Koleksi Buah Langka di Bantul Ini Bikin Takjub

526
Pengunjung melihat koleksi kebun buah langka di Dusun Sundi Kidul, Argorejo, Sedayu, Rabu (18/10/2017) siang. (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Koleksi yang ada di Kebun buah langka Sedayu yang berlokasi di Dusun Sundi Kidul, Desa Argorejo membuat kagum mereka yang berkunjung. Seperti saat rombongan wartawan kepatihan datang ke tempat tersebut, Rabu (18/10/2017) siang. Puluhan wartawan berdecak kagum melihat berbagai koleksi. Kedatangan rombongan tersebut disambut Camat Sedayu Drs Fauzan Mu’arifin, Lurah Argorejo Ngadimin SH dan pengelola kebun buah langka.

“Kami datang kemari untuk melihat berbagai koleksi yang ada di kebun buan langkah sekaligus turut mempromosikanya melalui media masing-masing,” kata ketua rombongan EC Sukarmi dari Dinas Kominfo DIY.

Sukarmi menjelaskan, pihaknya menggandeng komunitas media sosial (medsos) untuk bisa mempromosikan hasil kunjungan ke Bantul.

Sementara salah satu peserta, Jati Herlambang mengaku takjub dengan berbagai koleksi yang ada di kebun buah langka tersebut.

Baca Juga :  Kirab Bregada Iringi Deklarasi Sahabat Jokowi Jogja

“Saya baru pertama datang kesini dan saya kagum dengan koleksi yang ada. Karena di tempat lain saya belum pernah melihat sebelumnya,” kata Jati yang asli Klaten tersebut.

Diantaranya buah kecapi jumbo,jambu air sempur, jamblang, dan buah lain. Dirinya mengaku setelah kedatangan pertama kali ini , akan berniat datang kembali suatu saat nanti dengan membawa keluarganya.

Sementara pengelola kebuh buah langka Farida Setiana mengatakan di kebun buah tersebut terdapat 350 koleksi buah dan sukar ditemui di tempat lain.

“Awalnya buah yang ditanam adalah koleksi pribadi dari pak Bonaventura Adi Nugroho, namun kemudian berkembang menjadi wahana wisata edukatif,”kata Farida.

Di tempat ini pengunjung bisa melihat aneka buah langka sekaligus mendapatkan penjelasan mengenai bagaimana untuk menanam, merawat hingga tanaman itu bisa tumbuh dan berkembang.

Baca Juga :  Dua Meninggal, Gempa Rusak Ratusan Rumah dan Masjid

“Koleksi disini memang jarang ditemui di tempat lain, karena memang tidak semua orang suka dengan buah yang dihasilkan. Seperti duwet atau jamblang karena memang buahnya cenderung asam,”katanya.

Namun pengelola tetap menyediakan seandainya ada yang ingin mengembangkan buah langka itu dengan menjual bibit yang ada. Untuk perawatan sendiri, pengelola mengutamakan konsep organik.

“Kita kedepankan organik, kecuali jika sudah tidak bisa barulah dengan kimia. Itupun dosisnya diturunkan,”katanya.

Dengan biaya Rp 10.000 per penunjung menurut Farida tidaklah mahal, dengan berbagai pengalaman dan edukasi yang didapatkan oleh peserta di tempat tersebut.

Selain ilmu, peserta juga boleh menikmati buah dari kebun tersebut dengan jumlah yang memang dibatasi mengingat jumlahnya yang tidak banyak. (yve)