Kenali Bahaya Komunis Lewat Nobar G30S PKI

307
Sekitar 900 siswa SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta nobar film 30 S PKI di sekolah, Sabtu (30/09/2017). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Kampanye bahaya komunis melalui pemutaran film G30S PKI terus dilakukan. Tak hanya menyasar ke masyarakat umum, upaya menangkal paham tersebut dilakukan hingga ke tingkat lembaga pendidikan, mulai dari pendidikan dasar hingga tinggi.

Salah satunya di SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Sekolah tersebut mengajak sebanyak 921 siswa dan 100 guru serta karyawan nonton bareng (nobar) film Pemberontakan G30S PKI di sekolah setempat, Sabtu (30/09/2017).

“Kami menggelar nobar ini sebagai salah satu upaya penangkal berkembangnya paham komunis di kalangan generasi muda,” ujar Kepala SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta Slamet Purwo disela acara.

Kegiatan kali pertama itu, menurut Slamet dilakukan sekolah dalam memfasilitasi peserta didik mengenal sejarah masa lalu. Siswa yang masih berusia belasan tahun dan lahir di tahun 1994-an belum pernah mengenal peristiwa tahun 1967 tersebut.

Melalui nobar tersebut, sekolah berupaya mengenalkan lebih jauh tentang sejarah kelam bangsa akibat paham komunisme. Dengan demikian agar mereka tidak terombang-ambing dengan maraknya pemberitaan di berbagai media sosial yang ada saat ini.

Pemahaman tersebut bisa didapat melalui informasi dari film sejarah tersebut yang bersumber dari negara. Karenanya sekolah pun berinisiatif menggelar nobar film tersebut.

Namun film itu berdurasi cukup panjang karena lebih dari 3 jam. Untuk itu pemutaran film dipersingkat menjadi 1,5 jam tanpa meninggalkan esensi dari film itu.

Dalam pemutaran film tersebut, para guru memberikan pendampingan kepada siswa di masing-masing kelas. Setelah selesai, para siswa diajak berdiskusi dan membuat rangkuman film yang mereka tonton untuk kemudian nilainya dimasukkan dalam kompetensi dasar tiap siswa untuk matapelajaran Sejarah..

“Kami ingin terus menekankan jika paham yang bertentangan dengan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara kita tentu tidak akan diterima. Kegiatan ini juga menjadi rangkaian upacara Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober,” jelasnya.

Sementara Danramil Kecamatan Umbulharjo, Mayor Kavaleri Cecep Syaifuddin mengungkapkan, pihaknya menyebarkan pengetahuan dan sejarah terkait peristiwa G30S PKI melalui film ke sekolah-sekolah, mulai dari SD hingga perguruan tinggi (PT).

“Pemutaran film ini diharapkan membuka wawasan anak-anak akan bahaya komunis. Sehingga para siswa menyadari tidak ada ideologi lain selain empat pilar bangsa Indonesia, yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” imbuhnya.(yve)