Kota Tanpa Kumuh Karangwaru Juara Nasional

637
Boby Ali Ashari, Kasubdit Kawasan Pemukimam Perkotaan Dit PKP Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR RI, memberikan penghargaan di nol kilometer Karangwaru Riverside, Sabtu, (21/10/2017). (istimewa)

KORANBERNAS.ID — Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Tridaya Waru Mandiri Karangwaru mengharumkan nama Kota Yogyakarta. Program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) yang dikembangkan selama ini berhasil meraih penghargaan di tingkat nasional.

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI menetapkan Karangwaru sebagai BKM terbaik tingkat nasional dalam ajang BKM Award 2017. Penghargaan BKM Award ini berkaitan dengan program Kotaku.

BKM Award diikuti oleh sekitar lebih dari 2.500 BKM di seluruh Indonesia. Di tahun 2017 ini, ada tiga BKM mendapatkan anugerah yakni di yang ada di Kendari, Yogyakarta dan Bandung.

“Kotaku merupakan program kekinian dan selalu menjawab tantangan baru,” ujar Boby Ali Ashari, Kasubdit Kawasan Pemukimam Perkotaan Dit PKP Dirjen Cipta Karya Kementerian PUPR RI, Menteri PUPR RI dalam penyerahan penghargaan di nol kilometer Karangwaru Riverside, Sabtu, (21/10/2017).

Menurut Boby, sejak 1999 isu program tersebut terus mengikuti jaman. Tahun 1999 hingga 2016 berbicara masalah kemiskinan sedangkan tahun 2017 berbicara masalah pemberdayaan.

Baca Juga :  Puluhan Wisatawan Disengat Ubur-ubur Beracun

Kotaku dinilainy merupakan program yang luar biasa. Karenanya perlu dibuatkan sebuah buku sebagai bahan cerita bagi generasi sesudahnya. Boby berharap BKM Karangwaru mendokumentasikan kegiatan mereka dari tahun1999 – 2017 dalam sebuah buku.

“Saya yakin pembangunan seperti ini tidak mudah. Ada cerita dibalik pembangunan ni. Nah kadang kala kita semua mau belajar dari peristiwa itu. Ada cerita bagaimana proses awal bisa membongkar rumah, membebasan lahan. Ini semua harus direkam dalam sebuah buku agar generasi kita selanjutnya bisa tahu bagaimana proses sampai terjadi dengan saat ini,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi mengungkapkan apa yang diraih Karangwaru merupakan kebanggaan bagi warga masyarakat Kota Yogyakarta. Penghargaan ini merupakan bukti kerjasama dan gotong royong antara warga, pemerintah , dunia pendidikan, dan swasta.

Baca Juga :  Wisatawan Kangen dan Ingin Kembali

“Pemerintahan pusat, propinsi dan kota tidak akan bekerja maksimal dan tidak bisa ikut membangun warga dan seluruh lingkungannya kalau tidak ada partisipasi dari masyarakat,” ungkapnya.

Membangun itu tidak dapat dilakukan sendiri, tetapi harus dilakukan secara bersama sama atau gotong-royong.

“Bahasa pak Gubernur, ayo saiki keroyokan wae,” ujar Heroe menyitir ucapan Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

Keroyokan yang dimaksud adalah bagaimana pusat dan daerah berbagi beban dalam hal pendanaan.

“Keroyokan itu, pemerintah pusat ada alokasi dana apa, pemerintah propinsi alokasi adana apa, pemerintah kota alokasi dana apa, dikeroyok supaya segera selesai persoalan pembangunannya,” ungkapnya.

Heroe menambahkan, Pemkot Jogja akan mengalokasikan anggaran pemeliharaan yang berkaitan dengan program Kotaku. Anggaran ini nantinya berada di Camat tetapi pelaksana operasionalnya berada di kelurahan.(yve)