Kualitas Pendidik PAUD Harus Ditingkatkan

444
Narasumber membawakan tepuk PAUD saat seminar nasional “Membentuk Karakter Anak Usia Dini di era Digital” yang digelar STIKIP Catur Sakti Bantul di Gedung Induk Kompleks Parasamya, Sabtu (28/04/2018). (sari wijaya/koranbernas.id)

KORANBERNAS.ID–Sekolah Tinggi Ilmu Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STIKIP) Catur Sakti Bantul menggelar seminar nasional “Membentuk  Karakter Anak Usia Dini di Era Digital” di Gedung Induk Kompleks Parasamya, Sabtu (28/04/2018). Seminar  bekerja sama dengan Koran Bernas ini menghadirkan keynote speaker Bupati  Bantul, Drs H Suharsono serta narasumber yakni  Dr Hj Gunartati Mpd, Dr Edi Subarkah MM, MPd Kepala STKIP Catur Sakti, Rr Dwi Suwarniningsih dari Himpaudi DIY, Nuwuningsih Mpd dari KB-TK Laboratori Pedadogia FIP UNY dengan moderator Kaprodi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) STKIP Catur Sakti, Choirun Nisa’a Mpdi.

Ketua Yayasan Catur Sakti, Drs Sukardiyono mengatakan  bangga karena di Kabupaten Bantul jumlah Paud mencapai  935 Paud. Ini artinya untuk satu pedusunan ada yang lebih dari satu Paud .

“Banyaknya Paud ini ternyata belum dibarengi dengan tenaga pendidik  yang berkualifikasi  sesuai dengan bidangnya. Masih banyak pendidik Paud lulusan SMA atau SMK, dan perkiraan saya jumlahnya sekitar 45 persen,”katanya.

Untuk itulah, STIKIP Catur Sakti memberikan kesempatan kepada semua guru Paud untuk bisa melanjutkan  pendidikan ke kampus yang berlokasi di Jalan Dr Wahidin Sudirohudoso  Bantul (Depan RSUD Panembahan Senopati,red).  Di kampus ini ada prodi Pendidikan Luas Sekolah (PLS) dengan konsentrasi pendidikan usia dini dan peningkatan kapasitas SDM.

“Kita berkomitmen untuk mendampingi pendidik Paud meningkatkan kualifikasi pendidikanya,”katanya.

Pengamat pendidikan DR Gunartati Mpd  dalam materinya mengatakan saat ini gadget merupakan hal yang tidak bisa dihindari kehadiranya. Karena  hampir setiap rumah memiliki gadget, bahkan ada juga yang setiap anggota keluarga memiliki sendiri-sendiri.

“Tentu kehadiran gadget di era digital ini menjadi dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan,” ujarnya.

Di sisi lain memberikan dampak positif, namun di sisi lain memberikan dampak negatif.  Karena jika tidak diawasi, bisa saja seorang anak itu akan membuka konten yang tidak semestinya. Dan hal itu  akan berpengaruh terhadap karakter seorang anak.

“Lalu bagaimana mensinergikan  anak usia dini dengan teknologi digital? Maka  di struktural harus ada literasi digital pada kurikulum sekolah, sehingga anak tidak gaptek.  Kadang dalam pembelajaran, perlu juga membuat power point sehingga anak akan mengenal dunia IT,” tandasnya.

Sementara Dra Dwi Suwarniningsih Spd mengatakan kemajuan digital berpengaruh  pada anak usia dini, orang tua dan masyarakat.

“Kita harus sadari bahwa usia sini adalah masa emas sebagai  cerminan masa depan. Jika usia dini tidak baik mencerminkan masa depannya seperti apa. Untuk itulah kita harus hati-hati sekali memperlakukan anak di usia emas ini,”katanya.

Sehingga tri pusat pendidikan yakni orang tua, keluarga dan mansyarakat harus bersinergi dalam menciptakan pendidikan yang berkualitas. “Pada anak usia dini, gadget membantu meningkatkan kreatifitas anak usia dini dengan pengenalan dan penggunaan gadget yang sesuai dengan porsinya.  Juga membantu dalam hal mencari informasi cepat melalui internet, sebagai alat komunikasi yang memudahkan bertukar pesan serta sebagai hiburan atau games.

“Tapi hati-hati jangan main  games terus, karena anak itu bisa  menjadi temperamental ,autis dan depresi pada anak. Karena sejatinya  mereka butuh melakukan sosialisasi ,” katanya. Untuk itu  orang tua harus memperhatikan permainan anaknya baik di HP atau komputer serta mendampinginya.

“Gadget juga menyebabkan anak kurang bergerak, akibatnya  bisa timbul obesitas pada anak,”katanya.

Maka salah satu cara untuk mengatasi atau mengalihkan perhatian anak pada gadget adalah dengan pembelajaran home base. Misalnya mengajak anak untuk terlibat dalam kegiatan orang tua seperti bersih-bersih rumah, memasak dan kegiatan lainnya.

Nuwuningsih mengatakan banyak anak yang mengalami hambatan perilaku akibat gadget dan tidak bersosialisasi  dengan lingkungan.

“Banyak kasus yang ada di tempat kami, bahkan 80 persen dari satu kelas mengalami hambatan perkembangan. Di sisi lain mereka banyak sekali permainan di rumah, tetapi mereka tidak punya teman sebaya,”katanya.  Maka sebaiknya orang tua tidak terlampau memanjakan anak, dan mengerti  segala keinginanya, karena bisa berdampak tidak baik bagi anak tersebut.

“Dalam kasus yang kami tangani, mereka itu banyak permainan, segala macam komplit di rumah, Namun mereka tidak tahu berbagi, empati, kasih sayang. Karena mereka cenderung temperamental,cepat kehilangan kendali dan tidak tertarik dengan lingkunganya”katanya. Untuk itu perlu kiranya menerapkan starategi Kopi yakni Konseling dan Terapi (Kopi). (yve)