Ketika Salat Subuh di Masjid Sangat Mahal

121
Ustad H Anang Rikza Masyhadi Lc MA mengisi pengajian di Gedung PDHI Sasonoworo Alun-alun Lor Yogyakarta. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —  Ustad H Anang Rikza Masyhadi Lc MA mengajak semua orang tua untuk memberi perhatian para remaja sebagai calon pemimpin masa depan bangsa.

“Remaja bangun pagi dan salat Subuh di masjid, saat ini menjadi sesuatu yang sangat mahal,” katanya.

Hal itu disampaikan pada Pengajian Ulama Umaro yang digelar Pimpinan Pusat Persaudaraan Hadji Indonesia (PDHI), Jumat (01/06/2018) petang, di Gedung PDHI Sasonoworo Alun-alun Lor Yogyakarta.

Menurut Anang, banyak sekali masalah disandang sebagian besar remaja. Di antaranya seks bebas, narkoba, minuman keras dan itu merupakan ancaman besar bagi remaja.

Seluruh elemen masyarakat wajib menyelamatkannya karena mereka merupakan pemilik masa depan bangsa.

Menurut Anang, setiap orang harus selalu bersyukur. Sebagaimana tertulis dalam surat Al Fatihah, selain syukur juga harus senantiasa mohon petunjuk Allah SWT.

Sebagian dari santri PP PDHI Hj Siti Sudarwati Godean Sleman mengikuti pengajian. (arie giyarto/koranbernas.id)

Melaksanakan salat adalah salah satu bentuk rasa syukur, bukan hanya sekadar menggugurkan kewajiban. “Kalau ibadah hanya sekadar menggugurkan kewajiban, maka hal itu hanya akan menjadi rutinitas kurang bermakna,” kata dia.

Baca Juga :  Bertani Dengan Keuntungan Hingga Rp 60 Juta Per Hektar?. Contohlah Sleman

Dia juga menyampaikan, beribadah kepada Allah SWT harus dengan sepenuh  tenaga. “Jangan Allah hanya diberikan waktu dan tenaga sisa. Apalagi menjadikan masjid sebagai rest area,” ungkapnya.

Beribadah harus khusyuk dengan sepenuh hati. Yang paling penting, jangan mengulur-ulur waktu karena salat tepat waktu berkait dengan kualitas ibadah itu sendiri.

Anang juga menekankan pentingnya memohon hidayah pada Allah SWT. Kalau ilmunya terus bertambah namun tanpa tambah hidayah atau petunjuk Allah maka justru akan menjauhkan dari Allah.

Belajar perlu penghayatan dan pengamalan. Kalau tidak, banyak orang belajar kebenaran tetapi tidak pernah benar. Demikian juga belajar dalam bidang hukum, politik atau ilmu apa saja.

Andika Wahyu Pramana, sang dai cilik. (arie giyarto/koranbernas.id)

Santri cilik

Berbeda dengan Pengajian Ulama Umaro sebelumnya, Jumat kemarin diawali dengan penampilan santri-santri cilik dari Pondok Pesantren PDHI  Hj Siti Sudarwati, Godean Sleman.

Baca Juga :  Ratusan Pegolf Perebutkan Trofi Keraton

Di antaranya Anwar yang masih duduk di kelas 3 SD bersama temannya membaca surat Arrahmah tanpa teks. Disusul Andika Wahyu Pramana, murid kelas 5 SD tampil sebagai dai cilik. Santri asal Banjarnegara tersebut dengan piawai, sesuai usianya, tampil memukau.

Menjawab pertanyaan koranbernas.id, Andika mengatakan mulai belajar menjadi dai sejak kelas 2 SD.

Menurut Hery Setiawan, pimpinan PP PDHI Hj Siti Sudarwati, saat ini ada 22 santri khusus laki-laki belajar di sana. Semua dimulai dari tataran Sekolah Dasar.

Mereka sekolah di SD Muhammadiyah setempat. Tahun ajaran mendatang pondok membuka kesempatan bagi anak-anak yatim piatu belajar gratis di sana.

Pengajian Ulama Umaro digelar setiap Jumat petang selama bulan Ramadan. Ini merupakan pengajian ketiga dan akan ditutup Jumat mendatang dengan pembicara Drs H Sunardi Syahuri. Usai pengajian dilanjutkan salat Maghrib berjamaah dan buka puasa bersama. (sol)