Ki Seno Nugroho Siap Gebrak DPRD DIY

582
Pergelaran wayang kulit di DPRD DIY pada 15 Desember silam. Dijadwalkan Rabu (27/12/2017) di tempat yang sama tampil Ki Seno Nugroho membawakan lakon Banjaran Bima. (dok koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Menyambut tahun baru 2018, dalang kondang Ki Seno Nugroho siap menggebrak DPRD DIY pada pergelaran wayang kulit dengan lakon Banjaran Bima, Rabu (27/12/2017) mulai pukul 20:00.

Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, dalam rilisnya Selasa (26/12/2017) mengajak masyarakat untuk menonton dan menyimak pertunjukan wayang kulit semalam suntuk di akhir tahun 2017 ini.

Pergelaran kali ini merupakan kedua kalinya  di bulan Desember. Sebelumnya pada Jumat (15/12/2017) silam, dalang Ki Edi Suwondo dari Sleman tampil membawakan lakon Dewa Ruci. Pertunjukan itu sempat bubar karena diguncang gempa bumi berkekuatan 7,3 SR.

Menurut Eko Suwanto, Banjaran Bima adalah lakon garapan baru yang diperkenalkan oleh para seniman seni pedalangan untuk memperkenalkan secara utuh laku hidup, karakter, sifat-sifat dan keteladanan tokoh Aria Bima.

Sebagai lakon banjaran maka Banjaran Bima mengisahkan kehidupan Aria Bima sejak muda, dewasa, tua, hingga perjalanannya menapaki masa tua yang pasti dan tenang usai peperangan besar Baratayuda.

Bima adalah anomali di antara para ksatria Pandawa yang mayoritas digambarkan berkarakter lembut dan bertutur kata halus sebagai perwujudan kesopanan tinggi.

Baca Juga :  Marwoto Kewer Kocok Perut Karyawan GLZoo

Namun Bima justru digambarkan selalu menyampaikan isi hati apa adanya, tanpa ada yang dibungkus dan dikemas. Bahkan dia bicara dengan bahasa kasar (ngoko) kepada siapa pun, termasuk dengan para dewa. Ada kesan awal tentang ketidaksopanan, namun ada juga penilaian tentang keberanian dan sikap egalitarian kerakyatan.

Hanya Bima yang kodo dan terkesan agal inilah yang dipilih dalam cerita simbolis filosofis Jawa, sebagai satu-satunya tokoh yang bisa bertemu dengan jati dirinya.

Bima bisa selalu berteman dengan hati nuraninya, karena dia tak pernah berpikir, bertindak dan mengambil keputusan dengan mendahulukan kepentingan-kepentingan yang dibungkus dan dikemas sedemikian rupa seolah-olah merupakan niatan baik. Bima sejak awal menjadi pribadi yang bebas dan merdeka dari hal-hal seperti itu.

Karena keteguhan sikapnya itu pula maka Bima adalah tokoh yang paling tegas membedakan tentang salah dan benar. Tanpa ada keraguan dia menuding dan membenci ketidakadilan dan keangkaramurkaan.

Karena itu, dalam cerita epos wiracarita Mahabharata, Bima dipilih untuk membungkam segala kejahatan dan memberantas ketidakadilan. Dialah yang menghabisi kesewenang-wenangan Duryudana, yang menamatkan segala keculasan Sengkuni.

“Tak heran, proklamator kita, Bung Karno, sangat mengidolakan tokoh ini. Beliau sering menggunakan nama samaran sebagai ‘Bima’ di masa-masa awal terjun di dunia pergerakan melawan penjajahan,” kata Eko Suwanto, anggota Fraksi PDIP DPRD DIY daerah pemilihan Kota Yogyakarta itu.

Baca Juga :  "Gerombol Malam" Bakal Jadi Seragam Purbalingga

Lanjut dia, ada sebuah nasihat kuno yang mengatakan hati nurani itu berbentuk segitiga kecil, yang berada di dalam sebuah segitiga lebih besar bernama akal pikiran.

Jangan sekali-kali mencoba memutar-mutar segitiga kecil bernama hati nurani itu. Semakin sering diputar akan semakin tumpul ujung-ujung kepekaannya. Nasihat itu rasanya akan menemukan perwujudannya ketika kita menyaksikan gambaran hidup tokoh Bima.

Seperti diketahui, Ki Seno Nugroho merupakan dalang muda Yogyakarta yang sejak remaja namanya sudah disebut-sebut oleh almarhum Prof Dr Umar Kayam sebagai salah satu masa depan seni pedalangan gaya Yogyakarta.

“Semoga pertunjukan wayang kulit ini bisa jadi refleksi kita semua untuk memulai tahun 2018 dengan semangat pengabdian, semangat memberikan pelayanan kepada rakyat dengan lebih baik lagi, serta semangat untuk jujur dan berani membela kebenaran, berjuang bersama untuk kesejahteraan masyarakat,” kata Eko. (sol)