Korban Kekeringan Berjuang Demi Setetes Air

185
Bupati Gunungkidul, Badingah, melepas armada droping air gratis. (st aryono/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID – Terik panas matahari semakin menyengat. Hujan yang selama ini menjadi nadi kehidupan sebagian besar masyarakat Gunungkidul, menghilang. Bak Penampungan Air Hujan (PAH) dan telaga yang menjadi andalan masyarakat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, terus menyusut, bahkan mengering.

Akibatnya, ratusan ribu warga Kabupaten Gunungkidul, kesulitan untuk mendapatkan air bersih. Mereka berjuang demi memperoleh setetes air yang selama ini menjadi penyambung kehidupan. Warga korban kekeringan pun terpaksa harus membeli air dengan harga sekitar Rp 130.000 per tangki berisi 5.000 liter. Ini bagi warga berekonomi cukup mungkin tidak masalah. Namun ketika ini harus dialami penduduk miskin, tentu menjadi masalah besar.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melakukan langkah darurat penanganan bencana kekeringan dengan droping air, atau bantuan air bersih secara gratis khusus bagi warga miskin.

Berdasarkan data BPBD Gunungkidul hingga Jumat (18/08/2017) korban kekeringan sudah menembus 132.681 jiwa, di 331 dusun, 44 desa tersebar di 8 kecamatan. “Delapan kecamatan meliputi Rongkop, Paliyan, Panggang, Girisubo, Purwosari, Tepus Tanjungsari dan Kecamatan Nglipar,” kata Budhi Harjo, Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul.

Baca Juga :  Seleksi Pejabat Digelar Terbuka

Menurut dia, melalui program droping air itu BPBD setiap harinya mengerahkan 7 armada tangki, masing-masing tangki melayani 4 rit per hari, sehingga ada 28 tangki air bersih disalurkan kepada warga miskin dalam setiap harinya. “Hingga kini sudah ada sekitar 1.000 rit tangki diserahkan warga di 8 kecamatan. BPBD tahun ini tersedia dana Rp 600 juta, untuk 3.000 rit tangki,” jelasnya.

Berdasarkan hasil koordinasi dengan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) Yogyakarta puncak musim kemarau pada Agustus ini. Untuk wilayah Gunungkidul diperkirakan hujan baru turun sekitar awal Oktober mendatang.

Swasta bergerak

Penyediaan air bersih tidak hanya bergantung pada pemerintah kabupaten. Hingga kini sudah banyak lembaga swasta bergerak memberikan bantuan air bersih secara gratis. “Kepedulian pihak lain sangat kami harapkan untuk mengurangi beban penderitaan warga korban kekeringan ini. Selama ini juga sudah banyak yang memberikan bantuan,” ucap Budhi Harjo.

Baca Juga :  Polisi Bekuk Sindikat Pencuri Truk dari Jejak IT yang Terlacak

Terpisah, Camat Girisubo Sukamto mengaku jumlah warganya yang kesulitan air bersih tahun ini mencapai 23.880 jiwa atau 5.970 KK (Kepala Keluarga). “Dibanding kecamatan lain, Girisubo paling parah. Karena sumber air tidak ada, sehingga warga hanya mengandalkan droping air,” tuturnya.

Meski bantuan banyak mengalir, namun belum mampu memenuhi kebutuhan penduduk. “Di antara warga masih membeli air lewat pedagang swasta. Satu tangki berisi 5.000 liter dengan 5 anggota keluarga, bisa untuk mencukupi kebutuhan sekitar 10 hari. Ini saja penggunananya harus irit,” ucapnya.

Hal ini juga diakui, Ngatiyo warga Desa Pucung Kecamatan Girisubo. Hingga pertengahan Agustus ini dirinya sudah membeli 2 tangki air melalui pedagang swasta. “Untuk membeli air saya menjual kambing. Hewan ini memang sudah saya persiapkan untuk membeli air saat kemarau,” jelasnya. (ryo)