Komodo yang Menghidupi Banyak Orang

538
Wisatawan berfoto di dekat komodo. (arie giyarto/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID  — Hari masih pagi ketika kapal  Codema IV membuang sauh di tengah laut. Penumpang turun ke speed boat lalu dibawa  melaju menuju dermaga Loh Liang, pintu gerbang masuk Taman Nasional Pulau Komodo (TNPK).

Tiba-tiba Irvan Mutholib dari travel agent  berteriak, “itu, komodo di pantai.” Semua mata memandang ke arah pantai. Ada seekor komodo berjemur. Ternyata ini salah satu tanda keberuntungan.

Tidak semua orang yang datang ke pulau itu bisa melihat komodo yang jauh-jauh ingin dilihatnya, kata pawang dalam briefing-nya. Juga disampaikan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh pengunjung.

Di antaranya tidak boleh membuat gerakan mengejutkan saat bertemu binatang langka itu. Bagi wanita yang tengah (maaf) datang bulan dilarang ikut serta. Karena komodo sangat sensitif bau darah, bisa tercium dari jarak lebih dari dua kilometer dan itu akan dicari.

Dimulai dari program paling pendek, keberuntungan itu jadi kenyataan. Di pinggir jalan setapak untuk pengunjung, baru beberapa ratus meter melangkah, tiba-tiba pemandu atau pawang minta semua untuk berhenti.

Ada dua ekor komodo di sana.  Badannya tersamar oleh warna cokelat sampah dedaunan aneka pohon yang terserak. Moncongnya menghadap ke arah jalan. Matanya terbuka, tetapi badannya tidak bergerak-gerak.

Rasa khawatir mencekam, tetapi sang pawang bilang tak perlu cemas dan mempersilakan bergeser ke belakang badan komodo.

Dengan batas ujung kayu senjata khasnya, satu per satu diberi kesempatan potret di belakang binatang sangat langka itu.

Sementara dua pawang menjaganya, dengan membawa sepotong kayu yang ujungnya bercabang. Bentuknya mirip kepala ketapel atau plintheng, namun kayu pegangannya panjang, hampir setinggi orang.

Selain dua komodo tadi, yang salah satunya berbadan terbesar dan umurnya sudah 32 tahun, tiba-tiba secara terpisah dari arah pantai berdatangan tiga komodo.

Posisinya pun berbeda.  Bahkan satu di antaranya tidak hanya berjalan tetapi mendongakkan kepala sehingga bagus diambil fotonya.

“Saat ini populasi komodo ada lebih dari 1.200 ekor, tersebar di seluruh  Taman Nasional Pulau Komodo,” kata Makassau, sang pawang yang tidak lepas dari kayu waru laut atau walikukun sebagai senjata untuk melindungi wisatawan yang datang ke sana.

Menjawab pertanyaan koranbernas.id, Jumat (29/12/2017), selain komodo, di pulau seluas lebih dari 300 kilometer persegi itu juga terdapat berbagai jenis binatang lain.

Sebut saja rusa liar, babi hutan, ular berbisa, burung gagak dan jenis burung lainnya. Mereka hidup rukun  tanpa saling mengganggu dengan sekitar 230 kepala keluarga yang tinggal di pulau itu.

Meski kelihatan malas dan berjalan merangkak perlahan, tetapi ternyata menurut Makassau, komodo bisa berlari dengan kecepatan 18 km per jam.

Puncak Pulau Padar, gugusan pulau dengan latar belakang laut yang berwarna menakjubkan. (arie giyarto/koranbernas.id)

Kuku-kukunya yang panjang dan runcing merupakan salah satu andalannya, selain lidahnya yang mampu menjulur dan menjilat panjang.

Ketika musim penghujan, komodo memang sering berjemur. Keluar dari hutan mencari hangatnya matahari. Komodo merupakan binatang kanibal, sehingga komodo kecil yang baru  menetas dari ratusan telur itu kemudian menyelamatkan diri naik ke atas pohon.

Hidupi banyak orang

Keberadaan komodo di pulau itu mampu menghidupi banyak sekali orang. Selain mereka yang terlibat dalam pelayanan pengunjung di bawah koordinasi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Manggarai Barat, sangat banyak orang yang mendapat rezeki darinya.

Para travel biro, pemandu wisata, penyedia fasilitas penginapan, usaha kuliner, pengusaha angkutan darat dan laut.

Pasar di pulau itu selalu ramai dikunjungi wisatawan. Para pedagang menjual aneka suvenir berupa kaos, kerajinan dengan bahan dasar dari laut, kain tenun khas, boneka komodo, juga mutiara air laut yang tidak sempurna proses alaminya.

Sederet penjual makanan di pinggir pantai, terutama dagangan kelapa mudanya yang banyak dicari karena lebih higienis.

Kehidupan yang keras memang tidak terhindarkan. Untuk mendapat rezeki, para pedagang tak hanya mengandalkan pembeli di pasar. Tetapi banyak yang menyongsong ke tengah laut.

Dengan speed boat, mereka mendatangi kapal yang tengah sandar di tengah laut. Menawarkan kalung, giwang, leontin mutiara kepada penumpang. Kata mereka, kadang dapat pembeli, kadang juga tidak  Padahal untuk operasional, mereka butuh solar. Tetapi itu sebuah risiko.

Mengunjungi Kabupaten Manggarai Barat tidak hanya melihat komodo saja. Masih banyak paket wisata menawan.

Seperti Loh Buaya di Pulau Rinca, Pantai Pink atau Pink Beach, Gua Batu Cermin, Air Terjun Cunca Rami, Air Terjun Cunca Wulang,  Danau Sano Nggoang, Istana Ular bagi pecinta reptil berbisa, Taman Karangkuk Alu.

Semuanya memiliki pesona tersendiri, dan indah luar biasa karena kuasa Allah. Bagi yang suka diving dan snorkeling, di sanalah salah satu surganya.

Fasilitas pendukungnya pun tersedia. Mau tinggal di hotel berbintang  atau homestay yang sederhana, tinggal menyesuaikan kemampuan kantong.  Maupun ingin akrab dengan kehidupan masyarakat setempat.

Liburan mendatang sudah bisa dirancang. Daripada berwisata mahal ke Singapura yang hanya melihat belantara beton yang gersang, Labuan Bajo dan Manggarai Barat bisa jadi pertimbangan.

Suasananya memang beda, tetapi wisata alam lebih menyejukkan hati. Ke Labuan Bajo jangan mencari mal, karena artshop saja hanya ada satu.

Di antara barang-barang khas daerah seperti tenun NTT yang cantik, pernak-pernik, kopi Manggarai, ada juga kipas perca batik produk  Bangunjiwo Kasihan Bantul.

Kipas kecil yang bisa dipesan dalam jumlah banyak dengan harga Rp 1.500 per biji itu, jangan terkejut di sana dijual Rp 15.000. Mata rantai perdagangan sangat panjang selalu saja menempatkan produsen pada penerima bagian paling kecil.

Ayo, kita ke Labuan Bajo, untuk menghidupkan dan menghidupi pariwisata di negeri sendiri. Daripada membuang devisa ke negeri orang,  saudara-saudara kita di Indonesia Timur sana masih perlu rangkulan hangat kita. Sekalian lebih menanamkan rasa cinta pada negeri kita, Indonesia.  (sol)