Ketika Ideologi Rongsokan Populer di Negeri Ini

131

KORANBERNAS – Radikalisme berkembang subur di Indonesia sejak dulu. Bahkan, ideologi rongsokan yang diimpor dari Timur Tengah itu telah menyusup ke dunia pendidikan, sejak dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Makin suburnya radikalisme itu karena ada pembiaran dari negara.

“Memang sudah lama, sejak dulu, karena ada pembiaran dari negara. Akhirnya ndak bisa dibendung. Dan anak didik, termasuk guru besar, kehilangan sikap kritis dalam menyeleksi ideologi yang datang dari luar, terutama dari negeri Arab. Rongsokan Arab kita beli,” kata Prof Dr Syafii Maarif dalam perbincangan dengan KoranBernas di masjid kompleks perumahan Nogotirto, Sleman, Kamis (22/3).

Menurut Syafii Maarif, ideologi rongsokan yang bergelora di negeri-negeri yang tengah porak poranda di kawasan Timur Tengah itu sengaja diimpor untuk membuat negeri ini bergejolak. Padahal tidak ada satu pun agama yang membenarkan radikalisme.

Pria yang akrab disapa Buya Syafi’i itu menyebutkan, fenomena kekerasan yang mengatasnamakan agama dan kemudian memunculkan kasus intoleransi, teror dan juga sikap radikal lainnya, sejatinya dikarenakan pemahaman akan agama yang keliru atau bahkan kebodohan dari penganut paham itu.

“Ada seorang pakar sosial (sosiolog) Perancis, Olivier Roy, yang menulis buku Holy Ignorance. Jadi perilaku kekerasan itu adalah kebodohan atau ignorance yang dianggap suci atau holy. Saya sendiri sebenarnya merasa kasihan karena kebodohan mereka, tapi mereka pun tak henti-hentinya melakukan kekerasan,” papanya.

Baca Juga :  Jalan Buntu Darurat Guru

Menurut Syafii Maarif, sesungguhnya yang terkena ideologi rongsokan itu bukan hanya pelajar, tapi juga dosen, professor, bahkan pensiunan tentara. “Memang kalau ndak cepet ditanggulangi, jadi berat. Tapi kalau negara tegas tanpa mengurangi kearifan, bisa dibendung,” tandasnya.
 
Mantan Ketua PP Muhammadiyah itu juga mengaku pernah berbicara langsung ke Presiden Jokowi, tahun lalu. Syafii menyebut ada dua hal mengapa muncul kelompok-kelompok radikal. Pertama, karena ada ideologi impor. Kedua karena tajamnya ketimpangan sosial ekonomi. Ketimpangan sosial merupakan tanah yang subur bagi kelompok-kelompok yang tidak puas dengan keadaan.

“Apapun ideologinya, mereka pakai saja untuk mengekspresikan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan itu. Jadi menurut saya sila kelima (Pancasila) perlu cepat dijabarkan dan direalisasikan. Itu memang terbengkalai sejak kita merdeka,” kata Syafii Maarif.

Syafii mengakui, saat ini pemerintah mulai bergerak walau agak terlambat. Harus dilakukan terus menerus. BNPT juga gerak. Hasilnya lumayan, walau bukan eksekutor menanggulangi terorisme.
 
“Oleh karena itu guru, polisi, aparat harus awas betul. Polisi harus belajar agama. Bekal agama ini penting, agar ketika berhadapan bisa mengimbangi. Sebagian dari kelompok ini memang mengerti agama, sehingga ketika berdalil, polisi, tentara bisa jadi bingung. Polisi perlu belajar agama, atau cari orang yang bisa dampingi polisi dan mengerti agama.
Kelompok seperti ini harus dhadapi secara lebih komprehensif.  Ini pekerjaan besar seluruh komponen bangsa,” tandas Syafii Maarif.

Baca Juga :  Merapi Timur, Sulit Air Namun tak Kekeringan

Berkait kian mengguritanya paham radikalisme di kampus dan dunia pendidikan, menurut Syafii Maarif, Menristekdikti dan Menteri Pendidikan harus berpikir keras mencari langkah-langkah strategis. “Kepala-kepala dinas perlu dipanggil semua. Bukan hanya negeri. Sekolah swasta juga perlu dikondisikan. Perlu secara maraton dan menyeluruh. Ajak tokoh-tokoh agama yang tercerahkan. Ini harus cepat dilakukan. Menurut saya, negara tidak boleh main-main,” tegasnya.
 
Setelah dikumpulkan, lanjut Syafii Maarif, harus dijelaskan bahwa ideologi impor itu pasti merusak bangsa. Kemudian juga digalakkan penerbitan buku-buku tentang radikalisme yang difasilitasi negara. Buku-buku itu kemudian dibagikan gratis ke peserta didik. “Saya kira cara ini praktis dan akan besar pengaruhnya,” kata Syafii Maarif. (meg/ros)