitas 300 liter, meniru di Labora Udan Muntilan.

Perbaikan Kesehatan

Sekitar tiga bulan sesudah rutin minum, Riyanti mengatakan kepada Alex, “Pak’e, obatku habis. Tapi tidak usah membeli. Awakku wis penak”.

Baca Juga :  Jamu Bagolan yang Terlupakan

Alex memeriksakan istrinya ke dokter. Hasil pemerikasaan disebutkan bahwa hepatitis masih ada, tetapi tidak ada pertumbuhan. Sejak itu obat hepatitis tidak pernah beli lagi.

Saya melihat sendiri semangat kerja Riyanti membaik. Ke ladang menggendong pupuk, membawa pulang panenan sayuran, merumput untuk kambingnya. “Tidak mudah capai lagi,” ungkapnya penuh nada gembira.

“Arina berubah menjadi anak yang gembira. Belajar di rumah tidak perlu di suruh-suruh. Membuat jadwal sendiri kapan belajar, kapan bermain,” kata Alex dengan nada heran dan kagum.

Alex menambahkan informasi, Dismas kelihatan berubah. Semangat belajarnya tumbuh. Meski pengajaran sudah berjalan setengah tahun, awal bulan April 2014 Alex mendaftarkan ke TK. Kepala sekolahnya juga tidak keberatan, malah sangat senang. Langsung di terima di TK Besar.

Pada akhir tahun pengajaran, ada kejutan dari kedua anaknya. Dismas naik ke kelas satu dengan nilai yang bagus. Arina, juga naik kelas empat dengan raport ranking satu, untuk pertama kalinya. Itu berkat kesehatannya yang meningkat signifikan.

Bonus Istimewa

Genap satu tahun berjalan (2015), keluarga Alex sungguh merasakan kebahagiaan hidup sehat. Hampir tidak ada keluhan yang harus diatasi dengan obat. Keharmonisan suami istri keluarga muda yang sempat terganggu selama 4 tahun karena Riyanti sakit hepatitis B itu seolah dikembalikan oleh budaya minum baru dari hujan itu.

Kabar mengejutkan datang. Riyanti hamil. “Campur aduk jadi satu, antara bersyukur dan kecemasan,” curhat Alex kepada saya.

Saya anjurkan supaya rutin kontrol ke dokter. Kecemasan pelan-pelan berubah menjadi harapan dan kegembiraan. Bayi dalam kandungan sehat, tumbuh normal, hingga saat kelahirannya pun sangat normal.

Bonus anak ketiga itu diberi nama Iwarih Rainanda Putri. Tumbuh pesat, sehat, sudah tampak cedas, riang, aktif, nggemeske. Itulah berkat empirik dari kesehatan yang prima.

Sehat Berkat Hujan

Empat tahun sudah berjalan keluarga Alex mandiri air minum dari hujan. Sekeluarga sering diajak ke Muntilan, tempat saya sehari-hari melakukan penelitian eksperimental. Saya lihat sendiri semuanya sehat. Tidak pernah minum obat apapun. Keluarga Alex jauh lebih bahagia, bersemangat dan selalu optimis. Masalah memang selalu ada, tetapi menurut pengalamannya, selalu ada solusi tak terduga, namun tetap masuk akal.

“Bagi saya orang tani ndeso dan bodho ini, sungguh-sungguh mukjizat. Karya Tuhan nyata melalui air, malah air hujan,” ungkap Alex dalam tulisan pengalamannya.(*)

(Tulisan ini juga dimuat di Koran Bernas cetak edisi 14/2018, Tanggal 11 – 26 April 2018)