Keteladanan Kekuatan Paling Dahsyat

228
Sekda Sleman Sumadi SH MH menjadi narasumber Sosialisasi Pelaksanaan Budaya Pemerintahan Satriya di Pemkab Sleman. (istimewa)

KORANBERNAS.ID – Sekretaris Daerah (Sekda) Sleman, Sumadi SH MH, menegaskan keteladanan merupakan kekuatan yang paling dahsyat dari seorang pemimpin. Artinya, pimpinan harus dapat memberikan motivasi dan inspirasi bagi lingkungannya.

Pemimpin juga harus mencegah terjadinya praktek KKN. “Kekuatan terdahsyat seorang pemimpin adalah keteladanan,” jelas Sumadi, Senin (21/05/2018).

Merespons hal itu, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Bagian Organisasi Setda Kabupaten Sleman bersama Biro Organisasi Setda DIY menyelenggarakan Sosialisasi Pelaksanaan Budaya Pemerintahan Satriya.

Budaya ini merupakan bagian dari pembinaan yang diharapkan menjadi budaya kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) atau PNS di lingkungan Pemkab Sleman.

Kegiatan yang berlangsung hingga Selasa (22/05/2018) di Aula lantai III Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman itu dihadiri sekretaris dinas dan kepala bagian masing-masing OPD (Organisasi Perangkat Daerah) serta kepala UPT (Unit Pelaksana Teknis) di lingkup Pemkab Sleman.

Kabag Organisasi Setda Kabupaten Sleman, Susmiarto, menjelaskan budaya Satriya diatur dalam Peraturan Gubernur DIY Nomor 72 Tahun 2008 tentang Budaya Pemerintahan dan Peraturan Gubernur DIY Nomor 53 Tahun 2014 tentang Pedoman Pelaksanaan Budaya Pemerintahan yang kemudian dikenal dengan Budaya Pemerintahan Satriya.

“Pergub tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan penetapan Peraturan Bupati Sleman Nomor 14 tahun 2018 tentang pelaksanaan budaya pemerintahan Satriya di Kabupaten Sleman,” kata Susmiarto.

Tujuan dibentuknya Peraturan Bupati tersebut supaya pemerintah daerah dan pemerintah desa memiliki sikap dan perilaku sesuai dengan budaya pemerintahan dalam kehidupan pribadi, keluarga, tugas kedinasan, dan bermasyarakat.

Landasan filosofi budaya pemerintahan Satriya adalah Hamemayu Hayuning Bawana. “Filosofi tersebut mengandung makna kewajiban melindungi, memelihara serta membina keselamatan dunia dan lebih mementingkan berkarya untuk masyarakat daripada memenuhi ambisi pribadi,” jelasnya.

Satriya memiliki dua makna. Pertama, sebagai watak ksatria yang memiliki sikap memegang teguh ajaran moral sawiji, greget, sengguh ora mingkuh (konsentrasi, semangat, percaya diri, rendah hati dan bertanggungjawab).

Kedua, merupakan akronim dari selaras, akal budi luhur-jati diri, teladan-keteladanan, rela melayani, inovatif, yakin percaya diri dan ahli profesional.

Sosialisasi hari pertama menghadirkan tiga narasumber yaitu Sumadi SH MH selaku Sekda Kabupaten Sleman, Arif Haryono SH selaku Asekda Bidang Administrasi Umum serta Kabiro Organisasi Setda DIY Jarot Budi Harjo.

Lebih jauh Sumadi menyampaikan, aparatur pemerintah harus menyukseskan Gerakan Revolusi Mental dan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang mendukung Budaya Pemerintahan Satriya.

“Untuk mewujudkannya, aparatur pemerintah harus berkomitmen dan semangat hijrah melakukan perubahan mental dan meningkatkan kompetensi. Selain itu bekerja keras, cerdas dan ikhlas agar pemerintah lebih amanah dan akuntabel,” kata Sumadi. (sol)