Kritisi Fenomena Pasangan Calon Tunggal

197

KORANBERNAS.ID–Munculnya fenomena pasangan calon tunggal di tahun 2015, bisa jadi merupakan bentuk kritik terhadap keadaan partai politik.

Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu)  Republik Indonesia, Abhan menyatakan hal tersebut ketika dikonfirmasi terkait peluncuran buku keduanya “Pasangan Calon Melawan Kolom Kosong” yang ditulis bersama staf ahlinya, Asep Mufti dan Achwan,  Kamis (2/11/2017).

“Bahkan suasana kemunculannya sama seperti ketika pasangan calon perseorangan mulai diperbolehkan di tahun 2007. Secara hukum,  keduanya sama-sama berawal dari putusan Mahkamah Konstitusi,”lanjut Abhan.

Lebih lanjut diuraikan dalam bukunya tersebut,  pasangan calon tunggal menjadi problematik tatkala pemilih di daerah dimana pilkada diadakan, tidak seluruhnya menginginkan pasangan calon yang ada sebagai pemimpin di daerahnya.

Baca Juga :  Lima Aspek Ini Tentukan Kualitas Pemilu

Lalu mereka,  yang kontra dengan pasangan calon, mulai mengorganisir diri untuk mengkampanyekan pilihan politiknya. Akan tetapi regulasi terkait dengan pemilihan belum mengatur perihal itu.

“Maka yang terjadi, seperti di Kabupaten Pati, kegiatan-kegiatan relawan kotak kosong kerap dihalang-halangi oleh aparat dengan alasan keamanan,”tambah Abhan.

Sebelumnya Abhan yang juga pernah menjadi Ketua Bawaslu Jateng  telah meluncurkan buku pertamanya pada September 2016 berjudul “Jejak Kasus Pidana Pemilu, Catatan Penegakan Hukum Pemilu di Jateng”.

Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu Republik Indonesia, Hardjono dalam testimoni untuk buku tersebut menyatakan bahwa sejatinya di Indonesia sudah banyak pengalaman penyelenggaraan pemilihan yang hanya terdapat satu calon (bukan pasangan calon)  pada tingkat pemilihan Kepala Desa (Pilkades).

Baca Juga :  Ketua Panwas Banyumas Meninggal Dunia Saat Bertugas

“Umumnya disebut Melawan Bumbung kosong.  Bumbung kosong adalah ruas bambu yang kosong,” katanya.

Praktek umumnya, pemilih diminta memasukkan gambar atau foto atau semacam lidi dalam dua bumbung.

Jika dalam suatu pemilihan ternyata lebih banyak yang memasukkannya ke dalam bumbung kosong, maka calon tersebut dinyatakan kalah.

Konsep inilah yang sudah diterapkan dalam Pilkada 2015 dan 2017 yang hanya diikuti satu pasangan calon.(SM)