Kini Ular Besi Tak Lagi Kumuh

193
Suasana gerbong khusus wanita kereta api Prameks pada hari Minggu. Meski ada yang bergelantungan tetap lebih nyaman. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Mau bepergian ke luar kota? Kereta api zaman now barangkali menjadi salah satu alternatif mode transportasi umum yang nyaman, aman, murah dan relatif tepat waktu.

Aman karena punya  jalan sendiri, pengguna jalan lainnya harus patuh padanya saat ular besi panjang itu melintas. Murah karena PT Kereta Api Indonesia mengelola tarif sedemikian rupa sehingga pengguna kereta kelas ekonomi diuntungkan oleh sistem subsidi silang dari pengguna kelas eksekutif atau kereta baru dengan kelas  lebih tinggi lagi.

Dari Yogya mau ke Solo atau sebaliknya? Naik saja kereta api Prameks. Tarifnya hanya Rp 8.000. Waktu tempuhnya satu jam. Ongkosnya jauh lebih murah dibanding bus, apalagi travel.

Jangan trauma kereta kumuh. Sejak era Ign Yonan menjadi Dirut PT KAI semuanya berubah. “Apalagi Prameks ada gerbong khusus wanita,” kata Hanna.

Sarjana lulusan Pendidikan bahasa Inggris Universitas Satyawacana Salatiga ini menjadi pelanggan tetap Prameks terutama setelah dia bekerja di Yogyakarta.

Seminggu sekali dia pulang ke rumah orang tuanya di Mojosongo Solo menggunakan Prameks yang memang dijual tidak dengan tempat duduk ini.

Siapa cepat masuk gerbong, dia dapat tempat duduk. Yang lain harus rela bergelantungan. Kemudian balik lagi ke Yogya dengan kereta sama lantaran harus bekerja kembali.

Penumpang memanfaatkan waktu perjalanan kereta Prameks Yogya-Solo untuk membaca buku. (arie giyarto/koranbernas.id)

Dengan gerbong khusus wanita, menurut Hanna, penumpang wanita tidak canggung lagi seandainya berdesakan dengan penumpang pria.

Baca Juga :  Sejumlah Artis Meriahkan EMTEK Goes to Campus

Tanggapan serupa juga muncul dari Rianita Dwi, sarjana Pendidikan bahasa Inggris lulusan Universitas Tidar Magelang. Dia senang ada gerbong khusus untuk wanita.

Remaja berkerudung itu merasa canggung bila harus  bersinggungan anggota badan, meskipun lengan, dengan pria bukan muhrimnya sepanjang perjalanan.

Minggu (09/09/2018) pagi dia bersama keluarga dan bekas teman-teman kuliahnya dulu berekreasi ke Solo. Jumlahnya cukup banyak, 40 orang.

“Sekadar rekreasi saja.  Tujuan utama ingin melihat Keraton Solo,” katanya menjawab pertanyaan koranbernas.id yang duduk bersebelahan.

Saat menuju Solo, gerbong khusus wanita berada di rangkaian gerbong paling depan. Sedang ketika berjalan ke arah Yogya ada di rangkaian paling belakang.

“Jadi posisi tidak berubah. Sayangnya hanya satu kereta ini yang punya gerbong khusus wanita. Kereta Prameks yang lain tidak ada,” kata seorang petugas PT KAI di Stasiun Purwosari menjawab pertanyaan koranbernas.id.

Tentang kondisi kereta api yang sudah sangat berubah, Rianita memang merasakan. Zaman dulu kalau mau bepergian agak jauh dengan kereta api, dia agak trauma.

Selain kesan kumuh, tiket kereta ekonomi ada yang dijual tanpa tempat duduk sehingga banyak penumpang terpaksa menggelar koran duduk atau tiduran di lantai.

Belum urusan kamar kecil yang selalu membaurkan bau sangat pesing dan klosetnya berwarna putih kecokelatan lantaran tak terpelihara.

Tapi sekarang menurut kedua wanita tersebut, semua sudah berubah total. Kamar kecil bersih dan relatif banyak air. Petugas cleaning service pun  bolak-balik membersihkan toilet dan mengambil sampah.

Baca Juga :  Ngaku Wartawan, SN Peras Pertamina

Tidak hanya kamar kecil di kereta, di kompleks stasiun juga begitu. Termasuk penataan pedagang di stasiun. Semua rapi, bersih dan nyaman.

Antrean pembeli tiket kereta api yang panjang mengular di Stasiun Purwosari Solo. (arie giyarto/koranbernas.id)

Ruang tunggu stasiun hanya dipakai oleh pemegang tiket sehingga bisa dihindari kemungkinan di antaranya adalah orang jahat yang ingin memanfaatkan kesempatan. Pengantar hanya boleh sampai batas antaran.

Lantaran murah, cepat dan aman, layak orang berebut naik kereta api. Pada hari Minggu atau libur panjang, seyogianya Anda membeli tiket pp (pulang pergi).

Ini karena seperti terjadi hari Minggu itu, tiket balik ke Jogya sudah habis sejak siang. Terpaksa calon penumpang di Stasiun Purwosari rela membeli tiket kereta dengan perjalanan sedang dan jauh.

Seperti kereta Jaka Tingkir jurusan Jakarta Pasar Senen. Meski harga tiket sampai Stasiun Lempuyangan Rp 40.000, calon penumpangnya pun ikhlas membelinya.

Selain dapat tempat duduk, gerbong bening, ber AC pula. “Waktu tempuhnya juga sedikit lebih cepat,” kata Hanna. Sudah sejak Yonan, semua kereta api kelas Ekonomi sudah ber AC dan tiket dijual sesuai kapasitas tempat duduk.

Bagi calon penumpang dari Stasiun Balapan bisa ikut kereta eksekutif seperti Argolawu dan Argo Dwipangga. Tapi tentu saja tarifnya lebih mahal karena kelasnya berbeda. Tinggal Anda yang memutuskannya. (sol)