KSM Subur Makmur Gayamprit Bangga Kampung Bersih dari Sampah 

332
Dua pengurus KSM Subur Maknur Kelurahan Gayamprit , masing-masing Agus Tris Supardianto (kiri) dan Kabul Raharjo (kanan) saat memperlihatkan paving plastik produksinya di Bank Sampah Gayamprit. (Masal Gurusinga)

PUKUL 10:00 Wib. Terik sang surya mulai terasa di Gayamprit Klaten Selatan. Dua warga setempat, yakni Agus Tris Supardianto dan Kabul Raharjo tampak bersih-bersih di samping bank sampah di kampung sekitar rumah.

Tidak lama berselang, datang warga lain ke bangunan berwarna hijau di ujung kampung. Begitulah aktivitas mereka yang tidak lain adalah pengurus bank sampah di lingkungannya.

“Kalau semua kegiatan sudah selesai, kami pulang dan menggarap tugas yang lain,” kata mereka saat menerima kedatangan koran bernas di bank sampah yang mereka kelola pada Sabtu (24/2).

Agus merupakan Ketua KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat) Subur Makmur. Sedangkan Kabul adalah wakil ketua. KSM Subur Makmur dibentuk untuk mengelola bank sampah yang dibangun Pemkab Klaten pada tahun 2015. Selain bangunan, KSM juga menerima peralatan lain berupa mesin pencacah sampah, kendaraan roda tiga untuk operasional pengangkut sampah,  tong sampah dan sak sampah.

Selain peralatan itu, kampung tersebut juga menerina mesin jahit yang fungsinya untuk menjahit sampah-sampah yang punya nilai ekonomis menjadi sampah kreasi.

KSM Subur Maknur memiliki tugas untuk mengelola sampah warga di empat RW yakni RW 5, RW 6, RW 7 dan RW 8. Setiap hari setidaknya 2 kali petugas mengambil sampah warga menggunakan kendaraan roda tiga. Sampah tersebut selanjutnya dibawa ke bank sampah.

Baca Juga :  Terbentuk FKP PDAM, Pelanggan Boleh Sedikit Lega

“Setelah sampah warga ditumpuk di bank sampah, harus disortir terlebih dahulu untuk memilah sampah plastik dan organik. Kalau sampah plastik bisa diolah menjadi paving, sedangkan rosok bisa dibuat jadi sampah kreasi seperti sandal dan tas. Sampah berupa daun-daunan dicacah menjadi pupuk kompos,” ujar Agus

Khusus produksi paving dari sampah plastik butuh bahan baku yang cukup banyak. Untuk membuat 1 unit paving plastik saja butuh 3 kilogram plastik. Paving plastik wujudnya seperti paving berbahan pasir dan semen. Hanya saja karateristik paving plastik lebih ringan namun kuat.

Selama ini, paving plastik produksi KSM Subur Makmur baru dicetak dalam jumlah terbatas. Sebab untuk memproduksi dalam volume lebih besar, masih terkendala bahan baku dan alat cetak.

Agus yang sehari-hari bekerja di RSJ Dr RM Soejarwadi Klaten mengaku senang bisa bekerjasama dengan tim yang mengedepankan keikhlasan. Meski ada yang menilai kegiatan itu tidak bernilai karena selalu bergelut dengan bau namun mereka tetap dengan senang hati menjalaninya. Diakui, selama menjadi pengurus KSM Subur Makmur ada banyak suka duka yang dihadapi di lapangan.

Baca Juga :  Ada THL di Pasar Klaten, Benarkah ?

Sukanya kata dia, senang dan bangga bisa menjadikan kampung bersih. Sedangkan dukanya, karena kesadaran warga tentang sampah masih kurang. Meski di depan rumah sudah ada tong sampah, tak sedikit warga tetap saja ada yang mencampur sampah organik dan anorganik. Seperti daun dicampur kaca, plastik, properti bahkan pembalut.

Seiring dengan berjalannya waktu dan mengingat masih adanya lahan yang tidak produktif, KSM Subur Makmur terus berusaha untuk mengembangkan unit usaha lain. Usaha tersebut dengan membuat kolam budi daya ikan dan menanam sayur-sayuran serta apotek hidup.

Bambang Subiyantoro, staf Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Kabupaten Klaten mengatakan saat ini ada 50 lebih bank sampah di wilayah tersebut. Bank sampah itu ada yang dibangun Pemkab Klaten dan ada juga oleh perusahaan-perusahaan melalui program CSR (Customer Social Responsibility).

Bank sampah tersebut kata dia, dikelola oleh KSM warga sekitar yang fungsinya bisa mengelola sampah masyarakat yang bisa memberikan nilai ekonomis dan menciptakan lingkungan bersih.

“Bersih itu harus diawali dari diri kita sendiri,” papar Bambang. (SM)