Ketakutan terhadap Islam dan Masa Depan Dunia

1312

TAK ADA satu agama pun yang mengajarkan umatnya untuk mengumbar kebencian pada yang lain; melakukan kerusuhan untuk melawan yang lain; bahkan membunuh yang lain dengan alasan yang tak jelas. Begitu pula Islam, agama yang dilandasi dengan iman dengan rasa kepercayaan pada pencipta-Nya. Umat Islam sangat percaya akan adanya Sang Khalik yang mengatur segala perputaran di dunia ini. Islam, agama yang lahir dalam kondisi yang jahil, agama yang berhasil mencerahkan umatnya dari kefanaan dunia, yang selalu mengajarkan humanitas dan keberagaman. Tapi, Islam sekarang bagaimana, hanyalah sebuah agama yang selalu dilabeli dengan teror, dilabeli dengan perilaku yang konservatif, dilabeli dengan pembuat kerusuhan. Apa salah Islam? Jika memang ada yang melakukan hal-hal tadi, tentu bukan semua, bukan seluruh pemeluk Islam. Kenapa harus semua dilabeli dengan Islam? Padahal banyak teror lain yang dilakukan orang non-Islam dengan skala lebih besar, memakan korban lebih banyak, cara yang lebih brutal. Dan mereka tidak dilabeli seperti Islam. Lalu, bagaimana pandangan dunia terhadap Islam, terutama dunia barat? Masihkah Islam menjadi ancaman bagi mereka, akankah sentimen anti-Islam melemah? Akankah Islam mendapat tempat di hati mereka?

Belum ada takaran pasti, mengapa sentimen anti-Islam menguat dan meluas menjadi sebuah ketakutan yang tak berdasar. Penulis berusaha memfokuskan bahasan dengan adanya suatu peristiwa. Peristiwa yang mencoreng nama umat Islam, padahal siapa pelakunya pun belum jelas. Persitiwa yang katanya penuh dengan aroma konspirasi yang sengaja dibuat. Peristiwa itu adalah peristwa 9/11, suatu peristiwa yang mengakibatkan runtuhnya gedung kembar World Trade Centre akibat adanya pesawat yang sengaja menabrak untuk menghancurkan gedung tersebut. Yang kemudian dijelaskan bahwa itu adalah pesawat teroris yang memang sengaja untuk menghancurkan gedung tersebut. Hingga kemudian muncul kebjijakan baru yang diluncurkan Amerika Serikat dengan nama Global War on Terrorism. Semenjak peristiwa inilah nama muslim , sebagai pemeluk agama Islam mendapat perlakuan yang berbeda. Kebencian akan Islam pun makin meningkat, hingga tercipta suatu phobia akan hadirnya Islam, akan eksistensi umat Islam, akan pemeluk islam, bahkan akan aktivitas umat Islam. Lebih lanjut dikenal dengan Islamophobia.

Kini sentimen tersebut menguat kembali setelah fenomena membludak imigran asal Timur Tengah. Imigran yang datang tak ayalnya adalah sampah yang merugikan. Imigran hanyalah sekumpulan manusia yang tak berguna dan tak menghasilkan apa pun malah hanya bisa memberatkan negara dengan banyaknya dana yang harus digelontorkan untuk mengurus mereka, memberi makan mereka, memberi mereka penghidupan yang layak. Imigran hanyalah mereka yang menyebabkan ancaman, bahkan dalam hal lapangan pekerjaan. Imigranlah yang menurut mereka merenggut sektor pekerjaan mereka. Imigran juga hanyalah mereka sekumpulan manusia yang tak bisa berbaur dan beradaptasi, mereka yang hanyalah bisa membawa budaya buruk dari negara asal mereka. Imigran hanyalah imigran yang selalu dianggap sebagai kambing hitam, yang selalu memberikan dampak buruk.

Baca Juga :  Kekerasan Siswa, Mengapa?

Hal-hal tersebut kemudian makin menguatkan dan kemudian menumbuhkan benih-benih politik yang dulu dianggap sempat mati, bahkan Francis Fukuyama sang penulis tesis Liberal-Kapitalis sebagai sang pemenang perang ideologi pun takut akan hal ini. Menurutnya, dengan berkembangnya program ini, demokrasi yang dirajut malah justru berjalan mundur, yang kemudian kita kenal dengan politik sayap kanan ekstrimis. Suatu pandangan politik baru yang dianggap menjadi alternatif untuk menjawab solusi atas dua masalah tadi. Tak perlu dipertanyakan lagi persebarannya. Mulai dari Amerika Serikat dengan Donald Trump yang melarang 7 negara muslim masuk, bahkan negara-negara di Eropa seperti Yunani, dengan partai Golden Dawn yang menang pemilu. Inggris, dengan keputusannya keluar juga karena imigran Perancis, dengan La Pen yang mengganggap Islam tak ayal seperti pendudukan nazi Belanda, dengan Greet Wilders nya yang terang-terangan mengampanyekan anti-Islam bahkan Jerman yang sangat dielu-elukan karena kedermawanannya, saat ini juga di dalamnya tumbuh Afd sebagai bentuk protes atas kebijakan refugees Angela Merkel. Senjata utama yang mereka gunakan adalah isu-isu imigran dan sentimen antimuslim. Islam dipolitisasi, Islam ditunggangi untuk kepentingan-kepentingan mereka. Isu Islam layaknya gula yang disukai semut, isu yang sangat laris dalam awal abad 21 ini.

Baca Juga :  “KAMPUNG KB” ALTERNATIF KELUARGA IKUT KB (Hasil Survei Evaluasi Kampung KB di Daerah Istimewa Tahun 2017)

Suatu tren politik yang membuat penulis sebagai seorang mahasiwa menjadi takut akan kelanjutan dunia ini. Karena memang nyata, paham tersebut semakin subur. Paham yang mengingatkan kembali penulis pada nasionalis ekstrim yang dulu pernah terjadi di Jerman, yang kemudian melahirkan peristiwa yang konon katanya sebagai kejahatan genosida terbesar yang pernah ada yaitu Holocaust. Penulis dengan ini sangat khawatir dan cemas akan bagaimana dunia nantinya, jika partai-partai yang mengusung jenis politik ini dengan mudah memenangkan kedudukan. Bagaimana nantinya dunia ini, ketika politik ini menguasai dan menghasilkan sikap diskriminatif. Bagaimana nantinya yang terjadi pada kehidupan masyarakat muslim di Eropa sana. Apakah mereka menunggangi Islam karena takut akan kekuatan Islam, seperti yang dikatakan Kissinger dan Huntington. *** (Penulis adalah mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Fisipol UMY)