Kiai Jazir Ajak Banting Stir

320
KH Jazir menjadi pembicara Diskusi Kebangsaan XV yang digelar PWS Yogyakarta di Cafe Cangkir Jalan Bintaran. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Tokoh agama dan budayawan Yogyakarta KH Muhammad Jazir ASP  mengajak semua elemen masyarakat untuk banting stir, kembali menjadikan Pancasila dasar negara dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai alat pemersatu bangsa.

“Kalau tidak, bangsa ini akan terpecah-belah bahkan berdarah-darah. Saat ini Pancasila sedang diuji dan menjadi kewajiban seluruh elemen bangsa untuk menyelamatkannya,” ungkapnya saat tampil sebagai narasumber Diskusi Kebangsaan XV yang digelar Paguyuban Wartawan Sepuh (PWS) Yogyakarta di Cafe Cangkir Jalan Bintaran, Senin (14/05/2018).

Takmir Masjid Jogokariyan yang dikenal dengan manajemen modern masjid itu mengatakan kesepakatan Pancasila sebagai dasar negara prosesnya sangat panjang. Para tokoh pejuang kemerdekaan dengan sangat alot berembug demi kesatuan dan persatuan.

Anggota DPR/MPR RI Drs H Idham Samawi menegaskan, hanya dengan Pancasila Indonesia yang terdiri dari puluhan ribu pulau dan ratusan suku bangsa ini bisa bersatu.

Tanpa Pancasila bangsa ini pasti tercerai berai. “Sungguh luar biasa para pendiri bangsa ini mampu menyatukan Indonesia, negara yang sangat besar,” katanya mantap.

Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, Romo Budi Purnomo Pr SS MTh LIC Tg, menganalogkan persatuan bangsa ini dengan sebuah instrumen musik saksofone.

Dalam kondisi tidak lengkap, alat musik itu tidak bisa berbunyi. Ditambah satu alat, bisa bersuara tapi belum bagus. Dilengkapi dengan sebuah alat lagi suaranya sudah lebih bagus. Ketika dilengkapi satu alat lagi, ditiup menghasilkan suara merdu.

Baca Juga :  Harga Cabai Kembali Melambung

Romo Budi membawakan lagu Indonesia Pusaka. Seluruh hadirin secara spontan menyanyikannya sehingga suasana pendapa kafe itu ingar bingar dengan salah satu lagu pemujaan terhadap negeri ini.

Romo Budi Purnomo piawai memainkan saksofon. (arie giyarto/koranbernas.id)

Gambaran situasi

Menurut Romo Budi, ini bisa menjadi gambaran dari situasi dan kondisi sebuah bangsa. Tanpa kekompakan, seluruh elemen pendukung dalam keberagaman maka representasinya juga akan timpang.

Tiga narasumber diskusi bertajuk Beragama dalam Negara Pancasila itu sependapat, pemahaman Pancasila sekarang sudah luntur. Terutama bagi generasi  muda calon penimpin masa depan bangsa.

Bahkan menurut Idham Samawi, minat orang berbicara masalah kebangsaan sudah makin menipis. “Tapi ini yang masih waras, peduli terhadap situasi bangsanya,” katanya.

Dia berharap Pengageng Abdi Dalem Paguyuban Wartawan Sepuh Yogyakarta Drs Oka Kusumayudha ke depan menjadwalkan diskusi semacam ini dalam forum yang lebih kecil sehingga lebih fokus lagi.

Penyebab tipisnya pemahaman Pancasila maupun kecintaan terhadap negara sangat kompkeks. Sekarang tidak ada lagi pelajaran Pancasila di sekolah-sekolah. Juga tidak diajarkan lagu-lagu perjuangan sejak masih di tingkat sekolah dasar.

Padahal isi syair lagu-lagu perjuangan benar-benar mampu menumbuhkan kecintaan pada bangsa negara. Bahkan seorang narasumber pernah akan memberikan uang Rp 100.000 pada pengamen di Malioboro untuk menyanyikan lagu Garuda Pancasila.

“Ternyata dia bingung. Tidak bisa. Ini sangat memprihatinkan, anak muda tidak paham terhadap lagu dasar negaranya sendiri,” katanya dengan nada kecewa.

Dua orang anak muda tampil dalam kolaborasi nyanyi dan puisi menggambarkan kecintaan pada negeri ini. (arie giyarto/koranbernas.id)

Benahi negeri

Narasumber sepakat untuk bersama-sama mengajak seluruh elemen membenahi negeri ini. Dengan kebhinekaan menggalang persatuan dengan saling menghormati perbedaan. Keberagaman itu sebenarnya konsep Allah SWT.

Baca Juga :  Konsinyasi Selesai, Pimpro Bandara Potong Kucirnya

Memang sudah banyak upaya dilakukan, seperti yang dilakukan UGM dengan Pusat Studi Pancasila, meskipun hasilnya belum seperti diharapkan.

Banyak lagi cara untuk mengenalkan Pancasila pada generasi muda, di antaranya melalui seni budaya. Ini sudah dilakukan oleh Romo Budi di Semarang dengan menyatupadukan 1.300 anak muda lintas agama dalam sebuah kegiatan yang mencerminkan kerukunan.

Implementasi nilai-nilai Pancasila juga sudah dilakukan di Masjid Jogokariyan. Bermula dari kasus sebuah keluarga kehabisan beras, muncul ide jimpitan beras bagi jamaah saat ke masjid.

“Ternyata hasilnya luar biasa. Setiap bulan terkumpul 2,7 ton Rasjid atau beras masjid. Dan itu dimanfaatkan bagi 380 KK yang membutuhkan,” kata Kiai Jazir.

Romo Budi berpendapat, generasi sekarang ini sudah menikmati buah perjuangan para pendahulu, tinggal bagaimana memelihara dan menyempurnakannya. “Lebih baik menyalakan sebatang lilin daripada meratapi kegelapan,” katanya.

Berkait dengan kasus-kasus teror bom yang terjadi di Surabaya, Mako Brimob Kelapa Dua dan berbagai tempat, ketiga narasumber mengimbau masyarakat waspada.

Hindari ujaran kebencian yang bisa memperuncing suasana. Justru dengan kebersamaan bisa menjaga situasi DIY tetap kondusif dan semangat kebersamaan dalam keberagaman  bisa lebih dioptimalkan.

Suasana diskusi jadi sangat adem ketika KH Muhammad Jazir dan Romo Budi saling berpelukan di panggung pada akhir acara.  (sol)