Kontes Robot Indonesia Kembali Digelar

Diikuti 91 Tim dari 48 Perguruan Tinggi, UMY Jadi Tuan Rumah

177
Dari kanan, Wahidin Wahab, Hilman Latief dan Sri Atmaja P Rosyidi menyampaikan penjelasan dalam Press Conference KRI Nasional 2018 di Sportorium UMY, Senin (10/07/2018). (yvesta putu sastrosoendjojo/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Sejumlah 91 tim dari 48 perguruan tinggi mengikuti Kontes Robot Indonesia (KRI) Tingkat Nasional 2018. Kali ini, untuk kedua kalinya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dipercaya oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk menggelar acara bergengsi tersebut.

Gelaran KRI Nasional 2018 bertema inteligently think, mechanically linked itu berlangsung di Sportorium Kampus Terpadu UMY Jalan Lingkar Selatan Bantul, Selasa hingga Jumat (10-13/07/2018).

Dipertandingkan lima kategori robot yaitu Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI), Kontes Robot Pemadam Api Indonesia (KRPAI),  Kontes Robot Sepakbola Indonesia (KRSBI) Humanoid, Kontes Robot Sepak Bola Indonesia (KRSBI) Beroda dan Kontes Robot Seni Tari Indonesia (KRSTI).

“Sama seperti gelaran KRI sebelumnya yang selalu memiliki tema berbeda tiap tahun, kompetisi kali ini pun memiliki perbedaan teknis lomba dan penilaian tiap divisinya,” ungkap Sri Atmaja P Rosyidi ST MSc Eng Ph D selaku Ketua Panitia KRI 2018, Senin (09/07/2018), dalam konferensi pers di Sportorium UMY.

Dia didampingi Wakil Rektor UMY Bidang Kemahasiswaan Hilman Latief MA PhD serta Ketua Dewan Juri KRI Nasional 2018 Ir Wahidin Wahab MSc PhD, yang juga dosen Universitas Indonesia (UI).

Menurut Sri Atmaja, Kontes Robot ABU Indonesia (KRAI) memiliki tema cukup unik yaitu Lempar Bola Berkah, yang mengadaptasi tema tema kompetisi ABU Robocon tingkat internasional yang akan diselenggarakan di Ninh-Binh Vietnam Agustus 2018.

Juara KRAI 2018 akan menjadi wakil Indonesia ke Vietnam. Sedangkan pada KRPAI Berkaki 2018 mengusung tema Robot Pemadam Api Berkaki sesuai tema yang telah ditentukan oleh Penyelenggara Trinity College International Robot Contest (TCIRC).

Kemudian, tema untuk kategori KRSBI Beroda adalah Sepak Bola Robot Menuju Liga Sepak Bola Robot Tahun 2050.

Sri Atmaja menambahkan KRI Nasional 2018 menjadi wahana unjuk kemampuan dan karya. Ini merupakan respons dari perkembangan minat pelajar dan mahasiswa dalam bidang robotika sekaligus sebagai persiapan untuk menjawab tantangan revolusi industri keempat.

“KRI menjadi wahana bagi seluruh kontingen untuk menunjukkan kemampuan rancang bangun dan ketangkasan robotnya,” kata dia.

KRI 2018 dimulai dengan gelaran simposium mempresentasikan ide robot dari masing-masing peserta simposium. “Khusus peserta KRSBI yang wajib mengikuti simposium, mereka memberikan presentasi rancang bangun dari robot yang mereka bangun, mulai dari konsep awal hingga proses perakitannya. KRI yang dibuka oleh Menristekdikti ini selanjutnya diikuti pelaksanaan setiap kategori perlombaan secara simultan,” terangnya.

Ketua Dewan Juri KRI Nasional 2018 Ir Wahidin Wahab MSc PhD menambahkan peserta yang berpartisipasi dalam kompetisi nasional ini patut bangga.

“Untuk sampai tahap nasional ini para peserta harus melewati proses cukup panjang. Mulai dari pengumpulan proposal desain robot serta melewati tahap evaluasi dari para juri maupun perakitan robot yang lolos tahapan evaluasi hingga kompetisi tingkat regional,” ujarnya.

Dia mengakui, perkembangan robotika di kalangan pelajar dan mahasiswa di Indonesia cukup pesat. Hal tersebut juga dibarengi dengan berbagi prestasi yang dicapai mereka dalam berbagai kompetisi.

“Tim Politeknik Elektronik Negeri Surabaya (PENS) yang mewakili Indonesia dalam ajang Trinity College Fire Fighting Home Robot Contest (TCFFHRC). PENS berhasil meraih juara 1 kontes robot internasional tersebut,” ujarnya lagi.

Yang menarik, KRI 2018 kembali menghadirkan kontes robot tari. Inilah ciri khas dari perlombaan robotika yang diadakan Indonesia.

“Kontes robot tari ini sudah kita mulai sejak 2009 dan ingin kita jadikan sebagai sebuah ciri dari kontes robot Indonesia. Kategori tari yang diperlombakan berasal dari berbagai kebudayaan di Indonesia. Mulai dari tari Piring,  Tari Jaipong dan tahun ini kami mengangkat tari Remo sebagai tema kontes robot tari KRI 2018,” paparnya. Kontes robot tari sekaligus sebagai usaha untuk melestarikan kebudayaan.

Bagi UMY, sambung Hilman Latief, ajang KRI 2018 sangat strategis untuk mempromosikan UMY lebih khusus lagi DIY dan Kabupaten Bantul. Sebab, acara ini gratis dan dihadiri sekitar 3.000-an orang. Di akhir acara peserta kontes robot melakukan city tour berkunjung ke lokasi wisata yang tidak mainstream.

“Peserta tinggal di UMY, tidak di hotel yang jauh. Mudah-mudahan ini menjadi ajang promosi bagi kampus UMY. Kami juga mengundang pelajar SMA dari Jawa Tengah agar tertarik dan nantinya bisa ikut berkontribusi,” kata dia. (sol)