Kerukunan, Modal Utama Membangun Bambanglipuro

326
Camat Bambanglipuro Drs Anom Adianto Bsc foto bersama jajaran Muspika, unsur lintas sektoral dan tokoh-tokoh agama  di halaman Kecamatan Bambanglipuro. (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Kecamatan Bambanglipuro berada 10 kilometer arah selatan dari ibukota Kabupaten Bantul. Dengan  luas wilayah 2.282,1780 Hektar, Kecamatan ini  terbagi menjadi tiga desa yakni Desa Sumbermulyo yang dipimpin Lurah Dra Ani Widayani, Desa Sidomulyo dengan Lurah Edi Murjito SPd serta Desa Mulyodadi yang dipimpin Lurah Ari Sapto Nugroho SH.

Di sebelah utara, Bambanglipuro berbatasan dengan Kecamatan Bantul, sebelah Timur dengan Kecamatan Pundong, sebelah Selatan dengan Kecamatan Kretek dan sebelah Barat dengan  Kecamatan Pandak.

Penduduk Bambanglipuro  tercatat  42.745 jiwa dengan  menganut berbagai agama yakni Islam, Katolik dan Kristen. Di wilayah ini terdapat gereja besar  yakni gereja Hati Kudus tuhan Yesus (HKTY) atau dikenal dengan nama gereja Ganjuran. Gereja ini memiliki 6.000 umat bukan hanya dari Bambanglipuro namun wilayah lain.

Saat perayaan hari-hari besar seperti Natal ataupun paskah jumlahnya bisa tiga kali lipat  yang datang dari berbagai daerah hingga luar DIY. Mereka datang untuk beribadah ataupun ziarah ke candi yang berada satu kompleks dengan gereja.

Di Bambanglipuro juga banyak terdapat masjid dan Mushala untuk ibadah umat Muslim, serta  ada  Gereja Kristen Jawa (GKJ) Sidomulyo yang digunakan beribadah oleh penganut  Kristen Protestan.

“Kendati kita terdiri dari beragam agama, namun semua mampu hidup berdampingan secara damai dan rukun. Selama ini relatif tidak ada gejolak berarti di Kecamatan Bambanglipuro,” kata Camat Drs Anom Adianto kepada koranbernas di kantornya beberapa waktu lalu.

Menurut dia, menjaga situasi kondusif, aman, rukun dan damai menjadi modal untuk membangun wilayah Bambanglipuro. “Karena tanpa kerukunan, tentu akan sulit bagi kami dan semua elemen beserta masyarakat untuk melaksanakan proses pembangunan demi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Bambanglipuro,” katanya.

Dirinya bersyukur semua tokoh  dan umat beragama di Bambanglipuro selalu mengembangkan sikap tolerensi sehingga semua bisa beribadah dengan khusyuk sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.

Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Bambanglipuro, Asrori SH, mengatakan untuk menjaga kerukunan umat beragama selalu dilakukan komunikasi. “Ketika muncul sesuatu yang mengusik kerukunan antarumat beragama, segera kami lakukan koordinasi antara Muspika dengan tokoh-tokoh agama,” katanya.

Baca Juga :  Hotel Harper Mangkubumi Terima Penghargaan

Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Muh Mujadi, mengatakan kerukunan memang menjadi modal utama bagi pembangunan di wilayah ini. “Di wilayah Bambanglipuro kehidupan umat beragamanya rukun dan berdampingan dengan baik, nyaris tidak ada gesekan yang berarti,” kata Mujadi.

Kalaupun kemudian sempat muncul upaya provokatif dari pihak tidak bertanggug jawab bisa terselesaikan dengan baik. “Ketika muncul riak-riak walaupun kecil kami FKUB bersama Muspika langsung berkumpul, berkoordinasi jangan sampai riak itu meluas dan segera ada penanganan. Alhamdulillah selama ini semua bisa ditangani sehingga kedamaian di Bambanglipuro bisa terjaga,” katanya.

Sependapat, Romo Herman Yoseph Singgih Suntoro Pr dari Gereja HKTY Ganjuran mengatakan umat Katolik  selalu bersama umat agama lain hidup rukun penuh kekeluargaan.

“Ketika di wilayah lain ada gejolak terkait SARA, saya sampaikan kepada umat bahwa itu adalah upaya provokatif yang dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab. Sehingga umat Katolik di sini tidak terpengaruh dan hubungan dengan umat agama lain tetap terjaga baik. Umat Katolik juga sudah paham mengenai itu,” kata Romo Herman. Selain itu, komisi di gereja juga memiliki tugas di antaranya menjaga hubungan baik antar umat beragama.

Pengurus GKJ Sidomulyo, Ignatus Purwanto, mengatakan umat di tempatnya selalu menyatu dan hidup berdampingan dengan agama lain. Bahkan pendeta GKJ Sidomulyo hidup di lingkungan penduduk, bukan hidup secara eksklusif.

“Sehingga bapak pendeta juga selalu mengikuti kegiatan yang ada di tengah masyarakat. Seperti halnya kendurian, beliau juga hadir. Ronda atau musyawarah lingkungan juga ikut serta,” katanya.

Demikian pula dengan 18 anggota majelis GKJ Sidomulyo yang diketuai Sajio juga selalu membaur dalam kehidupan bermasyarakat termasuk dengan agama lain.

“Jika ada kegiatan di GKJ, umat dari agama lain seperti Banser juga terlibat dalam pengamanan. Jadi memang persatuan dan kerukunan di Bambanglipuro sudah terjalin sejak dulu. Kalau ada upaya-upaya provokasi, kita sudah kebal dan paham itu adalah ulah oknum tidak bertanggung jawab,” katanya.

Baca Juga :  Airlangga Hartarto Tegaskan Golkar Harus Kembali ke Khittah

Ketika ada percikan terkait SARA, biasanya umat akan diberikan banyak wejangan melalui saluran saat kebaktian atau sidang majelis di masing-masing wilayah dimana ada kegiatan pemahaman Al Kitab. Dengan demikian, umat tidak sampai terpengaruh  terhadap  isu yang berkembang tersebut.

Danramil Bambanglipuro Kapten (Chb) Mardiyono dan Kapolsek AKP Wahyu Sudadi menyatakan situasi kerukunan menjadi modal untuk membangun wilayah Bambanglipuro.

“Kalau muncul persoalan di tengah masyarakat, kami bersama jajaran Muspika langsung berkoordinasi termasuk dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama,” kata Danramil.

Kendati muncul  sedikit gesekan  di tengah masyarakat maka tidak akan meluas karena mampu dilokalisir dan diselesaikan. “Betul kami selalu kompak. TNI-Polri dalam menjaga situasi Bambanglipuro didukung  semua elemen termasuk masyarakat di Bambanglipuro,” tambah Kapolsek.

Lurah Sumbermulyo, Dra Ani Widayani, mengatakan kerukunan merupakan modal pembangunan di wilayahnya, termasuk untuk mewujudkan program “Sumbermulyo Binangun” yang mendapat dukungan dari semua elemen masyarakat.

Sumbermulyo Binangun adalah proyek terpadu di atas tanah kas desa seluas 5 hektar berada di Jalan Bantul-Samas, Dusun Gandekan Kaligondang. Di tempat ini sudah dibangun Gedung Badan Penelitian dan Pengembangan Saemaul Sumbermulyo senilai Rp 1,2 miliar bantuan dari Saemaul Korea Selatan  dan diresmikan oleh anggota DPD RI asal DIY, GKR Hemas, beberapa waktu lalu.

Gedung yang didesain laksana Istana Negara dengan luas 500 M2 tersebut dikelola oleh BUMDes dan bisa disewa oleh masyarakat untuk beragam kegiatan seperti pertemuan, resepsi pernikahan dan lainnya.

“Nanti di tempat ini akan jadi kawasan terpadu dalam rangka beroperasinya JJLS dan  menata ‘wajah’ DIY dari kawasan selatan,” katanya.

Tempat itu akan dilengkapi fasilitas kesehatan berupa Puskesmas yang juga mulai berdiri, pusat oleh-oleh, rest area, panggung seni , tempat beribadah dan fasilitas pendukung lain. (sol)