Kesini, Pemkab Kulonprogo Belajar Soal Pembangunan Bandara

209
Rombongan dari Pemkab Kulonprogo dipimpin Kepala Dinas Kominfo Kulonprogo Rudiyatna, meninjau lokasi Bandara Kertajati di Majalengka. (Sri Widodo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID—Hampir memiliki bandara internasional, Pemkab Kulonprogo masih terus belajar tentang bandara. Salah satunya, adalah mendatangi Bandara Kertajati di Majalengka.

Bukan tanpa alas an. Sebab pembangunan Bandara Kertajati ini, ternyata mampu dilakukan dengan anggaran yang jauh lebih hemat ketimbang New Yogyakarta International Airport (NYIP) di Temon.

Saat kunjungan kerja ke Majalengka, rombongan dari Kulonprogo yang dipimpin Kepala Dinas Kominfo Kulonprogo Rudiyatna, terkaget-kaget demi melihat pembangunan bandara ini menelan biaya hanya sekitar Rp 2,6 triliun

“Memang belum jadi sempurna. Tapi ini luar biasa. Karena baru mengeluarkan dana 2, 6 triliun rupiah. Padahal pembangunan fisik bandara sudah hampir jadi. Bahkan menurut rencana pertengahan tahun ini siap diresmikan,” kata Rudi.

Proses pembanguan fisik Bandara Kertajati membutuhkan waktu sekitar dua tahun setengah. Landasan pacunya sepanjang 3,5 km dengan bangunan terminal 4 lantai. Saat ini sudah terpasang 4 unit garbarata,  untuk penerbangan international 2 unit dan domestik 2 unit.

Asisten Sekda Bidang Pemerintahan Majalengka, mengungkapkan inisiator pembangunan Bandara Kertajadi, adalah Pemda Majalengka dan Pemda Jawa Barat. Pengerjaannnya dilakukan tiga pihak yaitu Pemda PT Agkasa Pura II dan pihak ketiga.

Dikatakan, tanah yang digunakan merupakan tanah rakyat juga yang sebagian besar berupa tanah pertanian tadah hujan.

“Yang luar biasa ganti rugi pembebasan lahan ini masih di bawah seratus ribu permeternya,” tambah Rudi.

Sementara di Kulonprogo ganti ruginya mulai Rp 300.000 hingga jutaan rupiah.

“Untuk nilai ganti rugi kami mengikuti apa yang dinilai oleh appraisal. Kurang atau lebih kami tidak berani. Harus kami bayar sesuai dengan apa yang dinilai oleh appraisal,” ujar Assekda Pemerintahan ini.

Rudiyatna mengatakan, pihaknya melakukan studi banding ke Majalengka untuk menyerap ilmu dan pengalaman yang dilakukan Pemkab Majalengka. Sebab sebagaimana diketahui,  Majalengka sudah lebih dahulu melakukan pembangunan bandara.(wid)