Korban Teror Gereja Bedog: “Saya Menerima Mukjizat Tuhan…”

13117
Budijono menggunakan sweater berkerudung untuk menutupi lukanya. (Foto: Putut Wiryawan/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID — Masih segar melintas dalam benak Budijono (44), bagaimana Minggu pagi (11/2/18) itu ia dan keluarganya berangkat ke gereja untuk menjalankan ibadah misa mingguan dalam suasana damai. Udara pun cerah mengiringi langkah umat Katholik di wilayah Stasi Bedog menuju gereja megah yang selesai dibangun tahun 2005. Misa hari itu adalah misa hari Minggu terakhir sebelum datangnya Rabu Abu atau masuk masa pra paskah; awal dilakukannya puasa dan pantang bagi umat Katholik.
Koor pengiring misa kebetulan jatuh giliran umat Katholik Lingkungan Nogotirto 2. Budijono adalah umat yang termasuk warga Lingkungan Nogotirto 4. Namun, setiap kali salah satu lingkungan dari Desa Nogotirto mendapat giliran koor, lingkungan lain satu desa spontan membantu.

Pagi itu, Budijono momong anaknya yang masih berumur 21 bulan, karena sang istri sedang membantu koor. Si kecil, dengan ceria berlarian di halaman dalam gereja. Menjelang kejadian, si kecil sedang berlari menuju jalan masuk gereja bagi kaum difabel atau lansia. Takut si anak terjatuh, Budijono bergegas menuju ke tempat anaknya bermain, yang berdekatan dengan pintu gerbang gereja.
Saat itulah, ia tiba-tiba merasa dipukul dari belakang. Ia terkena sabetan pedang Suliyono di bagian kepala belakang dan leher. Budijono jatuh tersungkur, Tubuhnya bersimbah darah.

“Mungkin saya sempat pingsan. Karena saya tidak ingat apa-apa. Ketika saya terbangun, sudah banyak umat berhamburan lari keluar dari dalam gereja,” tutur Budijono kepada wartawan, seusai mengikuti misa koselebrasi di Gereja Santa Lidwina Bedog, Jumat malam (16/2/18).
Ia mengaku, setelah terkena pukulan masih sempat berpikir keselamatan anaknya. Budi mengumpulkan kekuatan untuk berusaha menyelamatkan anaknya. “Saking kerasnya berpikir itu, mungkin yang menjadi kekuatan bagi saya untuk bangun, mencari anak saya dan membopong anak saya ke belakang. Saya titipkan kepada tetangga saya yang sudah sepuh dan berada di ruang belakang gereja,” kisahnya.

Setelah menitipkan anak, Budijono membonceng sepeda motor menuju RS Queen Latifa di pinggir Jalan Ring Road Barat, tidak jauh dari gereja. Setelah pendarahan cukup dihentikan, saya dirujuk ke RS Akademik UGM, Kronggahan. “Di sana saya mendapat perawatan lebih lengkap. Luka saya dijahit. Kalau di bagian leher ini mungkin sekitar 15 jahitan,” kata Budi sambil menunjuk bagian leher yang terkena sabetan.

Bagian kepala dan leher Budijono yang terluka. (Foto: Putut Wiryawan/koranbernas.id).

Di RSA UGM, bagian kepala dan leher Budi diperiksa dengan CT Scan. “Setelah hasil CT Scan keluar, saya kemudian dipindah ke RS Panti Rapih untuk mendapat perawatan lanjutan,” tambahnya. Di RS Panti Rapih, Budi menjalani rontgen.

Ia menuturkan, hasil CT Scan dan rontgen, semua baik. Tidak ada masalah dengan kepala dan leher. “Saya sungguh mendapat mukjizat dari Tuhan. Kalau luka di leher saya ini lebih dalam satu centimeter saja, otot penting dan pokok akan terputus. Kepala saya juga tidak apa-apa. Hanya luka biasa. Padahal, kalau secara nalar, sabetan keras itu luka saya parah. Tapi tidak. Saya juga merasakan mukjizat lain. Saya sampai sekarang tidak merasakan sakit sama sekali. Saya bisa beraktifitas biasa. Berlari pun saya masih sanggup. Tidak terasa sakit apa-apa,” ucapnya bersyukur.

Budijono, dirawat inap di RS Panti Rapih sejak kejadian sampai Rabu siang (14/2/18) diizinkan pulang.

Menjadi korban serangan teroris, Budijono mengaku tidak takut. Perasaannya biasa saja. Bahkan, ia mengaku imannya menjadi semakin kuat.

Ny. Mariana Sumartiyah Subroto. (Foto: Putut Wiryawan/koranbernas.id)

Seperti Drama

Dirigen koor misa Minggu berdarah, Ny. Mariana Sumartiyah Subroto menuturkan, pagi itu, misa baru berjalan 10 menit. Kami baru melantunkan “Kemuliaan”. Tiba-tiba ada orang berteriak-teriak masuk ke gereja.

“Saya kaget dan terpana. Saya sempat menduga, apakah misa hari ini ada dramatisasi? Kok mirip drama. Dan saya kok tidak diberitahu kalau ada dramatisasi?”, kata Ny. Sumartiyah umat dari Lingkungan Nogotirto 2.

Beberapa saat kemudian, ia baru tersadar dan ikut berlari ke luar gereja, setelah banyak umat berhamburan.

Pada misa koselebrasi Jumat petang (16/2/18), Ny. Sumartiyah juga bertindak sebagai dirigen koor. Dan, sepertinya tak ada sisa ketakutan membekas pada pensiunan guru SMP 10 Yogyakarta itu. (iry)

.