Khusyuk Ibadah, Jemaat Gereja Bedog Diserang Kaum Radikal

1624
Aparat memperluas garis polisi dalam olah TKP penyerangan Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog, Sleman, Minggu (11/02/2018). (putut wiryawan/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Kekerasan atas nama agama kembali terjadi di Yogyakarta. Predikat kota yang dijuluki City of Tolerance ini tercoreng gara-gara ulah kaum radikal menyerang Gereja Santa Lidwina Stasi Bedog, Sleman, Minggu (11/02/2018).

Selang 15 menit saat jemaat mengikuti misa pagi mulai pukul 07:30 WIB, satu orang tiba-tiba dari arah jalan masuk ke gereja sambil menghunus parang. Sembari meneriakkan takbir dan mengucapkan kafir pada jemaat, dia menyerang jemaat yang tengah beribadah.

Jemaat atas nama Budijono yang sedang berada di depan bersama seorang anak kecil terkena sabetan parang. Dia mengalami luka di kepala dan punggung. Pelaku kembali menyerang jemaat lain, Mukarto Nogotirto yang terkena pukulan di punggung dan Yohanes Triyanto.

Tak puas, pelaku kemudian maju ke altar dan menyerang Romo Prier yang tengah memimpin misa. Akibatnya Romo Pier mengalami luka di bagian kepala karena sabetan parang.

Salah seorang saksi mata yang enggan disebutkan namanya, KSN mengaku kaget akan kejadian tersebut. Dia yang ikut misa bersama anaknya mengira ribut-ribut yang terjadi karena ada ada orang gila yang masuk ke gereja.

Namun akhirnya jemaat yang tahu aksi brutal tersebut dilakukan pelaku dari kelompok radikal berhampuran lari keluar gereja. Jemaat yang kebanyakan orang-orang tua dan anak-anak pun sempat panik karena dihalang-halangi untuk keluar dari gereja.

Baca Juga :  Safari Tarawih Terjadwal 19 Kali

Aparat kepolisian, menurut KSN segera datang dan memberi tembakan peringatan kepada pelaku untuk menyerahkan diri. Namun pelaku tidak meggubris dan malah menyerang balik polisi.

“Saya dengar dua kali tembakan peringatan namun pelaku masih brutal. Kemudian polisi yang menembak kaki pelaku malah dilawan pelaku. Namun akhirnya setelah ditembak satu kali lagi, pelaku bisa dilumpuhkan,” jelasnya.

Ratusan jemaat kemudian diminta untuk pulang ke rumah masing-masing. Polisi melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) setelah pelaku diciduk polisi.

KSN menjelaskan, jemaat memastikan pelaku bukan berasal dari daerah sekitar gereja. Mereka tidak mengenali wajah pelaku.

“Kami tidak menyangka akan ada kejadian yang baru pertama kali terjadi ini. Akses gereja yang terbuka membuat pelaku dengan mudah masuk. Tapi kami tidak kenal wajah pelaku,” jelasnya.

Romo Prier dan korban lain hingga berita ini diturunkan tengah dirawat di Rumah Sakit (RS). Romo Prier harus mendapatkan tindakan operasi di RS Panti Rapih karena luka kepalanya mencapai panjang 10 cm.

KSN bersama jemaat lain berharap tindakan tegas dari aparat kepolisian untuk menghukum pelaku. Sehingga kedamaian bisa terwujud di Yogyakarta yang memiliki keberagaman etnis, budaya, suku, latar belakang dan agama.

“Setiap agama tidak mengajarkan kekerasan, kami yakin umat Islam tidak melakukan kekerasan seperti yang dilakukan pelaku. Banyak warga muslim di sekitar gereja yang membantu kami dan menyalahkan tindakan pelaku. Karenanya kami tidak takut untuk tetap beribadah karena tujuan mereka meneror kita dan mengacaukan keberagaman Indonesia,” tandasnya.

Baca Juga :  Pengumuman, Rusak Pagar Bandara Diancam Pidana

Lawan Kejahatan Intoleransi

Secara terpisah Anggota DPR RI Komisi X Fraksi PDI-P, MY Esti Wijayati dalam siaran persnya mengungkapkan, peristiwa penyerangan umat dan imam yang terjadi pada saat sedang menjalankan ibadah tersebut merupakan kejahatan kemanusian dan tragedi kebangsaan.

Akhir akhir ini, DIY dan sejumlah wilayah di negeri ini menampilkan bentuk bentuk intoleransi yang semakin menguat.

“Kondisi sekarang ini membuat suasana kebangsaan sangat tidak kondusif dan memprihatinkan.

Saya mengutuk keras atas kejadian kejahatan kemanusiaan dan kebangsaan ini. Ke-biadab-an seperti ini jelas tidak bisa dibiarkan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Esi mengajak semua pihak, terutama pada pihak Kepolisian Republik Indonesia untuk mengawal dan menuntaskan kasus banalitas tersebut. Esti mengapresiasi masyarakat sekitar tempat ibadah yang turut mencegah dan menangkap pelaku.

“Kepada yang terhormat Bupati, Gubernur DIY, dan para pemimpin di negeri ini, sudah bukan saatnya lagi membiarkan atau malah membuat pernyataan atau memberi ruang pada semua bentuk intoleransi seperti ini. Kita siap melawan,” paparnya.(yve)