Khebinekaan Warni Perayaan Pentakosta GKJ Purbalingga

254
Suasana kebhaktian perayaan Pentakosta di GKJ Purbalingga, Minggu (20/05/2018). (prasetiyo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Nuansa Jawa, Batak dan Nias mewarnai perayaan Pentakosta atau pencurahan roh kudus di Gereja Kristen Jawa (GKJ) Purbalingga, Minggu (20/5/2018). Nuansa itu sekaligus untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas).

Dipilihnya nuansa Jawa, Batak dan Nias karena sejumlah anggota GKJ Purbalingga berasal dari Batak, Nias dan sebagian besar tentunya Jawa. Selain pakaian adat Jawa yang dikenakan oleh para majelis gereja, juga pakaian adat Batak dan Nias dikenakan oleh jemaat yang berasal dari pulau itu.

Begitu pula saat pembacaan ayat suci, secara bergiliran menggunakan bahasa Jawa, bahasa Batak dan Nias. Sementaratema perayaan Pentakosta kali ini “Roh Suci Nyagedaken Kita Martosaken Katresnan Kangge Sesami”.

Berdasarkan pantauan koranbernas.id, perayaan itu dijaga ketat oleh aparat dari Polres dan Kodim 0702 Purbalingga. Petugas kepolisian yang bersenjata laras panjang mengamati satu persatu jemaat yang masuk ke halaman gereja. Polisi mulai melakukan penjagaan sejak Sabtu (19/5/2018) malam.

Penjagaan serupajuga dilakukan  aparat di  GKJ Penaruban, GKJ Pengalusan,GKI Purbalingga, Gereja Katolik Santo Agustinus, dan sejumlah gerea lainnya di Purbalingga.

Pendeta GKJ Purbalingga Slamet Waluyo, S.Si yang memimpin kebaktian itu mengungkapkan rasa keprihatinan atas tindakan kekerasan yang dilatarbelakangi Suku, Agama, Ras  dan Antar Golongan serta aksi terorisme yang mengancam keselamatan warga.

“Informasi hoax yang mengadu domba juga semakin dirasakan jika kita mengikuti perkembangan dunia maya. Meski tidak terlihat, tetapi informasi hoax sebagai upaya yang tidak baik dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Informasi itu seakan ingin menganggu kerukunan umat beragama dan mengancam ketertiban dan keamanan,” kata Slamet Waluyo.

Slamet Waluyo menegaskan, iblis menggunakan perbedaan untuk memecah belah kerukunan bangsa. Tindakan biadab yang dilakukan oleh terorisme dengan kejadian bom di tiga gereja dan sejumlah tempat lain di Surabaya, menggambarkan bahwa manusia yang bersifat seperti iblis ingin menganggu kerukunan yang tercipta selama ini.

“Perayaan Pentakosta sebagai peringatan turunnya roh suci atau pencurahan roh suci dimaknai sebagai runtuhnya tembok-tembok besar yang memisahkan manusia akibat perbedaan. Robohnya rasa sengit dengan berbagai latar belakang yang berbeda seperti agama, bahasa, suku dan keyakinan,” kata Slamet Waluyo.

Slamet Waluyo mengajak kepada seluruh umat Kristiani dan warga masyarakat untuk menghormati perbedaan yang ada. Apalagi Indonesia dengan dasar Pancasila dan semangat Bhineka Tungal Ika yang menghormati atas perbedaan yang ada.

“Perbedaan itu akan indah dan damai, jika semua orang bisa memahaminya. Saling menghormati atas perbedaan itu akan menciptakai suasana tenang dalam kehidupan masyarakat,” kata Slamet Waluyo.

Dalam kebaktian Pentakosta itu juga sekaligus dilakukan persembahan unduh-unduh. Jemaat memberikan berbagai hasil bumi, baik pertanian, peternakan, perikanan dan lainnya untuk diserahkan ke gereja sebagai wujud rasa syukur atas pemberian yang melimpah.

Jemaat yang tidak memiliki lahan budidaya pertanian juga dipekenankan memberikan undhuh-undhuh berupa uang.  Usai kebaktian, jemaat  diberi buah untuk dibawa pulang.(yve)

Baca Juga :  Mereka Terpanggil Ringankan Beban Korban Bencana