Rail Clinic sebagai bentuk program Corporate Social Responsibility (CSR) PT KAI menggelar kegiatan di stasiun Rewulu, Sedayu, Senin (4/9/2017). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Sebuah terobosan dilakukan PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang membuat rail clinic dan beroperasi secara mobile. Untuk Daerah Operasional (Daop) VI (DIY-Jateng) kegiatan di pusatkan di Stasiun Rewulu, Sedayu, Senin (4/9/2017) dengan bhakti sosial pengobatan dan pembagian 50 kacamata bagi siswa yang membutuhkan. Selanjutnya rail clinic akan bergerak ke wilayah Masaran, Sragen untuk menggelar kegiatan yang sama pada tanggal 5 September.

Dalam kegiatan di stasiun Rewulu, ratusan masyarakat antri untuk mendapatkan layanan ke sehatan. Ada dua gerbong kereta yang kemudian ‘disulap’ menjadi klinik pemeriksaan umum, klinik gigi, tempat bersalin, hingga imunisasi anak. Kegiatan ini hadiri Camat Sedayu, Drs Fauzan Mu’arifin, Danramil 02/Sedayu Kapten (Inf) Kusmin, Kapolsek yang diwakili Panit 1 Bhinmas Iptu Agus Supraja SH dan ratusan warga sekitar stasiun rewulu.

“Untuk keperluan ini kami menerjunkan 25 tim gabungan dari dokter dan unsur paramedis lain,” kata dr Welliyansah sebagai ketua tim dokter PT KAI di lokasi. Beragam penyakit ditangani oleh tim medis dan bagi yang memerlukan juga diberikan obat serta vitamin untuk meningkatkan kesehatan.

Sementara Wakil Kepala Daop VI PT KAI Ida Hidayati didampingi Humas Eko Budiyanto mengatakan saat ini di Indonesia sudah beroperasi tiga rangkaian rail clinic yang dioperasikan dua di luar Jawa dan 1 di Jawa. Kereta ini akan ditambah satu lagi dalam waktu dekat dan semua rail clinic merupakan karya dari Balai Yasa Yogyakarta. Adapun rail clinic merupakan modifikasi dari kereta yang sudah tidak terpakai. Kemudian kereta itu diperbaiki baik interior ataupun eksteriornya , mesin hingga bagian-bagian lain yang memang memerlukan perbaikan.

Sehingga hasilnya rail clinic terlihat bersih dan nyaman. Saat koranbernas.id berkeliling di rail clinic, terlihat berbagai peralatan medis dipasang di dalam gerbong yang telah disekat-sekat seperti ruang praktek dokter. Setiap ruang memilii fungsi yang berbeda sehingga tidak tercampur antara klinik yang satu dengan yang lain. Terlihat juga sebuah sofa empuk di belakang ruang kemudi masinis untuk menunggu antrian agar merasa nyaman.

“Adanya rail clinic ini sebagai wujud kepedulian PT KAI kepada masyarakat sekitar stasiun dan juga implementasi dari program CSR,”kata Ida. Diharapkan dengan program pengobatan oleh rail clinic itu akan mampu meningkatkan derajat kesehatan bagi masyarakat yang menerima program. Adapun target untuk dua titik pengobatan adalah 250 orang dan 100 kacamata gratis.

“Nggih kulo niki kemeng-kemang bade berobat,”kata Mbah Supi yang antri sambil membawa tongkat kruk nya bersama warga lainnya.Dirinya mengaku senang dengan pengobatan yang dilakukan dan sudah didaftar sebelumnya. (yve)