Keluarga Berperan Mengikis Radikalisme

123

PENDIDIKAN anak merupakan tanggung jawab keluarga. Pendidikan dalam keluarga dapat diumpamakan sebagai mata uang bagi anak yang berlaku di segala masa maupun segala tempat. Pendidikan adalah munculnya benih akal kematangan individu dan struktur kepribadian. Pendidikan dasar yang ditanamkan keluarga sejak dini, akan membawa banyak keuntungan dalam hidupnya kelak. Keluarga adalah ujung tombak pendidikan yang paling nyata, tepat dan amat besar pegaruhnya. Keluarga adalah salah satu tempat dibentuknya karakter, sikap, perilaku dan proses naturalisasi sosial dalam membentuk watak serta kepribadian anak.

Pendidikan Keluarga juga dapat dikatakan sebagai pendidikan pertama dan utama, dalam membentuk jati diri generasi penerus bangsa. Anak-anak yang dilahirkan dalam bingkai keluarga yang baik, akan menjadi salah satu aset utama penerus pembangunan nasional. Dengan pendidikan keluarga, anak akan memiliki karakter yang kokoh dan memiliki jati diri bangsanya. Perwarisan nilai-nilai budaya sangat tepat dilakukan keluarga, karena pendidikan dalam keluarga merupakan modal dasar bagi perkembangan kepribadian anak pada masa selanjutnya.

Pada era modern, keluarga bertanggung jawab mendidik anak-anak dengan benar dalam kriteria yang benar, jauh dari penyimpangan. Harapannya, banyak anak yang bisa berpikiran dewasa dan memiliki pendidikan yang matang. Keluarga, adalah lingkungan utama dalam pendidikan anak.

Keluarga bertanggung jawab menyelamatkan faktor-faktor cinta kasih serta kedamaian dalam rumah, menghilangkan kekerasan. Keluarga harus mengawasi proses pendidikan.

Menurut Fuad Ihsan, keluarga merupakan pengalaman pertama bagi anak-anak. Pendidikan di lingkungan keluarga dapat menjamin kehidupan emosional anak untuk tumbuh dan berkembang. Di dalam keluarga akan tumbuh sikap tolong menolong, tenggang rasa, sehingga tumbuhlah kehidupan keluarga yang damai dan sejahtera. Keluarga berperan dalam meletakkan dasar pendidikan agama dan sosial. (Fuad Hasan, 2001: 18).

Bagi anak, keluarga bukan hanya sekadar saudara atau orang yang memiliki darah dan DNA sama. Namun keluarga merupakan satu-satunya tempat untuk anak-anak berlindung dan mempertahankan diri dari hal yang membahayakan. Mereka mungkin hanya bisa menilai mana hal yang menakutkan atau tidak, bukan hal yang baik dan buruk.

Baca Juga :  Moral Etik DPR Rendah

Anak dapat berpikir baik dan buruk tergantung dari didikan atau binaan keluarga. Ada pun peran keluarga dalam pendidikan anak:

Menjadi Guru; Guru tak hanya ditemukan di sekolah, mereka yang bisa mengajar orang lain merupakan guru. Namun, ada guru yang dianggap baik karena mengajarkan hal baik atau justru sebaliknya. Peran pertama keluarga, tentu menjadi guru bagi sang anak. Ketika anak membuka mata, keluargalah yang membantu menjelaskan apa yang anak lihat.

Menjadi Teman; Dalam proses belajar, termasuk di dalam lingkungan keluarga, orang tua harus berperan sebagai teman bagi si anak. Seringkali, anak merasa takut dan malas jika belajar diawasi keluarga, terutama mereka yang sudah bersekolah dan sudah tahu akan suasana sekolah serta teman. Menjadi teman bagi mereka dalam mengenal lingkungan dan belajar ketika di rumah, adalah penting.

Seorang hakim; Selain menjadi teman atau guru, keluarga juga bisa menjadi seorang hakim bagi anak tersebut. Hakim di sini dimaksudkan bahwa mereka harus bisa membantu menentukan hal yang anak-anak tidak mengerti atau tidak tahu. Terutama demi kebaikan anak tersebut dan orang banyak. Selain itu, ada juga hal yang paling fatal jika peranan ini tidak dilaksanakan. Anak mungkin tidak tahu dengan jelas, mana hal yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan oleh keluarga.Terkadang, menjadi hakim merupakan hal utama yang dibutuhkan dalam sebuah keluarga.

Pengawas; Menjadi pengawas, juga penting untuk pendidikan anak. Bahkan, kadang diperlukan sekalipun anak-anak sudah dewasa. Sekalipun penting, harus disadari bahwa mengawasi secara berlebihan, justru membuat anak tidak dapat berkembang dengan baik. Bahkan anak cenderung tertutup, tidak senang bersosialisasi dan tidak senang belajar hal baru. Cobalah buat batasan dengan jelas tanpa menyebabkan kerugian pada anak-anak.

Baca Juga :  Membaca Medsos: Mana Bohong, Mana Benar?

Mengontrol dan Mengatur; Mengontrol dan mengatur anak-anak mungkin menjadi hal buruk bagi sebagian orang, namun kontrol diharuskan dalam pendidikan anak. Bahkan harus dilakukan sejak awal. Sejak dini anak-anak harus diatur dan didisplinkan untuk bisa mengatur waktu dengan baik, sehingga ketika besar mereka akan terbiasa dengan hal yang teratur. Nah, mengatur anak merupakan salah satu peran keluarga dalam pendidikan yang bisa diterapkan pada anak-anak.

Merangkul Anak; Merangkul anak mungkin terdengar mudah. Namun kenyataannya bahkan hingga anak dewasa dan telah meninggalkan keluarga inti untuk menikah tidaklah mudah. Banyak keluarga yang tidak bisa saling merangkul. Terutama jika mereka terbentur masalah keluarga seperti merawat orang tua atau masalah warisan dan harta.

Kasih sayang merupakan salah satu hal yang bisa diajarkan pada anak oleh keluarga, terutama keluarga inti seperti ayah, ibu dan kakak atau adik. Merangkul anak dengan kasih sayang sangat dibutuhkan.

Membimbing Anak; Apakah penting keluarga membimbing anak? Jawabannya sangatlah penting. Kepribadian dan jalan pikir setiap anak berbeda. Mungkin ada beberapa anak yang masih bisa bertahan pada keadaan yang sangat tidak baik, namun ada juga anak yang terpengaruh jika tidak dibimbing ke arah yang lebih baik.

Oleh karena itu dalam membentuk karakter bangsa dan negara yang lebih baik dan mempunyai pandangan maju ke depan, perlu kiranya pemerintah mengambil peran. Peran itu diwujudkan  dengan mengembangkan strategi budaya, sosial, ekonomi dan kesejahteraan. Hal ini akan memberi ruang lebih besar bagi keluarga sebagai wahana pendidikan perilaku mulia, penuh kasih sayang, rasa empati, toleransi, dan perdamaian bagi generasi muda bangsa untuk menangkal terjadinya bibit2 radikalisme. *** (Penulis adalah guru SD Negeri Puluhan Kecamatan Sedayu, Bantul)

(Tulisan ini juga dimuat di Koran Bernas versi cetak edisi Minggu IV Mei 2018/28 Mei 2018)