Ketersediaan Pangan Tak Penuhi Populasi Manusia

51
Pakar dari Oklahoma State University, USA, Patricia Rayas Duarte menyampaikan paparanya dalam "4th International Conference on Food, Agriculture and Natural Resourcrles 2018 yang digelar Fakultas Pertanian UMY di Hotel Cavinton, Rabu (12/09/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Dunia mengalami masalah ketersediaan pangan. Semakin tingginya angka populasi manusia saat ini tidak berbanding lurus dengan jumlah pangan yang tersedia.

“Masalah utama produksi dan suplai pangan adalah seberapa banyak lahan di bumi yang bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan pangan manusia yang populasinya terus meningkat,” papar Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Gunawan Budiyanto dalam “4th International Conference on Food, Agriculture and Natural Resourches 2018 yang digelar Fakultas Pertanian UMY di Hotel Cavinton, Rabu (12/09/2018).

Konferensi Internasional yang digelar selama tiga hari ini diikuti sejumlah praktisi agribisnis dari berbagai negara seperti USA, Australia, Korea, Malaysia, Jepang, Badan Ketahanan Pangan dan lainnya.

Baca Juga :  Sleman Integrasikan Sistem Informasi

Padahal Indonesia, menurut Gunawan merupakan negara penghasil beras yang besar. Namun justru Amerika yang paling banyak jadi pemasok beras.

Indonesia belum bisa mengekspor beras karena kualitas pangan di sini tidak bisa diterima di sejumlah negara. Sebab kerusakan lingkungan di Indonesia belum bisa ditangani dengan baik sehingga hasil pertanian juga tidak maksimal.

Berbeda dengan masyarakat di Amerika dan di Eropa yang lebih paham isu lingkungan di dunia dan di daerah mereka tinggal. Karenanya beras, kelapa sawit, apel, jeruk dan hasil pertanian lain dari negara ini tidak bisa masuk ke sejumlah negara.

“Untuk itu setiap negara sedang berlomba-lomba menurunkan dampak negatif kerusakan lingkungan,” tandasnya.

Baca Juga :  Tarif Cukai Tembakau Masih Rendah

Sementara pakar dari Oklahoma State University, USA, Patricia Rayas Duarte mengungkapkan sat ini dunia industri dituntut untuk meningkatkan inovasi makanan baru dengan teknologi terjangkau dan dampak lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Inovasi makanan perlu dikembangkan dengan pendekatan sistem untuk meningkatkan semua aspek pertanian, pangan, dan bahan makanan, pengolahan dan pengemasan. Contohnya melalui pengembangan mitra dari berbagai disiplin ilmu dan peluang bahan pangan yang bisa berkembang di masa depan.

“Misalnya saja makanan ringan dan minuman yang kaya protein,” imbuhnya. (yve)