Kisah Syarif, Sarjana yang Sukses Jualan Bingke di Jalan

1451
Syarif, penjual bingke, jajajan khas Pontianak Kalimantan. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID —  Bagi Syarief, inilah prinsip sekaligus pilihannya. Pemuda usia 30 tahun asal desa Palimpahan Kecamatan Jawan Kabupaten Sambas Kalimantan Barat (Kalbar) itu setiap sore membawa gerobak dorongnya.

Dari asrama Kalbar Jalan Bintaran Tengah, dia mendorongnya menuju seberang selatan bekas Bioskop Permata Jalan Sultan Agung Yogyakarta. Gerobak itulah yang digunakan untuk berjualan bingke, makanan khas Pontianak.

Mengenakan pakaian kerja celana selutut, tshirt dan sandal jepit, sangat jarang orang mengetahui dia seorang sarjana Fakultas Teknik Jurusan Teknik Informatika Universitas PGRI Yogyakarta.

Diwisuda Desember 2017, dia mengaku sedikit bimbang memilih jalan masa depan, apakah akan mengembangkan usahanya ataukah secara lebih terencana menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Awalnya saya cenderung menjadi PNS. Tetapi banyak masukan untuk tetap melanjutkan dan membesarkan usaha kue bingke ini,” kata Syarief berbincang dengan koranbernas.id di tempat jualannya, Senin (05/02/2018) sore.

Sejak agak siang pembeli sudah datang dan pergi. Saking larisnya hari itu, sampai jelang Magrib dia terpaksa menolak pembeli. Semua pesanan bingke tinggal memanggang, bahkan sebagian sudah dibayar lunas.

Awal mula berjualan bingke itu, dia take over usaha milik Tomy. Pemuda asal Pontianak yang kuliah di akademi pariwisata itu sudah bertahun-tahun jualan bingke di sana.

Saat itu Syarief membantu Tomy sehingga dia tahu persis lika-liku bisnis tersebut. Sambil kuliah dia berjuang membangun masa depan.

Lebih merdeka

Gelar sarjananya ditempuh dalam waktu tujuh tahun. Bukan hanya karena dia nyambi jualan tetapi dua tahun dia sempat mencoba bekerja di sebuah hotel kawasan Tamansiswa sebagai resepsionis. Tetapi akhirnya dia kembali membantu Tomy karena merasa hidupnya lebih merdeka.

Bekal mematangkan usaha ini bertambah ketika Tomy diminta keluarganya menangani  proyek keluarga di Blora Jawa Tengah. “Adonan nanti aku ajari sehingga cita rasanya tidak berubah,” kata Syarief menirukan ucapan Tomy kala itu

Baca Juga :  Waspada Saat di Mesin ATM. Kenapa?

Lebih dari enam bulan akhirnya Syarief mampu mengendalikan bisnis bingke sekaligus menambah pengalaman dan keterampilannya.

Untuk mengambil alih usaha ini dia membeli perlengkapannya. Di antaranya, gerobak komplet yang sudah didisain jika musim hujan tinggal menarik tenda sehingga aman.

Meskipun koranbernas.id saat wawancara merasakan tampias lantaran hujan sangat deras, tetapi adonan, pemanggangan serta bingke matangnya tetap terlindungi. Meski sukses berjualan bingke, Syarif tidak ingin semangatnya kendor supaya dapat membangun bisnisnya lebih besar lagi.

Kerja berat

Dia sadar, semua itu harus ditebus dengan kerja berat, diawali dari belanja ke pasar pagi hari kemudian menyiapkan adonan. Waktu terus memburu. Apabila banyak pesanan dia membakar dulu sebagian bingke di asrama sebelum membuka lapak di trotoar.

Pulang berjualan Syarif tidak bisa segera istirahat tetapi harus membersihkan peralatan. Semua itu dijalani dengan gembira. Dari kerja kerasnya dia berhasil meraih keuntungan bersih sekitar Rp 2 juta per minggu. Penghasilan cukup besar untuk ukuran Kota Yogyakarta.

Bila Syarief dulu membantu Tomy, kini Syarief menjadi bos, dibantu Yudi, adik kandungnya. Lulusan SMA Sambas itu menunggu mendapat tempat kuliah di Yogyakarta sekaligus belajar mencari uang agar bisa mandiri.

Untuk apa hasil usaha sebesar itu? “Sebagian untuk mencicil pinjaman bank saat membayar perlengkapan pada Tomy sebesar Rp 35 juta. Sebagian saya kirim ke kampung untuk biaya sekolah adik bungsu saya,” kata Syarief.

Mengetahui usaha anaknya sewaktu menghadiri wisuda, kedua orangtua Syarief menyerahkan sepenuhnya pilihan itu pada anaknya. Jika memang nyaman, silakan diteruskan.

Berbeda dengan Tomy, saat ibunya datang ke Yogyakarta justru marah besar melihat Tomy yang dikirim untuk kuliah ternyata malah jualan di trotoar.

Baca Juga :  Dispora Bina Pelajar agar Tak Kena Narkoba

Di mata ibunya yang berlatar belakang keluarga PNS dan punya kedudukan, usaha Tomy itu dinilai tidak berkelas. Tetapi ternyata Tomy berhasil membuktikan usaha ini menghasilkan banyak uang. Di antaranya diwujudkan rumah luas dan bagus yang dibangun di Pontianak. Juga berbagai barang berharga.

Sedang bagi orangtua Syarief tidak masalah. Ibunya berjualan baju keliling dan ayahnya petani telah mengajar anaknya mandiri sejak kecil. Syarief membeli aneka sayuran, ubi, cabai dan dan sebagainya di kampung dan membawanya ke kota dengan sepeda motor, dijual di pasar atau keliling.

“Biasanya mulai Subuh saya mulai mencari dagangan. Kemudian menjual ke kota. Beruntung dulu sekolah saya di SMK masuk sore,” katanya. Baginya, kerja keras bukan hal baru.

Sementara ini dia membatasi jualan bingke sekitar 60 sampai 70 loyang saja. Harganya antara Rp 12.000 sampai Rp 15.000 tergantung varian rasanya.

Meski banyak sekali pelanggan kecewa karena kehabisan, tetapi pemuda lajang itu harus memperhitungkan kemampuan fisiknya. Baru nanti pada bulan Ramadan dia akan menambah menjadi sekitar 100 loyang karena permintaan selalu bertambah.

Enak dan empuk

Bingke makanan khas Kalbar yang berbahan dasar kentang, gandum, telur, santan, gula pasir dengan berbagai varian rasa itu memang enak dan empuk. Itulah sebabnya banyak pelanggan rela antre lama.

Pelangggan tidak hanya datang dari kota Yogyakarta tetapi ada juga dari Moyudan Sleman, Jalan Kaliurang, Bantul, Gejayan.  Jauh-jauh datang ke Jalan Sultan Agung hanya untuk bisa menikmati bingke yang lezat saat masih hangat maupun sudah dingin.

“Melihat animo pembeli cukup besar, saya punya obsesi bisa punya ruko agar usaha ini bisa berkembang. Tidak sekadar di trotoar,” kata Syarief mantap. (sol)