Kisah Haji Tertua DIY, Gaji Veteran Ditabung untuk Naik Haji

196
Adi Mulyono dan isteri

KORAN BERNAS.ID — Bisa menjalankan ibadah haji merupakan harapan semua umat Islam untuk memenuhi  salah satu rukun. Begitu pula bagi Adi Mulyono atau sering juga dipanggil Ngatiran (89 tahun), warga Dusun Dengok VI, Desa Dengok, Kecamatan Playen Gunungkidul ini.

Di saat usianya mulai senja,  kakek dengan 9 cucu ini tercatat menjadi calon haji tertua DIY tahun 2017 ini. Dengan semangat tinggi, ia pun masih memiliki harapan bisa menjalankan ibadah haji dengan sempurna dan bisa pulang kembali ke tanah air dengan kondisi sehat wal afiat.

Begitu juga dengan isterinya, Sumikem (68 tahun). Meski saat ini dalam kondisi sakit flu, ia berharap segera sembuh sehingga saat berangkat dan menunaikan ibadah haji dalam keadaan fit.

Sementara Mbah Adi Mulyono nampak masih melihat -lihat tas koper haji yang sudah diambilnya beberapa waktu lalu di asrama haji Yogyakarta. Maklum saja, belum semua perlengkapan terisi penuh, sehingga tas koper berwarna oranye masih terlihat tipis.

Namun semangat Mbah Mul, sapaan akrabnya, tidak meredup. Ditengah kesederhanaan hidupnya sebagai pensiunan veteran dan juga mantan kepala dukuh, menjadikan semangatnya tak meredup di usia yang tidak lagi muda lagi.

Baca Juga :  Generasi Muda Bagian Penting Pembangunan Bangsa

Kepada Koran Bernas, Mbah Mul bercerita jika dirinya harus menabung lama untuk bisa menunaikan ibadah haji. Maklum, dia tidak mengira akan menerima uang penghormatan sebagai veteran yang diterimakan setiap bulan sejak tahun 2006 lalu. ”Awalnya saya tidak bermimpi bisa naik haji. Namun tiba-tiba semua veteran dikumpulkan karena akan menerima uang tunjangan mantan veteran setiap bulan sebesar Rp 2,1 juta. Akhrinya saya niat naik haji dari  uang pensiunan veteran itu,” katanya, Jumat (28/7).

Dari uang pensiunan veteran inilah dia mulai menabung dan berani mendaftarkan ibadah haji di tahun 2010 lalu. Awalnya dia sempat ditawari segera berangkat dengan menambah biaya sebesar Rp 30 juta. Namun karena uang haji dari menabung pensiunan veteran setelah dipotong kebutuhan harian, diapun tidak memiliki uang sisa. Maka, ia tidak menggunakan kesempatan tersebut.

”Waktu itu tahun 2010 saya mendaftar dengan membayar Rp 4,5 juta. Saya kemudian didatangi petugas Kemenag untuk melunasi agar berangkat tahun itu. Namun saya tidak memiliki uang. Akhirnya kesempatan pertama tidak bisa saya tunaikan,” ungkapnya.

Baca Juga :  45 Jamaah Haji Berangkat Tahun Ini

Gagal meraih kesempatan pertama, tdak membuat Mbah Mul patah arang. Ia bahkan lebih bersemangat untuk menabnung. Akhirnya, tahun 2013 dia berhasil memenuhi tabungan hajinya. Berbekal tabungan haji yang sudah cukup, akhirnya diapun mengajukan permohonan untuk naik haji dari jadwal keberangkatan tahun 2017.

Ditengah keterbatasan fisiknya, Mbah Mul hanya bisa berdoa agar tetap sehat dan bisa menyelesaikan semua tahapan ibadah haji. Mbah Mul akan berangkat bersama 363 calon jamaah haji lainnya dari Gunungkidul untuk kloter 23 SOC.

Kepala Seksi Penyelanggaraan Ibadah Haji dan Umroh Kantor Kemenag Gunungkidul, Muhammad Yusuf, mengungkapkan Adi Muyono merupakan jamaah tertua baik dari Gunungkidul, bahkan DIY. Selain nama Adi Muyono Ngatiran, masih ada dua nama lagi yang usianya di atas 81 tahun. Keduanya adalah Muhadi Kromo Sentono, warga Dusun Tumpak, Ngawu Playen yang berusia 84 tahun dan Siti Sukaptinah warga Pati, Genjahan Ponjong dengan usia 82 tahun.(eru)