Kesadaran Pancasila Alami Penyusutan

251
Menkopulhukan, Wiranto di UIN Sunan Kalijaga, Rabu (09/08/2017).

KORANBERNAS.ID –Kesadaran ber-Pacasila saat ini mengalami penyusutan. Gerakan anti Pancasila pun semakin mencolok yang dipicu oleh perkembangan teknologi informasi.

“Banyak paham dari luar dengan leluasa masuk padahal pemahaman akan ideologi pancasila sangat minim,” ujar Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (menkopulhukan), Wiranto di sela pelaksanaan seminar nasional “Pancasila Rumah Semua Anak Bangsa” di UIN Sunan Kalijaga, Rabu (09/08/2017).

Menurut Wiranto, membangun kembali kesadaran masyarakat akan ideologi Pancasila harus diperkuat secepat mungkin. Selain itu pembaruan hukum dan undang-undang untuk mengatur perkembangan masyarakat di negri ini juga sangat dibutuhkan.

Sebab masyarakat tidak memahami Indonesia mengalami ancaman yang bisa meruntuhkan bangsa dan negara Indonesia. Masyarakat mengganggapnya hanya sebagai dinamika kehidupan.

“Semua pihak harus bersinergi untuk mendesain pendidikan bela negara dan Pancasila secara efektif untuk mengikis ancaman dari dalam itu,” tandasnya.

Sementara Ketua MPR, Zulkifli Hasan mengungkapkan, dalam penelitian diperoleh data 97% umat Islam itu setuju pancasila dan NKRI. Hanya 3% umat Islam yang anti Pancasila.

Untuk itu perguruan tinggi (PT) Islam, seperti juga UIN Sunan Kalijaga perlu menguatkan pemahaman pentingnya Pancasila dan NKRI. Penguatan itu juga harus didukung masyarakat luas untuk menjadikan pancasila sebagai sikap hidup sehari-hari dan pemerintah.

“Banyak kasus-kasus di negri ini yang tidak mencerminkan jiwa Pancasilais. Misalnya 97% kekayaan Indonesia dikuasai oleh 14% jumlah warga negara Indonesia, sementara hanya 3% saja yang dimiliki oleh 86% jumlah warga negara Indonesia,” tandasnya.

Rektor UIN Sunan Kalijaga, Yudian Wahyudi menambahkan, kesadaran bela negara salah satunya dicontohkan oleh Pangeran Diponegoro. Kala itu pasukan Diponegoro yang lari ke berbagai wilayah berhasil mendirikan pesatren-pesantern di Jawa.

“Jadi sejarahnya islam itu punya andil yang besar bagi nkri. Jadi kalau sekarang ini banyak umat Islam yang ingin mengganti NKRI dengan Negara Khilafah itu salah besar, karena akan menghancurkan kebinekaan Indonesia yang merupakan kekayaan yang tidak terhingga nilainya dan tidak dimiliki bangsa-bangsa lain,” imbuhnya.(tugeg sundjojo/yve)